Mgr. Maksimus Regus: Labuan Bajo Harus Menjadi Oase Spiritual dan Ruang Transformasi Kehidupan

Sebarkan Berita ini!

Labuan Bajo (04 Juni 2026) – Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menegaskan bahwa Labuan Bajo tidak hanya harus dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga menjadi oase spiritual dan ruang transformasi kehidupan yang mendorong perubahan batin, sosial, ekonomi, serta kepedulian terhadap lingkungan hidup. Penegasan itu disampaikannya saat me-launching Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria Assumpta Nusantara 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Pantai Sudamala, Labuan Bajo, Kamis (4/6/2026).

Launching Festival Golo Koe Mgr. Maksimus Regus Labuan Bajo Harus Menjadi Oase Spiritual dan Ruang Transformasi Kehidupan

Menurut Uskup Maksimus, berbagai tantangan global yang dihadapi saat ini, terutama krisis iklim dan kelangkaan ekologis, menuntut keterlibatan semua pihak untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Karena itu, Festival Golo Koe tidak hanya menjadi perayaan budaya dan religius, tetapi juga gerakan bersama yang mengajak masyarakat membangun kesadaran ekologis dan memperkuat semangat persaudaraan.

“Dengan karunia keindahan pariwisata yang luar biasa ini, mudah-mudahan Labuan Bajo akan terus menjadi sebuah oase spiritual. Tidak hanya menjadi tempat singgah untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga menjadi tempat transformasi batin, transformasi sosial, dan transformasi ekonomi yang mendukung keberlanjutan hidup bersama,” kata Uskup Maksimus.

Mengusung tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan” dan tagline “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi”, peluncuran festival tahun ini menegaskan komitmen bersama Gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam merawat lingkungan hidup sekaligus memperkuat persaudaraan sosial dan spiritual.

Kegiatan diawali dengan apel bersama yang dipimpin Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, dan dihadiri Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, jajaran Keuskupan Labuan Bajo, Forkopimda, para imam, biarawan-biarawati, ASN, komunitas kategorial, pelaku UMKM, pegiat wisata, serta berbagai elemen masyarakat.

Rangkaian launching diisi dengan aksi bersih Pantai Sudamala, penanaman bibit kelapa, serta pelepasan sepasang burung merpati sebagai simbol perdamaian dan harapan bagi masa depan bumi yang lebih lestari.

Dalam sambutannya, Mgr. Maksimus Regus mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi dua krisis besar, yakni krisis iklim dan kelangkaan ekologis. Menurutnya, dampak perubahan iklim tidak lagi menjadi ancaman yang jauh, tetapi sudah dirasakan masyarakat melalui berbagai bencana yang semakin sulit diprediksi.

“Kita tidak hanya menghadapi perubahan iklim, tetapi kekacauan iklim. Pengalaman itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari melalui banjir, longsor, dan berbagai bencana lainnya,” kata Uskup Maksimus.

Ia menegaskan bahwa ajaran Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ mengajak seluruh umat manusia untuk memandang bumi sebagai rumah bersama yang harus dirawat melalui pertobatan ekologis.

Pertobatan ekologis, lanjutnya, tidak cukup berhenti pada perubahan batin, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata pada tiga ranah sekaligus, yakni ranah personal dalam keluarga, ranah komunal melalui kerja sama lintas komunitas dan lembaga, serta ranah struktural melalui kebijakan yang melindungi keberlangsungan lingkungan hidup.

Pada kesempatan itu, Uskup Maksimus juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan seluruh pihak yang selama ini mendukung penyelenggaraan Festival Golo Koe. Berkat semangat kolaborasi tersebut, Festival Golo Koe kembali masuk dalam jajaran Kharisma Event Nusantara (KEN) sebagai salah satu festival unggulan nasional.

Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat yang memiliki komitmen membangun Manggarai Barat melalui budaya, iman, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Dengan karunia keindahan pariwisata yang luar biasa ini, mudah-mudahan Labuan Bajo akan terus menjadi oase spiritual. Tidak hanya menjadi tempat singgah untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga menjadi tempat transformasi batin, transformasi sosial, dan transformasi ekonomi yang mendukung keberlanjutan hidup bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, mengatakan bahwa penyatuan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan launching Festival Golo Koe bukanlah sebuah kebetulan, melainkan cerminan komitmen bersama untuk menjaga masa depan bumi.

Menurutnya, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini,  “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, menjadi pengingat bahwa krisis iklim hanya dapat dihadapi melalui aksi nyata, bukan sekadar retorika.

“Kalau kita hanya beretorika, maka kecemasan terhadap krisis iklim akan menjadi kenyataan lebih cepat. Karena itu dibutuhkan tindakan konkret seperti menanam pohon, membersihkan sampah, dan menjaga lingkungan hidup,” tegasnya.

Ia berharap seluruh masyarakat dapat memaknai perayaan tersebut dengan tindakan sederhana namun berdampak besar, seperti mulai menanam pohon dan menjaga kebersihan lingkungan dari rumah masing-masing.

Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria Asumta Nusantara 2026 merupakan penyelenggaraan kelima sejak pertama kali digelar pada tahun 2022 dan menjadi tahun kedua Keuskupan Labuan Bajo dipercaya sebagai penyelenggara utama.

Setelah launching, rangkaian festival akan dilanjutkan dengan Prosesi Maria Assumpta Nusantara yang dimulai pada 10 Juli 2026 dari Paroki Lengkong Cepang, Lembor Selatan, dan akan mengunjungi 26 paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo.

Puncak Festival Golo Koe akan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 di Labuan Bajo dengan beragam kegiatan religius, budaya, sosial, ekonomi kreatif, dan edukasi lingkungan, termasuk karnaval budaya, prosesi akbar Maria Asumta Nusantara, pameran UMKM, pentas seni budaya, aksi ekologis, hingga Perayaan Ekaristi Akbar pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Melalui festival ini, Keuskupan Labuan Bajo bersama pemerintah dan masyarakat mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun persaudaraan, memperkuat kolaborasi, melestarikan budaya, serta mengambil bagian dalam gerakan bersama merawat bumi sebagai rumah bersama.“Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi.” (Komsos paroki Merombok/Tian Candra**)

Loading

Berita Lainnya

Mgr. Maksimus Regus: Labuan Bajo Harus Menjadi Oase Spiritual dan Ruang Transformasi Kehidupan

Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menegaskan bahwa Labuan Bajo tidak hanya harus dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga menjadi oase spiritual dan ruang transformasi kehidupan yang mendorong perubahan batin, sosial, ekonomi, serta kepedulian terhadap lingkungan hidup. Penegasan itu disampaikannya saat me-launching Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria Assumpta Nusantara 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Pantai Sudamala, Labuan Bajo, Kamis (4/6/2026).

Read More »

KBG St. Stefanus Teguhkan Persatuan dan Semangat Doa pada Penutupan Bulan Maria

Semangat persatuan, kebersamaan, dan kehidupan doa kembali diteguhkan umat Komunitas Basis Gerejawi (KBG) St. Stefanus dalam perayaan penutupan Bulan Maria yang berlangsung meriah dan penuh khidmat, Minggu (31/5/2026). Momentum yang bertepatan dengan Hari Raya Tritunggal Mahakudus itu menjadi kesempatan bagi umat untuk memperbarui komitmen hidup dalam persaudaraan dan persekutuan iman.

Read More »

OMK Merombok Didorong Jadi Ujung Tombak Sukseskan Program Pepayanisasi

Orang Muda Katolik (OMK) se-Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok didorong menjadi ujung tombak pelaksanaan Program Pepayanisasi yang digagas Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Dewan Pastoral Paroki (DPP). Program tersebut disosialisasikan dalam kegiatan rekoleksi dan temu akrab OMK yang berlangsung di Gereja Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok, Jumat (29/05/2026).

Read More »