Merombok (29 Mei 2026) – Orang Muda Katolik (OMK) se-Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok didorong menjadi ujung tombak pelaksanaan Program Pepayanisasi yang digagas Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Dewan Pastoral Paroki (DPP). Program tersebut disosialisasikan dalam kegiatan rekoleksi dan temu akrab OMK yang berlangsung di Gereja Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok, Jumat (29/05/2026).
Materi sosialisasi disampaikan oleh anggota Komisi PSE DPP Paroki, Valensius Hono. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Pepayanisasi merupakan program pemberdayaan ekonomi umat yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Menurut Valensius, OMK dipilih sebagai ujung tombak program karena memiliki energi, semangat, dan kemampuan untuk menggerakkan masyarakat hingga ke tingkat Komunitas Basis Gerejawi (KBG).
“Program ini dirancang oleh Komisi PSE, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada keterlibatan OMK. Mereka akan menjadi pelaksana sekaligus memantau perkembangan program bersama pengurus KBG dan umat di masing-masing lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tanaman pepaya dipilih karena memiliki produktivitas yang tinggi dan mampu berbuah sepanjang tahun. Berbeda dengan sejumlah tanaman buah lainnya yang bersifat musiman, pepaya dinilai lebih menjanjikan sebagai sumber konsumsi maupun pendapatan keluarga.
Selain itu, program tersebut bertujuan membiasakan umat mengonsumsi buah sebagai bagian dari pola hidup sehat. Menurut Valensius, harga buah yang relatif mahal di pasaran sering menjadi kendala bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
“Melalui program ini, Gereja ingin membantu umat agar lebih mudah memperoleh buah yang sehat dan terjangkau dari hasil kebun sendiri,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, setiap kepala keluarga direncanakan menerima dua bibit Pepaya California. Tahun ini, Komisi PSE menargetkan penanaman sekitar 2.000 pohon pepaya yang akan didistribusikan kepada keluarga-keluarga di seluruh wilayah paroki.
Program tersebut juga dirancang dengan semangat gotong royong. Jika tanaman berhasil berproduksi, setiap keluarga diharapkan dapat menyumbangkan dua buah pepaya untuk kebutuhan gereja dan satu buah untuk mendukung kegiatan OMK. Selebihnya menjadi milik keluarga untuk dikonsumsi atau dijual.
Valensius menilai program Pepayanisasi memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Pasar potensial yang dibidik meliputi masyarakat umum di Labuan Bajo, hotel, restoran, kapal wisata, serta pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Menurutnya, keberhasilan program ini dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan buah dari luar daerah yang selama ini dijual dengan harga relatif tinggi.
“Kalau program ini dikelola secara serius, peluang ekonominya sangat besar. Kita bisa menyediakan buah segar dengan harga lebih terjangkau sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi umat,” jelasnya.
Lebih jauh, Valensius berharap program pemberdayaan tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi antara Gereja dan pemerintah dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kami berharap pemerintah dan Gereja dapat berjalan bersama mendukung program ini sehingga masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri, tetapi mampu menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi,” tuturnya.
Melalui Program Pepayanisasi, Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok berharap dapat membangun kemandirian ekonomi umat berbasis keluarga, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang usaha yang berkelanjutan bagi masyarakat. (Komsos Paroki Merombok/Tian Candra**)





