
Merombok, 1 Oktober 2026 — Perayaan pesta pelindung Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok berlangsung khidmat pada Kamis (1/10/2026) sore, bertepatan dengan pembukaan Bulan Rosario. Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 17.00 WITA tersebut dipimpin Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Labuan Bajo, RD. Rikardus Manggu, didampingi Pastor Paroki Merombok, RD. Antonius Sanor, dan RP. Rendi Max.
Perayaan semakin khidmat dengan iringan koor paroki yang membawakan lagu-lagu liturgi dan menghantar umat untuk mengikuti seluruh rangkaian Ekaristi dalam suasana doa dan syukur.
Dalam homilinya, RD. Rikardus mengajak umat Merombok untuk kembali mendalami spiritualitas Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, khususnya jalan kekudusan melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, Santa Theresia menemukan bahwa untuk mencapai kekudusan, seseorang tidak harus melakukan sesuatu yang besar dan luar biasa. Justru, hal-hal kecil yang setiap hari dilakukan dapat menjadi jalan menuju keselamatan ketika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta.
“Kita tidak perlu menjadi kudus dengan hal-hal yang besar, tetapi kita coba melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar,” pesan RD. Rikardus.
Ia kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan pentingnya keikhlasan dan kerendahan hati dalam membangun relasi dengan sesama. Kedua sikap tersebut, menurutnya, menjadi dasar bagi terciptanya kasih, pengampunan, belas kasih, dan persaudaraan.
Namun, keikhlasan dan kerendahan hati sering kali berhadapan dengan ego pribadi serta berbagai pengaruh dari luar diri, seperti tuntutan budaya, kepentingan sosial, ekonomi, politik, hingga pandangan masyarakat.
Karena itu, umat diajak berani keluar dari kepentingan pribadi dan kembali membangun perjumpaan yang tulus dengan sesama.
Dalam konteks kehidupan umat di Merombok, RD. Rikardus menyinggung kebiasaan kunjungan dari rumah ke rumah sebagai salah satu bentuk nyata dari spiritualitas Santa Theresia. Kunjungan tersebut hendaknya tidak sekadar menjadi rutinitas atau kesempatan untuk membandingkan kehidupan antarkeluarga, tetapi menjadi ruang untuk saling mengenal, menguatkan dan merajut persaudaraan.
“Kalau kita ingin mendalami hal-hal yang kecil, kita sungguh harus melepaskan diri kita, kepentingan kita, ego kita di rumah. Baru kita keluar dengan lega, dengan bebas, dan menjumpai orang lain sebagai saya yang lain,” ujarnya. (Komsos Paroki Merombok-Tian Candra)





