Di sebuah wilayah yang dahulu hanya dikenal sebagai stasi kecil di pinggiran pelayanan gereja, berdirilah sebuah komunitas umat sederhana yang setiap minggu berkumpul dengan iman yang bersahaja. Tidak ada gedung megah, tidak ada fasilitas lengkap, bahkan kadang-kadang hujan dan lumpur menjadi bagian dari perjalanan menuju gereja. Namun di tengah segala keterbatasan itu, ada sesuatu yang terus menyala: harapan.
Stasi itu bernama Merombok.
Bagi sebagian orang, Merombok mungkin hanyalah titik kecil dalam peta pelayanan gerejani. Sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota dan pusat aktivitas gereja besar. Tetapi bagi umatnya, Merombok adalah rumah iman. Tempat di mana doa-doa sederhana dinaikkan dengan tulus, tempat anak-anak belajar membuat tanda salib, tempat para orang tua bertahan dalam kesederhanaan sambil tetap percaya bahwa Tuhan sedang menuntun mereka menuju sesuatu yang lebih besar.
Perjalanan Merombok tidak pernah instan.
Ia bertumbuh pelan-pelan seperti benih kecil yang ditanam di tanah berbatu. Kadang kekurangan tenaga pastoral, kadang terbatas dalam sarana, kadang harus berjuang sendiri untuk membangun fasilitas sederhana. Tetapi justru dari perjuangan itulah lahir daya tahan yang kuat. Umat Merombok belajar bahwa gereja bukan pertama-tama soal bangunan, melainkan soal hati yang tetap percaya.
Tahun demi tahun berlalu. Jumlah umat mulai bertambah. Kegiatan kategorial hidup. Orang muda mulai bergerak. Anak-anak semakin banyak mengikuti bina iman. Liturgi semakin tertata. Semangat gotong royong tumbuh di mana-mana. Sedikit demi sedikit, Merombok tidak lagi hanya dikenal sebagai stasi kecil, tetapi sebagai komunitas yang hidup.
Hingga akhirnya sejarah besar itu tiba.
Pada 18 Januari 2026, sebuah babak baru resmi dimulai. Dalam sukacita yang menggetarkan hati umat, Stasi Merombok ditetapkan menjadi Paroki Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok, sekaligus menjadi paroki ke-27 di Keuskupan Labuan Bajo.
Hari itu bukan sekadar seremoni administratif gerejawi. Hari itu adalah jawaban atas perjalanan panjang penuh air mata, doa, dan pengorbanan. Banyak umat mungkin teringat masa-masa ketika mereka harus berjalan jauh untuk mengikuti misa, ketika pembangunan gereja dilakukan dengan tenaga seadanya, atau ketika mereka harus bertahan dalam keterbatasan. Semua perjuangan itu kini menemukan maknanya.
Namun menjadi paroki baru ternyata bukan akhir perjalanan.
Justru di situlah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.
Sebagai paroki baru, Merombok menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Ia dituntut cepat bertumbuh. Pelayanan harus ditata lebih rapi. Administrasi harus berjalan baik. Kader-kader awam harus disiapkan. Orang muda harus diberi ruang. Ekonomi paroki harus mulai dibangun. Semua bergerak cepat, seolah-olah waktu tidak memberi kesempatan untuk berjalan lambat.
Di saat yang sama, di sekelilingnya telah berdiri banyak paroki yang lebih tua, lebih mapan, lebih berpengalaman. Paroki-paroki itu ibarat bus besar yang sudah lama melaju di jalan raya pelayanan gereja. Mereka memiliki struktur yang kuat, sumber daya yang lengkap, dan pengalaman bertahun-tahun.
Sementara Merombok?
Merombok hanyalah “bemo kecil”.
Tetapi justru di situlah letak kisahnya.
Bemo kecil itu ternyata tidak mau hanya berjalan pelan di belakang. Ia tidak minder dengan ukuran dan usianya. Mesin tuanya mungkin sederhana, badannya mungkin tidak semewah bus besar, tetapi sopirnya tahu satu hal: keberanian dan semangat sering kali lebih menentukan daripada ukuran kendaraan.
Seperti bemo yang melaju di jalan menanjak dengan suara mesin yang meraung keras, Paroki Merombok bergerak dengan energi yang mengejutkan banyak orang. Orang muda mulai tampil di garis depan pelayanan. Media sosial paroki mulai aktif. Website paroki mulai diluncurkan. Liturgi ditata dengan lebih baik. Kegiatan umat berkembang. Semangat pelayanan tumbuh di lingkungan-lingkungan kecil.
Bemo kecil itu terus mengejar.
Mengejar agar tidak jauh tertinggal dari bus Besar yg telah melaju lebih awal.
Bemo kecil ini sadar butuh keberanian, keyakinan teguh melewati jalan berbatu, berliku untuk terus melaju lesat mengejar bis Besar meski dalam keterbatasan. Ia tidak menunggu sempurna utk bergerak. Ia berjalan sambil terus belajar.
Itulah Merombok.
Paroki yang lahir dari kesederhanaan tetapi tidak takut bermimpi besar.
Paroki yang sadar bahwa usia muda bukan alasan untuk tertinggal.
Paroki yang percaya bahwa gereja akan terus hidup selama umatnya memiliki semangat melayani.
Tentu perjalanan ke depan tidak akan mudah. Akan ada masa-masa sulit. Akan ada kekurangan tenaga, keterbatasan dana, bahkan mungkin perbedaan pandangan di tengah perjalanan. Tetapi seperti bemo kecil yang tetap bertahan menembus tanjakan panjang, Merombok tampaknya telah belajar satu hal penting sejak masih menjadi stasi kecil: jangan berhenti bergerak.
Sebab gereja yang hidup bukan gereja yang paling besar, melainkan gereja yang terus bertumbuh.
Dan hari ini, Paroki Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok sedang bergerak menuju masa depannya sendiri; bukan sekadar menjadi paroki baru, tetapi menjadi paroki yang memberi warna baru bagi perjalanan Keuskupan Labuan Bajo.
Bemo kecil itu kini masih melaju.
Mesinnya mungkin belum sesempurna bus besar, jalannya mungkin masih panjang, tetapi debu yang ditinggalkannya mulai terlihat oleh banyak orang. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, bemo kecil dari Merombok itu akan menjadi kendaraan yang menginspirasi perjalanan banyak orang lain. (Komsos Paroki Merombok/ Tian Candra**).





