Labuan Bajo, 17 Mei 2026 — Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 di Gereja Katolik Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok, Labuan Bajo, berlangsung khidmat pada Minggu (17/5/2026). Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Paroki RD Antonius Sanor dan dimeriahkan oleh penampilan koor dari TK Santa Angela Labuan Bajo.
Dalam homilinya, RD Antonius Sanor menegaskan bahwa perkembangan media digital harus tetap menghadirkan wajah dan suara manusia yang otentik serta tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Mengutip pesan Paus Leo XIV pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, RD Antonius mengajak umat Katolik untuk menghadirkan diri secara nyata dalam komunikasi, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
“Hadir dengan wajah dan suara yang asli tanpa polesan adalah dasar dari komunikasi sejati. Media digital jangan sampai membuat kita kehilangan identitas dan keaslian diri,” ujarnya di hadapan umat.
Ia menjelaskan bahwa komunikasi yang baik bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga tentang menghadirkan relasi yang personal dan penuh empati.
Dalam refleksi bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, RD Antonius menyoroti bagaimana Santo Lukas menuliskan nama para murid satu per satu ketika mereka berkumpul di ruang atas setelah Yesus naik ke surga. Menurutnya, hal itu menunjukkan pentingnya pengakuan terhadap identitas dan kehadiran setiap pribadi dalam sebuah komunitas.
“Mereka bukan sekadar kerumunan tanpa identitas, tetapi pribadi-pribadi yang hadir dengan nama, wajah, dan sejarah hidup masing-masing,” katanya.
Ia juga menyinggung kehadiran Maria, Bunda Yesus, yang meski tidak banyak berbicara, tetap memiliki arti penting dalam kebersamaan para murid. Kehadiran yang penuh dan tulus, menurutnya, sudah menjadi bentuk komunikasi yang mendalam.
RD Antonius mengatakan bahwa tantangan terbesar di era digital saat ini bukan sekadar kemampuan membuat konten yang menarik, tetapi bagaimana manusia tetap menjaga keaslian diri di tengah tekanan media sosial dan algoritma digital.
“Tantangannya adalah apakah wajah dan suara yang kita tampilkan di media sosial benar-benar diri kita, atau hanya versi yang dibentuk demi mendapatkan pengakuan dan perhatian,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan adanya kecenderungan masyarakat modern yang menganggap seseorang hadir hanya karena aktif di media sosial. Padahal, banyak orang yang tidak aktif di dunia maya tetap memiliki kontribusi besar dalam kehidupan bersama.
Mengutip buku Aku Klik, Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital karya Fransisco Budi Hardiman, RD Antonius mengatakan bahwa manusia modern perlahan mulai mengukur keberadaan seseorang dari aktivitas digitalnya.
Karena itu, umat diajak untuk kembali membangun relasi yang nyata, personal, dan penuh perhatian terhadap sesama.
Menurutnya, Gereja tidak menolak kemajuan teknologi digital. Sebaliknya, media digital harus dimanfaatkan sebagai sarana evangelisasi untuk menyebarkan pesan kasih, kebaikan, dan kebenaran.
Dalam pesan Paus Leo XIV yang disampaikannya, umat juga diajak menggunakan media sosial secara bijak, tidak menyebarkan hoaks, tidak menyerang pribadi orang lain, serta tetap memiliki empati terhadap mereka yang tersingkir dan kurang didengar.
Dalam konteks Tahun Pastoral 2026 Keuskupan Labuan Bajo, RD Antonius berharap semangat komunikasi yang otentik dapat memperkuat persekutuan umat dan membangun Gereja yang sinodal, solid, dan solider.
“Kita adalah wajah kita, kita adalah suara kita. Karena itu, setiap orang dipanggil untuk menghadirkan kasih dan kebaikan melalui komunikasi yang tulus,” pungkasnya.
Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 tersebut berlangsung penuh sukacita. Penampilan koor anak-anak dari TK Santa Angela Labuan Bajo turut menambah suasana meriah dan penuh semangat dalam perayaan itu. (Komsos Paroki Merombok/Tian Candra*)





