Merombok (29 Mei 2026) – Kehidupan rohani yang sejati tidak cukup hanya ditunjukkan melalui penampilan luar atau rutinitas keagamaan, tetapi harus menghasilkan buah pertobatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan RD. Kristo Selamat dalam homili Misa Kunjungan Pastoral di Komunitas Basis Gerejawi (KBG) Santo Petrus, Wilayah II, Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok, Jumat (29/05/2026) malam.

Merenungkan bacaan Injil Markus 11:11-26 tentang kutukan atas pohon ara dan pembersihan Bait Allah, Romo Kristo mengajak umat untuk melihat kembali kualitas kehidupan rohani mereka. Menurutnya, kisah pohon ara yang tampak hijau dan rimbun tetapi tidak berbuah merupakan kritik Yesus terhadap kehidupan religius yang hanya menonjolkan penampilan luar.
“Sering kali kita menerjemahkan kerohanian hanya sebagai rutinitas yang tampak di mata orang lain agar mendapatkan penilaian yang baik, tetapi tidak menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Romo Kristo menjelaskan bahwa dalam tradisi para nabi Perjanjian Lama, pohon ara sering digunakan sebagai simbol kehidupan rohani umat. Dedaunan yang lebat menggambarkan kesalehan yang tampak dari luar, namun belum tentu mencerminkan kedalaman iman yang sesungguhnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti tindakan Yesus yang mengusir para pedagang dari Bait Allah. Menurutnya, peristiwa tersebut melambangkan pemurnian diri dari dosa. Bait Allah tidak hanya dipahami sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai simbol tubuh dan kehidupan setiap orang beriman.
“Jika kehidupan rohani tidak berakhir pada pertobatan yang nyata, maka kita hanya menampilkan kepalsuan kepada sesama dan menipu diri sendiri,” katanya.
Dalam homilinya, Romo Kristo juga mengingatkan bahaya dari sikap tidak jujur terhadap dosa dan kelemahan diri. Ia mengaitkannya dengan pohon ara yang akhirnya layu hingga ke akar-akarnya sebagai gambaran kehidupan rohani yang mengalami kekeringan karena terus memelihara kebohongan religius.
Untuk menghindari kondisi tersebut, Yesus, kata Romo Kristo, mengajarkan pentingnya doa yang disertai iman dan pengampunan. Menurutnya, pengampunan merupakan tindakan iman yang menopang doa yang sejati.
“Doa akan menjadi berdaya guna ketika kita terlebih dahulu membuka hati untuk menerima dan memberikan pengampunan. Kita perlu memohon pengampunan atas dosa-dosa kita, mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, serta mendoakan mereka yang terluka akibat kesalahan kita,” jelasnya.
Romo Kristo menegaskan bahwa buah pertobatan yang lahir dari iman, doa, dan pengampunan merupakan tanda kehidupan rohani yang autentik. Melalui buah-buah itulah Kristus mengenal para pengikut-Nya.
Ia mengajak umat KBG Santo Petrus untuk membangun kehidupan rohani yang tulus, tanpa topeng dan tanpa motivasi mencari pengakuan sosial, melainkan berakar pada relasi yang mendalam dengan Tuhan. “Iman, doa, dan pengampunan adalah fondasi kehidupan rohani yang sejati. Dari sanalah lahir pertobatan yang menghasilkan buah bagi diri sendiri, Gereja, dan sesama,” tutupnya. (Komsos Paroki Merombok/ Tian Candra**)





