
Merombok, 10 Juli 2026 – Hari kedua Kursus Persiapan Perkawinan Katolik (KPPK) Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok menghadirkan suasana yang berbeda. Jika sebelumnya peserta dibekali pemahaman teologis mengenai sakramen perkawinan, kali ini mereka diajak menyelami realitas kehidupan berumah tangga melalui sesi Sharing Pengalaman Hidup Suami Istri yang dibawakan oleh pasangan Agustinus Bayu Warta dan Rosalia Rosdiana di Aula Paroki, Jumat (10/7/2026).
Berangkat dari pengalaman hidup mereka sebagai suami istri, pasangan ini mengajak para calon pengantin memahami bahwa kehidupan perkawinan tidak selalu berjalan mulus. Cinta dalam perkawinan bukan sekadar perasaan romantis, melainkan sebuah keputusan untuk terus bertumbuh bersama dalam komitmen, kesetiaan, dan kasih yang berlandaskan rahmat Tuhan.
Dalam pemaparannya, mereka menegaskan bahwa perkawinan bukanlah akhir dari kisah cinta, melainkan awal dari sebuah proyek seumur hidup. Oleh karena itu, pasangan suami istri perlu membangun fondasi yang kokoh melalui komunikasi yang sehat, kemampuan mengelola konflik, keterbukaan dalam mengatur ekonomi keluarga, pola pengasuhan anak yang baik, serta kehidupan rohani yang berpusat pada Kristus.
Agustinus Bayu Warta menjelaskan bahwa keluarga yang kokoh dibangun di atas lima pilar utama, yakni relasi suami istri sebagai fondasi, komunikasi dan manajemen konflik sebagai tiang penyangga, ekonomi keluarga sebagai dinding, pola pengasuhan anak sebagai atap, serta spiritualitas keluarga atau Ecclesia Domestica sebagai pintu yang menghidupkan seluruh bangunan keluarga.
“Perbedaan karakter dalam perkawinan adalah hal yang wajar. Yang dibutuhkan adalah kesabaran untuk saling menyesuaikan diri, belajar memahami pasangan, dan menurunkan ego demi kebaikan bersama,” ungkapnya.
Menurutnya, menjaga keintiman tidak selalu diwujudkan melalui hal-hal besar, tetapi dimulai dari tindakan sederhana seperti memberikan apresiasi kepada pasangan, menyediakan waktu berkualitas, melayani dengan kasih, memberikan perhatian, hingga sentuhan penuh kehangatan.

Sementara itu, Rosalia Rosdiana menyoroti pentingnya komunikasi sebagai jantung kehidupan keluarga. Ia mengingatkan bahwa banyak konflik rumah tangga bukan disebabkan oleh persoalan besar, melainkan oleh kesalahpahaman dan komunikasi yang buruk.
“Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Cara kita menyelesaikannya yang menentukan kualitas pernikahan,” ungkap Rosalia.
Ia mengajak para peserta untuk belajar mendengarkan dengan penuh perhatian, berbicara secara jujur namun lembut, serta menghindari sikap saling menyalahkan ketika menghadapi persoalan. Menurutnya, setiap konflik hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin, semangat mengampuni, dan fokus pada solusi, bukan menyerang pribadi pasangan.
Dalam sesi mengenai ekonomi keluarga, pasangan ini juga berbagi pengalaman tentang pentingnya membangun keterbukaan dalam mengelola keuangan rumah tangga. Mereka mengajak calon pasangan meninggalkan pola pikir “uangku dan uangmu” menjadi “uang kita”, sehingga setiap keputusan ekonomi diambil demi kesejahteraan keluarga.
Selain itu, peserta juga diajak memahami bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab bersama ayah dan ibu. Anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat dalam keluarga. Karena itu, rumah hendaknya menjadi lingkungan yang dipenuhi kasih, kejujuran, penghargaan, dan rasa aman agar anak dapat bertumbuh dengan karakter yang baik.
Mengakhiri materi, Agustinus dan Rosalia mengingatkan bahwa keluarga Katolik dipanggil menjadi Ecclesia Domestica atau Gereja Rumah Tangga. Kehidupan doa bersama, membaca Kitab Suci, serta mengikuti Ekaristi menjadi sumber kekuatan keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Mereka menegaskan bahwa rahmat Sakramen Perkawinan tidak pernah habis. Rahmat itu senantiasa menjadi sumber kekuatan, penyembuhan, dan pengharapan bagi setiap keluarga yang tetap setia berjalan bersama Tuhan.
Melalui sesi berbagi pengalaman yang hangat dan penuh inspirasi ini, para peserta KPPK tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga melihat secara nyata bagaimana nilai-nilai perkawinan Katolik dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Kesaksian pasangan Agustinus Bayu Warta dan Rosalia Rosdiana menjadi bekal berharga bagi para calon pengantin untuk mempersiapkan diri membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan berakar kuat dalam kasih Kristus. (Komsos Paroki Merombok-Tian Candra)





