Paulus Musa: Tokoh Awam yang Mengabdikan Hidup bagi Gereja, Pendidikan, dan Masyarakat

Sebarkan Berita ini!

Penulis: Agustinus Bayuwarta

Editor : Tian Candra

WhatsApp Image 2026 09 25 at 11.11.54 edited

Merombok, 1 Oktober 2026-Dalam perjalanan sejarah Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok, terdapat sosok awam yang jejak pengabdiannya tidak dapat dipisahkan dari perjalanan umat dan perkembangan masyarakat di wilayah ini. Sosok itu adalah Bapak Paulus Musa, seorang tokoh yang dikenal luas sebagai pendidik, politisi, orator, sekaligus pribadi yang memiliki keberpihakan kuat terhadap Gereja dan kehidupan iman umat.

Bagi Gereja Merombok, Paulus Musa bukan sekadar seorang umat yang hadir dalam kehidupan menggereja. Ia tampil sebagai tokoh awam yang berani mengambil peran ketika Gereja membutuhkan dukungan, keberanian, dan kemampuan berdiplomasi. Salah satu jejak penting pengabdiannya adalah keterlibatannya dalam proses memperoleh lahan yang kemudian menjadi tempat berdirinya Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok.

Sekitar tahun 1975, Paulus Musa menjumpai Fungsionaris Adat Dalu Nggorang serta Penggawa/Tua Golo Merombok untuk mengupayakan tanah bagi Gereja. Peran tersebut memperlihatkan keberanian dan kemampuan negosiasinya dalam memperjuangkan kepentingan umat. Berkat perjuangan itu, Gereja memiliki ruang untuk bertumbuh dan menjadi tempat umat membangun kehidupan iman bersama.

Keberpihakannya kepada Gereja tidak berhenti pada persoalan tanah dan pembangunan fisik. Paulus Musa juga memperdalam kehidupan spiritualnya melalui Gerakan Kharismatik Katolik. Bersama sejumlah rekan seperti Guru Mundus, Mama Ria, Ine Bene, Fidelis Kelas, Bene Belid dan lainnya, ia turut menyebarkan semangat iman di tengah umat. Di sini terlihat sisi lain Paulus Musa. Dibalik sosoknya yang dikenal tegas dan kuat dalam berbicara, terdapat pribadi awam yang memberikan dirinya bagi pertumbuhan iman umat.

Dari Gereja, perjalanan pengabdian Paulus Musa kemudian menjangkau bidang yang lebih luas, terutama pendidikan. Ia hidup pada masa ketika keterbatasan akses pendidikan dan persoalan buta aksara masih menjadi tantangan besar. Pada awal dekade 1960-an, ia mengambil bagian dalam membuka jalan pendidikan bagi masyarakat. Ia terlibat sebagai penggerak berdirinya sejumlah lembaga pendidikan yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Manggarai Barat.

Paulus Musa tercatat sebagai Ketua Yayasan sekaligus guru pada SMP Tanjung Harapan, yang kemudian menjadi cikal bakal SMPN 1 Komodo. Ia juga menjadi salah satu pendiri SMAK St. Ignatius Loyola sebelum pengelolaannya dialihkan kepada Serikat SVD, serta turut berperan dalam keberadaan SMPK St. Ignatius Loyola, yang kemudian berada di bawah Yayasan Pendidikan Katolik Manggarai Barat.

Semangatnya untuk terus belajar juga tidak pernah padam. Setelah perjalanan kuliah di Makassar harus terhenti karena persoalan finansial, Paulus Musa tetap mencari jalan untuk meningkatkan kapasitas dirinya. Pada tahun 1975, ia mengikuti Kursus Pegawai Guru (KPG) dan kemudian resmi menjadi guru PNS di SDI Merombok. Sejak saat itu, pengabdiannya menemukan ruang baru: dari seorang tokoh yang dikenal di ruang publik menjadi seorang pendidik yang berdiri langsung di depan generasi muda.

Bersama sahabat karibnya, Raimundus Rambut, Paulus Musa juga berjuang mempertahankan lahan pendidikan. Perjuangan mereka ikut mengamankan tanah yang kemudian digunakan untuk SDI Merombok, SMPN 3 Komodo, dan SMAN 3 Komodo. Dengan demikian, perjuangan Paulus Musa tidak hanya menghasilkan gagasan tentang pendidikan, tetapi meninggalkan jejak yang dapat dilihat secara nyata dalam keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut hingga sekarang.

Setelah jejaknya dalam Gereja dan pendidikan, nama Paulus Musa juga tidak dapat dilepaskan dari dunia politik lokal. Ia memulai perjalanan politiknya melalui Partai Katolik, kemudian berlabuh di Golongan Karya (Golkar). Di dunia politik, ia dikenal sebagai sosok yang memiliki kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan dengan kuat. Karena kemampuannya berorasi, ia mendapat julukan “Singa Podium.”

Julukan lain yang melekat pada dirinya adalah “Kucing Komodo”, sebuah gambaran mengenai kelincahan dan kecermatannya dalam membaca situasi serta menyusun strategi. Kemampuan diplomasi dan strategi yang ia miliki tidak hanya digunakan dalam arena politik, tetapi sebelumnya juga telah ia gunakan untuk kepentingan Gereja dan kemudian pendidikan.

Menariknya, perjalanan Paulus Musa memperlihatkan bahwa ketiga ruang pengabdiannya—Gereja, pendidikan, dan politik—tidak berdiri sendiri. Keberpihakannya kepada Gereja membentuk keberaniannya untuk memperjuangkan kepentingan umat. Pengalamannya dalam dunia pendidikan mempertemukannya dengan persoalan masa depan generasi muda. Sementara dunia politik memberinya ruang yang lebih luas untuk menyampaikan gagasan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Karena itu, Paulus Musa tidak hanya dikenang sebagai seorang “Singa Podium” atau “Kucing Komodo”. Ia juga layak dikenang sebagai seorang tokoh awam Gereja yang ikut meletakkan fondasi kehidupan umat, seorang pendidik yang ikut membuka jalan bagi generasi muda, dan seorang politisi yang menjadikan kemampuan berbicara serta strategi sebagai bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat.

Pada tahun 2023, Paulus Musa mengakhiri perjalanan hidupnya dalam usia 87 tahun. Ia meninggalkan jejak yang dapat ditemukan dalam Gereja tempat umat berdoa, sekolah-sekolah tempat anak-anak menimba ilmu, serta sejarah kehidupan sosial-politik Manggarai Barat.

Kisah hidupnya pada akhirnya mengingatkan kita bahwa ukuran sebuah pengabdian bukan semata-mata panjangnya usia, melainkan apa yang ditinggalkan bagi orang lain sepanjang perjalanan hidup tersebut. Paulus Musa telah meninggalkan jejak dalam tiga ruang penting: iman, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.

Bagi umat Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok, namanya akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam sejarah perjalanan Gereja. Sebab, sebelum dikenal sebagai Singa Podium, ia terlebih dahulu hadir sebagai seorang awam yang berani berdiri di sisi Gereja dan memperjuangkan ruang bagi umat untuk bertumbuh dalam iman.

Bapak Paulus Musa telah pergi, tetapi jejak pengabdiannya tetap tinggal: di Gereja Merombok, di sekolah-sekolah yang menjadi tempat anak-anak belajar, dan dalam ingatan masyarakat yang pernah menyaksikan perjuangannya. (Komsos Paroki Merombok-Tian Candra)

Loading

Berita Lainnya