Perjamuan Tuhan Adalah Undangan Kasih, Umat Diajak Menjadi Kekuatan bagi Sesama

Sebarkan Berita ini!

WhatsApp Image 2026 09 20 at 13.48.28
Pater Rendi Max, SVD saat membawakan homili. (Foto Komsos)

Merombok, 11 Oktober 2026 – Umat Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok merayakan Misa Minggu Biasa XXVIII, Minggu (11/10/2026), yang dipimpin oleh Vikaris Parokial RD. Kristo Selamat bersama imam konselebran RP. Randi Max.

Dalam homilinya, RP. Randi Max mengajak umat untuk menyadari undangan kasih Tuhan dan menjadi sumber kekuatan bagi sesama.

Perayaan Ekaristi berlangsung khidmat dengan iringan koor dari Kelompok Basis Gerejani (KBG) Arnoldus Jansen. Lagu-lagu liturgi yang indah dan merdu membantu umat menghayati doa dengan penuh kekhusyukan. Penampilan koor tersebut mendapat apresiasi dari RD. Kristo Selamat dan umat yang hadir.

Mengacu pada bacaan pertama Yesaya 25:6-10a, bacaan kedua Filipi 4:12-14, 19-20, dan Injil Matius 22:1-14 tentang perumpamaan perjamuan kawin, RP. Randi Max menjelaskan bahwa perjamuan bukan sekadar tentang makanan, melainkan simbol penerimaan, persaudaraan, dan kasih.

Ia mengibaratkan undangan makan bersama sebagai ungkapan keterbukaan hati, ketika seseorang menyediakan tempat dan menyatakan bahwa sesamanya diterima. Demikian pula, Tuhan mengundang manusia untuk mengalami kasih, keselamatan, dan sukacita bersama-Nya. Melalui bacaan pertama, umat diingatkan bahwa Tuhan menjanjikan keselamatan dan menghapus air mata manusia. Tuhan memahami setiap pergumulan, baik persoalan keluarga, kesehatan, ekonomi, maupun ketidakpastian masa depan.

Sementara itu, perumpamaan perjamuan kawin dalam Injil mengingatkan bahwa manusia kerap menolak undangan Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Dengan ilustrasi kehidupan masa kini, RP. Randi Max menggambarkan undangan Tuhan seperti pesan di grup WhatsApp yang sudah dibaca, tetapi tidak dijawab karena ada urusan lain yang dianggap lebih penting.

Ia mengajak umat agar tidak membiarkan kesibukan menjauhkan mereka dari Tuhan. Sebab, umat datang kepada-Nya bukan karena hidupnya sudah sempurna, melainkan karena membutuhkan rahmat dan kekuatan untuk menghadapi berbagai pergumulan.

Mengutip pesan Rasul Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” RP. Randi Max menegaskan bahwa Kristus adalah sumber kekuatan dalam setiap keadaan, baik saat berkelimpahan maupun berkekurangan, dalam sukacita maupun pergumulan.

Ia juga mengingatkan bahwa setelah menerima kasih Tuhan melalui Ekaristi, umat dipanggil untuk menjadi sumber kekuatan bagi sesama. Jika Tuhan menghibur, umat hendaknya menghibur orang lain. Jika Tuhan mengampuni, umat pun dipanggil untuk mengampuni. Dengan demikian, iman tidak berhenti pada perayaan liturgi, tetapi diwujudkan melalui kepedulian, pengampunan, dan kasih nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan homili ini menegaskan bahwa kasih yang diterima dalam Ekaristi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kepedulian, pengampunan, dan pelayanan kepada sesama. Sebab, iman sejati tidak hanya dirayakan di altar, tetapi dihidupi melalui tindakan nyata, menjadi penghiburan bagi yang berduka, harapan bagi yang terluka, dan kekuatan bagi mereka yang sedang berjuang. (Komsos Paroki Merombok-Tian Candra)

Loading

Berita Lainnya