Merombok, 14 Juni 2026 – Perayaan Ekaristi Minggu di Paroki Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok tidak hanya menghadirkan sukacita melalui penerimaan Sakramen Baptis bagi Maria Destefani Limba dan putrinya, Gearsila Ensten Jenudin. Di tengah suasana khidmat dan penuh syukur itu, perhatian umat juga tertuju pada sosok seorang dirigen cilik yang memimpin koor dewasa dengan penuh percaya diri.

Dalam misa yang dipimpin oleh RD. Antonius Sanor tersebut, koor yang bertugas berasal dari KBG Santa Maria Fatima. Namun yang membuat pelayanan koor hari itu terasa istimewa adalah kehadiran Klaudio Saputra Mado, seorang siswa kelas IV SDN Kaper, yang dipercaya menjadi dirigen bagi para anggota koor yang sebagian besar merupakan orang dewasa.
Dengan gerakan tangan yang mantap, penuh semangat, dan penguasaan tempo yang baik, Klaudio memandu jalannya lagu-lagu liturgi sepanjang perayaan. Meski usianya masih sangat muda, ia mampu mengarahkan para penyanyi dengan tenang dan tepat sehingga koor dapat mengiringi Ekaristi dengan baik dan khidmat.
Penampilannya yang percaya diri mengundang kekaguman banyak umat. Tidak sedikit yang memperhatikan bagaimana ia memberikan aba-aba kepada para anggota koor serta menjaga kekompakan nyanyian dari awal hingga akhir perayaan.
Bakat Klaudio tidak tumbuh begitu saja. Putra pasangan Gregorius Mado dan Rofina Lium ini mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya yang sejak dini mendorongnya untuk aktif terlibat dalam berbagai pelayanan di gereja. Menyadari potensi yang dimiliki putra mereka, Gregorius dan Rofina juga mempercayakan proses pengembangan bakat Klaudio kepada Paulus Susanto, yang selama ini membantu mengasah kemampuan musik dan kepemimpinannya sebagai dirigen.
Peran Paulus Susanto tampak nyata dalam perayaan Ekaristi tersebut. Selain menjadi pembimbing Klaudio, ia juga bertugas sebagai organis yang mengiringi koor yang dipimpin oleh dirigen cilik itu. Kolaborasi antara sang pembimbing di organ dan muridnya di depan koor menjadi pemandangan yang menarik sekaligus menginspirasi. Kekompakan keduanya dalam mengatur tempo dan dinamika lagu-lagu liturgi membantu menciptakan suasana perayaan yang hidup, khidmat, dan penuh penghayatan.
Kehadiran Klaudio menjadi bukti bahwa talenta dapat tumbuh dan berkembang sejak usia dini apabila mendapat ruang, kesempatan, serta pendampingan yang tepat. Di tengah perayaan yang juga menandai bergabungnya anggota baru dalam Gereja Katolik melalui Sakramen Baptis, pelayanan anak tersebut menghadirkan pesan lain yang tak kalah penting, yakni tentang pentingnya memberi kepercayaan kepada generasi muda untuk terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.
Apresiasi terhadap penampilan dirigen cilik itu secara khusus disampaikan oleh RD. Antonius Sanor. Dalam pengumuman menjelang berkat penutup, ia mengungkapkan kekagumannya atas bakat yang ditunjukkan Klaudio.
“Saya tertarik dengan dirigen hari ini. Dirigen cilik. Adik tadi baru kelas IV SD, sudah jauh seperti ini. Apalagi kalau dia sudah besar nanti. Pasti lebih jauh lagi. Kita dukung dia, sekaligus juga memberikan kesempatan bagi yang lain untuk bisa menunjukkan potensi dan kemampuan kita demi kebaikan bersama, demi kemeriahan perayaan-perayaan kita selanjutnya,” ujar RD. Antonius.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan umat yang hadir sebagai bentuk dukungan terhadap bakat dan keberanian yang ditunjukkan sang dirigen muda.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Gereja bukan hanya tempat bertumbuhnya iman, tetapi juga ruang untuk menemukan, mengembangkan, dan mempersembahkan talenta bagi kemuliaan Tuhan. Melalui keberanian Klaudio Saputra Mado memimpin koor dewasa, umat diajak untuk percaya bahwa setiap orang, tanpa memandang usia, memiliki kesempatan untuk melayani sesuai karunia yang dianugerahkan Tuhan.
Kisah Klaudio juga menunjukkan pentingnya peran keluarga dan para pembina dalam mendampingi generasi muda. Dukungan orang tua, kesempatan untuk terlibat dalam pelayanan, serta pendampingan yang diberikan oleh Paulus Susanto menjadi fondasi yang membantu talenta tersebut bertumbuh dan berkembang.
Perayaan Ekaristi Minggu itu pun meninggalkan kesan mendalam bagi umat Paroki Merombok. Selain menyaksikan perjalanan iman Maria Destefani Limba dan putrinya yang menerima Sakramen Baptis, umat juga menyaksikan bagaimana sebuah talenta muda yang tumbuh berkat dukungan keluarga dan pembinaan yang baik dapat menjadi inspirasi serta harapan bagi masa depan Gereja. Melalui sosok Klaudio, Gereja kembali diingatkan bahwa talenta tidak mengenal usia, dan ketika diberi ruang untuk berkembang, generasi muda mampu menghadirkan warna serta semangat baru dalam kehidupan menggereja.(Komsos Paroki Merombok – Tian Candra)





