Oleh: Adrianus Taur
Merombok, 02 Agustus 2026: Di tengah pesatnya pertumbuhan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata kelas dunia, ada satu hal yang tidak boleh terlupakan: kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik atau meningkatnya jumlah wisatawan. Kemajuan yang sesungguhnya lahir ketika pembangunan bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan keberdayaan masyarakat. Di titik inilah Festival Golo Koe 2026 yang digagas Keuskupan Labuan Bajo menemukan makna strategisnya.

Festival Golo Koe bukan sekadar agenda tahunan atau perayaan keagamaan. Lebih dari itu, festival ini merupakan ruang perjumpaan yang mempertemukan iman, budaya, dan kehidupan sosial dalam semangat persaudaraan. Ia menghadirkan masyarakat lintas agama, lintas suku, lintas profesi, bahkan wisatawan dari berbagai daerah dan negara untuk merasakan wajah Manggarai Barat yang ramah, inklusif, dan kaya akan nilai-nilai budaya.
Mengusung tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan,” Festival Golo Koe mengajak seluruh elemen masyarakat menyadari bahwa perjalanan iman tidak berhenti di altar atau rumah ibadah. Iman justru menemukan makna terdalamnya ketika diwujudkan dalam tindakan nyata: merawat sesama, menjaga lingkungan, menghargai keberagaman, dan membangun kehidupan bersama yang lebih bermartabat.
Melalui Festival Golo Koe, Keuskupan Labuan Bajo menghadirkan wajah Gereja yang hadir di tengah masyarakat. Gereja tidak hanya mewartakan nilai-nilai spiritual, tetapi juga mendorong lahirnya kolaborasi sosial, penguatan budaya lokal, kepedulian terhadap lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Inilah bentuk evangelisasi yang menyentuh kehidupan nyata.
Di tengah semarak berbagai kegiatan festival, tersimpan pesan kuat tentang toleransi. Masyarakat dari berbagai latar belakang bergotong royong menyukseskan acara, menjaga keamanan, menciptakan suasana yang nyaman bagi para peziarah dan wisatawan, serta membuka rumah dan hati bagi siapa saja yang datang. Nilai-nilai seperti inilah yang sejak lama hidup dalam budaya Manggarai dan kini semakin diperkuat melalui Festival Golo Koe.
Namun, Festival Golo Koe tidak hanya membangun kehidupan rohani dan sosial. Festival ini juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan.
Setiap penyelenggaraan Festival Golo Koe menghadirkan ruang yang luas bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk-produk terbaik mereka. Deretan stan UMKM bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, melainkan etalase identitas Manggarai Barat.
Di sana terdapat kain Songke yang ditenun dengan penuh kesabaran, kopi Flores yang dikenal hingga mancanegara, aneka kuliner tradisional yang diwariskan lintas generasi, produk herbal, hasil pertanian, hingga berbagai kerajinan tangan yang mencerminkan kreativitas masyarakat lokal. Seluruh produk itu membawa cerita tentang kerja keras, kearifan lokal, dan kecintaan masyarakat terhadap tanah kelahirannya.
Karena itu, mendukung UMKM dalam Festival Golo Koe berarti ikut menjaga denyut ekonomi rakyat. Setiap produk yang dibeli bukan sekadar menghasilkan keuntungan bagi pelaku usaha, tetapi juga membantu mempertahankan budaya, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga-keluarga di Manggarai Barat.
Dalam konteks Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas, Festival Golo Koe memiliki arti yang jauh lebih luas. Festival ini menunjukkan bahwa pariwisata yang berkualitas bukan hanya menghadirkan wisatawan dalam jumlah besar, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dirasakan oleh masyarakat lokal. Pariwisata harus berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya, kehidupan religius, kelestarian lingkungan, dan pertumbuhan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Inilah yang membedakan Festival Golo Koe dengan banyak festival lainnya. Festival ini tidak hanya menjual atraksi, tetapi juga menawarkan nilai. Ia memperkenalkan kepada dunia bahwa Manggarai Barat bukan hanya memiliki panorama alam yang memukau, tetapi juga masyarakat yang hidup dalam semangat gotong royong, toleransi, dan persaudaraan.
Lebih jauh lagi, Festival Golo Koe merupakan investasi sosial dan budaya bagi masa depan Manggarai Barat. Investasi yang menanam benih persatuan, memperkuat identitas budaya, menggerakkan ekonomi kerakyatan, serta membangun rasa memiliki terhadap daerah sendiri. Ketika masyarakat, pemerintah, Gereja, pelaku usaha, komunitas budaya, dan generasi muda berjalan bersama, maka pembangunan tidak lagi menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan menjadi gerakan bersama.
Pada akhirnya, Festival Golo Koe bukan hanya tentang enam hari perayaan pada bulan Agustus. Nilai-nilai yang dibangun selama festival harus tetap hidup dalam keseharian masyarakat. Semangat persaudaraan harus terus dirawat, budaya harus terus dilestarikan, lingkungan harus terus dijaga, dan UMKM harus terus didukung agar mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing.
Sebab keberhasilan Festival Golo Koe tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung atau megahnya panggung yang dibangun. Keberhasilannya diukur dari warisan yang ditinggalkannya: masyarakat yang semakin bersatu, ekonomi rakyat yang semakin kuat, budaya yang semakin dihargai, dan generasi muda yang semakin bangga menjadi bagian dari Manggarai Barat.
Festival Golo Koe 2026 membuktikan bahwa ketika iman menjadi jembatan, budaya menjadi identitas, dan UMKM menjadi penggerak ekonomi, maka Keuskupan Labuan Bajo bersama seluruh elemen masyarakat sedang menulis babak baru masa depan Manggarai Barat—masa depan yang bertumpu pada persaudaraan, keberagaman, keberlanjutan, dan kesejahteraan bersama. (Komsos Merombok, Penulis Adrianus Taur, Editor: Tian Candra)





