
Merombok, 18 Oktober 2026 – Suasana Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXIX di Gereja Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok, Minggu (18/10/2026), terasa semakin meriah berkat lantunan pujian anak-anak Putra Putri Altar (PPA). Dengan penuh semangat dan kepolosan, anak-anak ini mempersembahkan suara terbaik mereka dalam perayaan Hari Minggu Misi Sedunia ke-100.
Misa yang mengusung tema “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi” tersebut dipimpin oleh Pastor Paroki RD. Antonius Sanor, didampingi RP. Rendi Max. Kehadiran anak-anak PPA sebagai petugas koor menjadi salah satu momen istimewa yang menarik perhatian umat sekaligus menghadirkan sukacita dalam perayaan iman tersebut.
Pastor RD. Antonius Sanor memberikan apresiasi atas keterlibatan anak-anak PPA yang telah mengambil bagian dalam pelayanan liturgi. Baginya, pujian yang mereka persembahkan bukan sekadar nyanyian, melainkan ungkapan iman dan persembahan tulus kepada Tuhan.

“Koor yang sangat meriah dari anak-anak PPA sangat luar biasa dan ini merupakan persembahan yang indah kepada Tuhan. Anak-anak kita mempersembahkan suara terbaik mereka untuk Tuhan. Mereka ini harapan Gereja masa depan,” ungkap RD. Antonius, disambut tepuk tangan hangat umat yang hadir.
Ia berharap kebiasaan baik dalam melibatkan anak-anak pada pelayanan Gereja terus dipelihara dan dikembangkan, mulai dari Komunitas Basis Gerejawi (KBG), wilayah, paroki, hingga keuskupan. Pembinaan sejak dini dinilai penting untuk menumbuhkan iman, kecintaan terhadap Gereja, serta semangat melayani dalam diri generasi muda.
Dalam homilinya, RD. Antonius mengajak umat merenungkan Injil Matius 22:15-21 tentang sabda Yesus, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Ia menjelaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga seluruh hidupnya harus mencerminkan kasih dan kebaikan Tuhan. Jika uang memiliki gambar Kaisar, manusia sebagai citra Allah dipanggil untuk mempersembahkan hidupnya kepada Allah melalui tindakan nyata.
“Menurut Kitab Kejadian, kita adalah gambar Allah, kita adalah citra Allah. Jika pada uang ada gambar Kaisar maka berikan pada Kaisar, maka karena kita adalah citra Allah, hidup kita harus terarah dan dipersembahkan kepada Allah,” tegasnya.
Menurutnya, persembahan kepada Allah tidak hanya diwujudkan melalui doa dan kehadiran dalam perayaan Ekaristi, tetapi juga melalui sikap saling mengasihi, membantu sesama, serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam momentum peringatan 100 tahun Hari Minggu Misi Sedunia, RD. Antonius juga mengingatkan bahwa setiap umat memiliki tanggung jawab untuk mewartakan kasih Allah. Misi tidak selalu berarti pergi ke tempat yang jauh, tetapi dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga, KBG, dan wilayah.
“Perutusan kita adalah menghadirkan Allah dalam kehidupan bersama orang lain. Bagi kita umat Paroki Merombok, tugas kita adalah menjadikan setiap keluarga, setiap KBG, dan setiap wilayah sebagai tempat untuk mengalami kasih Tuhan,” ujarnya.
Ia menyinggung semangat misioner yang membawa pewartaan Injil hingga ke berbagai negara, termasuk pengalaman RP. Rendi Max di Spanyol. Namun, ia menegaskan bahwa setiap orang dapat menjalankan misi sesuai dengan panggilan dan kemampuannya, tanpa harus pergi jauh dari tempat tinggalnya.
“Kalau kita tidak punya kesempatan untuk bisa seperti semangat misioner yang dibawa hingga ke Spanyol—seperti yang dialami RP. Rendi—mari kita memulainya dari rumah kita sendiri. Bukan soal jauh dan luasnya wilayah, tetapi kesetiaan kita untuk bersatu dengan Kristus,” tambahnya.
Menutup homilinya, RD. Antonius mengajak umat menjadi seperti lilin yang menerangi dan memberikan kehangatan bagi orang-orang di sekitarnya. Menurutnya, menjadi pembawa terang berarti bersedia berjuang, melayani, dan berkorban demi kebaikan sesama.
“Mari kita terus menjadi lilin yang menerangi dan memberi cahaya kepada siapa saja di sekitarnya. Walaupun untuk itu kita harus berjuang dan berkorban. Sama seperti lilin, untuk bisa menyala dan memberi kehangatan, dia harus membiarkan dirinya menderita dan habis terbakar,” pungkasnya.
Perayaan Hari Minggu Misi Sedunia ke-100 ini menjadi ajakan bagi seluruh umat Paroki Merombok untuk semakin menghidupi semangat persatuan dan perutusan. Melalui pujian anak-anak PPA, umat diajak menyadari bahwa setiap orang, termasuk anak-anak, memiliki peran dalam kehidupan Gereja.
Semangat misi pun diharapkan terus bertumbuh melalui hal-hal sederhana: melayani dengan tulus, mengasihi sesama, dan menghadirkan kasih Allah mulai dari keluarga hingga lingkungan masyarakat. (Komsos Paroki Merombok-Tian Candra)





