
Penulis: Agus Bayuwarta
Editor : Tian Candra
Merombok, 2 Oktober 2026-Ada orang-orang yang namanya mungkin tidak tertulis dalam prasasti, tetapi jejak hidupnya tetap tinggal dalam ingatan sebuah komunitas. Mereka hadir pada masa ketika segala sesuatu masih harus dimulai dari nol. Ketika sebuah sekolah belum berdiri, tempat ibadah belum tersedia, dan kehidupan umat masih bertumbuh dalam kesederhanaan.
Di tanah Merombok, salah satu sosok yang mengambil bagian penting dalam masa-masa awal itu adalah Raimundus Rambut, yang akrab disapa Guru Mundus.
Awal tahun 1973 menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Dari Siru-Lembor, langkahnya membawanya menuju Merombok, Golo Bilas. Ia datang bukan sekadar untuk menjalankan tugas sebagai seorang guru. Di tempat yang baru itu, ia mengemban tugas yang jauh lebih besar: membuka sekolah sekaligus menjadi kepala sekolah, membangun fondasi pendidikan bagi generasi yang kelak tumbuh di tanah Merombok.
Pada masa yang sama, Guru Mundus dipercaya menjadi Ketua Dewan Stasi pertama Merombok, yang ketika itu masih merupakan bagian dari Paroki Roh Kudus Labuan Bajo dan sebelumnya berada dalam wilayah pastoral Paroki Wangkung.
Dengan demikian, perjalanan Guru Mundus di Merombok sejak awal berada di persimpangan dua dunia yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat: pendidikan dan iman.
Merintis Pendidikan, Menata Kehidupan Umat
Pada masa itu, Merombok belum seperti sekarang. Wilayah stasi masih luas dan kehidupan umat tersebar di berbagai tempat. Cakupan pelayanan Stasi Merombok bahkan meliputi Merombok, Kaper, Nggorang hingga Watu Langkas.
Dalam situasi yang serba terbatas, Guru Mundus bersama para tokoh masyarakat dan tokoh umat mengambil bagian dalam menata kehidupan komunitas. Ia tidak hanya berdiri di depan kelas sebagai pendidik, tetapi juga hadir di tengah umat sebagai seorang awam yang dipercaya memimpin kehidupan stasi.
Peran tersebut tentu bukan perkara ringan.
Menjadi guru berarti membentuk pengetahuan dan karakter anak-anak. Menjadi Ketua Dewan Stasi berarti ikut menjaga kehidupan iman umat. Dua tanggung jawab itu dijalankan dalam suasana ketika sarana dan prasarana masih sangat sederhana.
Namun, keterbatasan tidak menjadi alasan untuk berhenti.
Justru dari kesederhanaan itulah semangat kebersamaan mulai tumbuh.
Dari tahun ke tahun, kehidupan umat berkembang. Komunitas yang dahulu masih kecil perlahan bertambah besar. Benih yang ditanam oleh para perintis itu kemudian tumbuh menjadi komunitas umat yang semakin luas, hingga pada masa kini kehidupan umat di wilayah Merombok berkembang menjadi komunitas dengan ribuan kepala keluarga.
Ketika Sekolah Menjadi Tempat Berdoa
Pada masa awal, Stasi Merombok belum mempunyai tempat ibadah yang tetap. Gereja sebagaimana dikenal umat sekarang belum hadir dalam bentuknya.
Maka sekolah dan rumah umat menjadi tempat perjumpaan iman.
Gedung sekolah yang pada siang hari digunakan untuk mendidik anak-anak, pada waktu tertentu berubah menjadi ruang doa. Rumah Ketua Dewan Stasi pun terbuka bagi umat untuk melaksanakan ibadat mingguan.
Keadaan tersebut memperlihatkan satu hal penting: Gereja pada masa itu bukan pertama-tama tentang gedung, melainkan tentang umat yang berkumpul, berdoa dan menjaga iman bersama.
Dari ruang-ruang sederhana itulah kehidupan menggereja di Merombok terus bertumbuh.
Semangat tersebut kemudian menemukan bentuk yang lebih nyata pada dekade 1980-an. Bersama Bapak Paulus Musa dan para tokoh umat lainnya, Guru Mundus menggerakkan semangat swadaya masyarakat untuk membangun sebuah kapela.
Tidak ada kemewahan dalam bangunan itu.

Atapnya seng, dindingnya papan, dan lantainya semen. Namun bagi umat pada masa itu, bangunan sederhana tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada bentuk fisiknya. Ia menjadi tanda bahwa umat Merombok telah mulai memiliki rumah bersama bagi kehidupan iman mereka.
Kapela itu lahir dari keringat, gotong royong dan kerelaan umat untuk memberi apa yang mereka miliki.
Ada yang menyumbangkan tenaga. Ada yang membantu bahan. Ada yang bekerja dalam proses pembangunan. Semuanya dilakukan dengan semangat swa-kelola.
Di sanalah sebuah komunitas belajar bahwa gereja tidak selalu dibangun dengan kekayaan, tetapi dengan iman dan kebersamaan.
Menjaga Api Iman di Tengah Umat
Peran Guru Mundus tidak berhenti pada pembangunan fisik.

Bersama Guru Paulus Musa dan sejumlah tokoh awam lainnya, ia turut menghidupkan kehidupan rohani umat. Salah satu gerakan yang berkembang pada masa itu adalah Kharismatik Katolik, yang ikut memberikan warna dalam kehidupan doa umat.
Ibadat, doa bersama dan doa penyembuhan menjadi bagian dari pengalaman iman umat. Semangat tersebut membuat umat semakin terlibat dalam kehidupan Gereja.
Nama-nama seperti Fidelis Kelas dan para tokoh awam lainnya juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Mereka bekerja dalam semangat yang sama: menjaga agar api iman tetap menyala di tengah umat yang sedang bertumbuh.
Bagi para perintis, pelayanan Gereja bukan sekadar jabatan. Ia merupakan panggilan untuk hadir, melayani dan menggerakkan umat.
Tiga Puluh Tahun Menanam Benih
Hampir seperempat abad lebih Guru Mundus mengabdikan dirinya bagi pendidikan dan kehidupan Gereja di Merombok.
Tahun demi tahun berlalu. Anak-anak yang dahulu duduk di bangku sekolah tumbuh menjadi orang dewasa. Komunitas umat semakin berkembang. Kehidupan sosial masyarakat pun berubah.
Pada tahun 1998, Guru Mundus memasuki masa pensiun sebagai ASN. Pada tahun yang sama, berakhirlah pula masa pengabdiannya sebagai Ketua Dewan Stasi Merombok.
Namun, pensiun tidak berarti bahwa jejak pengabdiannya ikut berakhir.
Apa yang ia tanam telah tumbuh jauh melampaui masa tugasnya.
Sekolah terus berjalan. Umat terus berkembang. Kehidupan Gereja terus bertumbuh. Generasi demi generasi kemudian menikmati hasil dari fondasi yang dahulu dibangun dengan keterbatasan.
Rembang Petang Seorang Perintis
Waktu akhirnya membawa Guru Mundus memasuki masa senja kehidupan.
Seorang perintis yang dahulu berjalan dari Siru-Lembor menuju Merombok kini menjalani hari-harinya dalam ketenangan usia lanjut. Ia telah melewati perjalanan panjang sebagai guru, kepala sekolah, tokoh umat dan Ketua Dewan Stasi pertama.
Namun, ujian terakhir datang pada masa ketika dunia dilanda pandemi COVID-19.
Dalam suasana yang penuh ketidakpastian itu, Raimundus Rambut menghadapi masa sakitnya. Hingga akhirnya, pada 6 Februari 2021, ia mengembuskan napas terakhir dan mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia.
Ia pulang kepada Sang Pencipta.
Tetapi kematian tidak selalu berarti berakhirnya sebuah pengabdian.
Ada kehidupan yang meninggalkan warisan.
Dan Guru Mundus adalah salah satunya.
Ia mungkin tidak lagi berdiri di depan kelas. Ia tidak lagi memimpin rapat Dewan Stasi. Ia tidak lagi duduk bersama umat dalam ibadat mingguan. Namun, jejaknya tetap dapat ditemukan dalam perjalanan panjang Gereja dan pendidikan di tanah Merombok.
Warisan yang Tidak Berhenti
Hari ini, ketika umat Merombok melihat Gereja yang semakin berkembang, ketika anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik, ketika komunitas umat semakin besar dan kehidupan menggereja semakin hidup, penting untuk mengingat bahwa semuanya memiliki sejarah.
Ada generasi yang datang ketika semuanya sudah tersedia.
Tetapi ada pula generasi yang datang ketika hampir tidak ada apa-apa dan harus memulai semuanya dari awal.
Raimundus Rambut berada dalam kelompok yang kedua.
Ia datang membawa pendidikan. Ia ikut menata kehidupan umat. Ia menjadi Ketua Dewan Stasi pertama. Ia ikut menggerakkan pembangunan kapela melalui swadaya umat. Ia bersama para tokoh awam lainnya menjaga kehidupan iman agar tetap tumbuh.
Karena itu, kisah Guru Mundus bukan sekadar kisah tentang seorang guru atau seorang Ketua Dewan Stasi.
Ia adalah kisah tentang seorang perintis.
Seorang yang menanam ketika belum melihat hasilnya.
Seorang yang membangun ketika belum tahu seperti apa bentuk masa depan.
Seorang yang melayani ketika fasilitas masih terbatas.
Dan seperti benih yang ditanam dalam tanah, mungkin sang penanam tidak selalu menyaksikan seluruh pohon yang tumbuh dari tangannya. Tetapi generasi setelahnya dapat berteduh di bawah rindangnya.
Raimundus Rambut telah pergi.
Namun, namanya tetap hidup dalam sejarah pendidikan, dalam perjalanan Gereja, dalam kenangan umat, dan dalam setiap generasi yang tumbuh di tanah Merombok.
Ia bukan hanya pernah menjadi bagian dari sejarah Merombok. Ia adalah salah satu dari mereka yang ikut meletakkan batu pertama sejarah itu.
(Komsos Paroki Merombok)





