“Sunlight” yang Menyatukan: Pesan Roh Kudus Menggema dalam Misa Pentakosta di Paroki Merombok

Sebarkan Berita ini!

Merombok (Minggu 24 Mei 2026) – Umat Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok merayakan Hari Raya Pentakosta 2026 dengan penuh sukacita dan nuansa persaudaraan pada Minggu, (24/05/2026). Perayaan Ekaristi berlangsung dua kali di Gereja Paroki dan dipimpin langsung oleh Pastor Paroki RD. Antonius Sanor.

Misa berlangsung khidmat, kusuk, dan meriah. Perayaan misa pertama dimeriahkan oleh koor dari Umat Wilayah I, sementara misa kedua dipersembahkan oleh koor Wilayah II. Umat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian liturgi yang mengangkat tema refleksi: “Roh Kudus: Jiwa dan Penggerak Persekutuan Sinergis.”

Dalam homilinya, Pastor Antonius Sanor menegaskan bahwa Hari Raya Pentakosta bukan sekadar mengenang turunnya Roh Kudus atas para rasul, tetapi juga menjadi momentum bagi umat untuk membuka hati terhadap karya Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari.

“Roh Kudus adalah jiwa Gereja. Tanpa Roh Kudus, Gereja hanya menjadi kumpulan orang biasa. Tetapi dengan Roh Kudus, Gereja menjadi tubuh Kristus yang hidup, bergerak, dan menghasilkan buah kasih,” ungkapnya di hadapan umat.

Ia menjelaskan bahwa Roh Kudus bekerja dalam keberagaman. Seperti para rasul yang mampu berbicara dalam berbagai bahasa sehingga dipahami oleh banyak bangsa, demikian pula Gereja dipanggil untuk membangun persatuan di tengah perbedaan.

Kisah “Sunlight” yang Menghadirkan Persaudaraan

Dalam suasana refleksi Pentakosta, Pastor Antonius juga menyinggung pentingnya komunikasi kasih yang melampaui bahasa. Hal itu tergambar dalam sebuah kisah sederhana namun menyentuh tentang pengalaman seorang warga kampung saat menerima tamu asing.

Dikisahkan, seorang wisatawan asing atau bule datang mengunjungi sebuah kampung dan menyapa seorang pemuda dengan ucapan, “Good Morning.” Pemuda itu kebingungan karena tidak memahami bahasa Inggris. Namun dengan senyum ramah dan hati terbuka, ia tetap menyalami sang tamu.

Dalam benaknya, pemuda itu mengira tamu asing tersebut ingin bertemu dengan seorang mama di kampung bernama Ende Moni. Dengan penuh semangat, ia pun mengantar tamu itu ke rumah Ende Moni.

Tanpa banyak bertanya, Ende Moni menyambut tamu tersebut dengan gembira. Namun ia juga bingung bagaimana harus menyapa sang bule. Tiba-tiba ia teringat pada sabun batang merek Sunlight yang memiliki gambar tangan bersalaman pada bungkusnya. Dalam pikirannya sederhana: tulisan “Sunlight” berarti salam atau ajakan berjabat tangan.

Dengan spontan Ende Moni mengulurkan tangan sambil berkata, “Sunlight… sunlight…”

Sang tamu asing pun tersenyum hangat dan membalas jabat tangan itu. Meski keduanya tidak saling memahami bahasa masing-masing, suasana persaudaraan langsung tercipta. Mereka berkomunikasi dengan bahasa tubuh, senyuman, dan ketulusan hati. Sesekali mereka salah memahami maksud satu sama lain, namun tetap berusaha saling mengerti dengan penuh kasih.

Kisah sederhana itu menggambarkan bagaimana Roh Kudus bekerja melampaui batas bahasa dan budaya. Ketika hati dipenuhi kasih dan keterbukaan, perjumpaan manusia dapat menjadi ruang persaudaraan yang indah.

Roh Kudus Menyatukan Perbedaan

Dalam renungannya, Pastor Antonius juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki karunia berbeda-beda. Ada yang mampu memimpin, mengajar, bernyanyi, melayani, mendamaikan, maupun bekerja bagi sesama. Semua karunia itu, katanya, bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi membangun Gereja dan kebaikan bersama.

“Roh Kudus tidak menghapus perbedaan, tetapi menyatukan perbedaan itu menjadi kekuatan,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh umat, mulai dari pastor, biarawan-biarawati, pengurus KBG, DPP-DKP, OMK, keluarga, hingga anak-anak, untuk terus membangun semangat sinergis dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

Menurutnya, tantangan seperti ego pribadi, iri hati, persaingan, dan kurangnya kepedulian dapat melemahkan persekutuan. Karena itu, umat perlu memberi ruang bagi Roh Kudus untuk bekerja agar pelayanan dijalankan dengan kasih, kerendahan hati, dan semangat kerja sama.

Perayaan Pentakosta di Paroki Merombok pun menjadi momen refleksi bahwa Gereja dipanggil menjadi tanda persaudaraan di tengah dunia. Seperti kisah sederhana “Sunlight” yang menghadirkan kehangatan tanpa bahasa, demikian pula Roh Kudus menggerakkan umat untuk menjadi pembawa damai, persatuan, dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. (Komsos Paroki Merombok/Tian Candra**)

Loading

Berita Lainnya

Mgr. Maksimus Regus: Labuan Bajo Harus Menjadi Oase Spiritual dan Ruang Transformasi Kehidupan

Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menegaskan bahwa Labuan Bajo tidak hanya harus dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga menjadi oase spiritual dan ruang transformasi kehidupan yang mendorong perubahan batin, sosial, ekonomi, serta kepedulian terhadap lingkungan hidup. Penegasan itu disampaikannya saat me-launching Festival Golo Koe Labuan Bajo Maria Assumpta Nusantara 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Pantai Sudamala, Labuan Bajo, Kamis (4/6/2026).

Read More »

KBG St. Stefanus Teguhkan Persatuan dan Semangat Doa pada Penutupan Bulan Maria

Semangat persatuan, kebersamaan, dan kehidupan doa kembali diteguhkan umat Komunitas Basis Gerejawi (KBG) St. Stefanus dalam perayaan penutupan Bulan Maria yang berlangsung meriah dan penuh khidmat, Minggu (31/5/2026). Momentum yang bertepatan dengan Hari Raya Tritunggal Mahakudus itu menjadi kesempatan bagi umat untuk memperbarui komitmen hidup dalam persaudaraan dan persekutuan iman.

Read More »

OMK Merombok Didorong Jadi Ujung Tombak Sukseskan Program Pepayanisasi

Orang Muda Katolik (OMK) se-Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok didorong menjadi ujung tombak pelaksanaan Program Pepayanisasi yang digagas Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Dewan Pastoral Paroki (DPP). Program tersebut disosialisasikan dalam kegiatan rekoleksi dan temu akrab OMK yang berlangsung di Gereja Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok, Jumat (29/05/2026).

Read More »