(Catatan sederhana Retret UNIO Imam Projo Keuskupan Labuan Bajo)

Oleh: RD. Sanor Antony
Merombok, 1 Oktober 2026– Retret Unio Keuskupan Labuan Bajo yang berlangsung pada 27–29 September 2026 menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi saya bersama Bapak Uskup dan 56 imam Keuskupan Labuan Bajo untuk berhenti sejenak dari kesibukan pelayanan. Di keheningan Rumah Spiritualitas St. Yohanes Maria Vianney kami mengambil waktu untuk masuk dalam diri, berdoa, berefleksi, dan melihat kembali perjalanan panggilan serta pelayanan kami sebagai imam.
Retret ini dibimbing oleh P. Kamelus Kamus, CICM, dengan tema “Imam Sinodal: Berakar dalam Kristus, Bersaudara dalam Pelayanan, Solider dalam Perutusan.” Tema ini sederhana, tetapi sangat dalam. Tema ini mengingatkan saya bahwa menjadi imam bukan hanya soal melaksanakan tugas-tugas pastoral, tetapi pertama-tama tentang berjalan bersama, bagaimana saya hidup dalam hubungan yang dekat dengan Kristus, membangun persaudaraan dengan sesama imam, dan menghadirkan kasih Allah melalui pelayanan kepada umat.
1. Berakar dalam Kristus
Bagian pertama dari tema retret ini adalah “Berakar dalam Kristus.” Kristus adalah “Muscle Struggle” bagi seorang imam. Sebuah pohon dapat bertumbuh dan menghasilkan buah apabila memiliki akar yang kuat. Demikian juga kehidupan seorang imam. Pelayanan yang baik membutuhkan dasar yang kuat, dan dasar itu adalah Kristus sendiri.
Dalam kesibukan sehari-hari, seorang imam dapat dengan mudah terjebak dalam berbagai pekerjaan: merayakan Ekaristi, melayani umat, menghadiri rapat, mengurus administrasi, mengunjungi umat, memberikan pelayanan sakramental dan berbagai tugas lainnya. Semua itu penting. Namun, ada bahaya bahwa imam menjadi begitu sibuk bekerja untuk Tuhan tetapi semakin kurang memiliki waktu untuk bersama Tuhan.
Retret menjadi kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: Apakah Kristus sungguh menjadi pusat hidup dan pelayanan saya? Apakah saya masih menyediakan waktu yang cukup untuk berdoa, membaca dan merenungkan Sabda Allah, merayakan Ekaristi dengan sungguh-sungguh, serta membangun relasi pribadi dengan Tuhan?
Saya menyadari bahwa kekuatan seorang imam bukan terutama berasal dari kemampuan, pengetahuan, pengalaman, atau keberhasilannya dalam pelayanan. Kekuatan utama seorang imam berasal dari Kristus. Karena itu, semakin banyak tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, semakin kita membutuhkan kedekatan dengan Tuhan.
Retret mengajak saya untuk kembali ke akar. Sebelum menjadi pelayan bagi orang lain, saya sendiri harus terlebih dahulu membiarkan diri dilayani dan dibentuk oleh Kristus.
2. Bersaudara dalam Pelayanan
Bagian kedua adalah “Bersaudara dalam Pelayanan.” Sebagai imam, saya tidak berjalan sendirian. Saya adalah bagian dari satu presbiterium, satu keluarga besar para imam yang bersama-sama menerima tugas untuk melayani umat Allah.
Dalam kehidupan bersama, tentu ada perbedaan karakter, pengalaman, cara berpikir, kemampuan, dan cara menjalankan pelayanan. Perbedaan tersebut merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Namun, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menjauh satu sama lain.

Retret ini mengingatkan saya bahwa persaudaraan imam harus terus dirawat. saya membutuhkan orang lain, saudara dalam imamat. Ada saat ketika saya kuat dan dapat membantu yang lain. Ada pula saat ketika saya mengalami kelelahan, kesulitan, kekecewaan, atau pergumulan dan membutuhkan dukungan dari saudara-saudara imam.
Saya menyadari persaudaraan bukan hanya berarti berkumpul dalam kegiatan bersama. Persaudaraan berarti mampu mendengarkan, memahami, menghargai, mengampuni, menegur dengan kasih, dan saling menopang.
Saya semakin menyadari bahwa kesatuan para imam merupakan kesaksian penting bagi umat. Ketika para imam mampu berjalan bersama, saling menghargai dan bekerja sama, umat pun akan merasakan bahwa Gereja sungguh merupakan keluarga.
Karena itu, semangat sinodal harus mulai tumbuh dari dalam kehidupan para imam sendiri. Sebagai imam, saya tidak hanya berbicara tentang berjalan bersama, tetapi harus sungguh-sungguh menghidupinya dalam persaudaraan sehari-hari.
3. Solider dalam Perutusan
Bagian ketiga dari tema retret adalah “Solider dalam Perutusan.” Imam dipanggil bukan untuk hidup bagi dirinya sendiri. Ia diutus untuk umat dan bersama umat.
Menjadi imam berarti memiliki hati yang terbuka terhadap kegembiraan dan penderitaan umat. Ketika umat bersukacita, imam ikut bersukacita. Ketika umat mengalami kesulitan, imam dipanggil untuk hadir dan berjalan bersama mereka.
Solidaritas tidak selalu harus diwujudkan dalam sesuatu yang besar. Kadang-kadang solidaritas hadir melalui sebuah kunjungan, sapaan, mendengarkan keluhan seseorang, mendoakan keluarga yang sedang mengalami persoalan, memberikan perhatian kepada orang miskin, atau hadir di tengah umat yang sedang mengalami bencana dan kesulitan.
Perutusan seorang imam bukan hanya berbicara dari mimbar, tetapi juga hadir dan berjalan bersama umat. Imam dipanggil untuk mengenal kehidupan umatnya, memahami tantangan mereka, dan bersama-sama mencari jalan untuk menghadirkan harapan.
Dalam konteks Keuskupan Labuan Bajo yang terus berkembang dengan berbagai tantangan pastoral, semangat solidaritas menjadi semakin penting. Saya dan teman-teman imam dipanggil untuk tidak hanya membangun Gereja secara fisik, tetapi terutama membangun umat sebagai komunitas yang saling peduli dan saling menolong.
4. Pembaruan Komitmen
Retret ini pada akhirnya menjadi kesempatan untuk melakukan pembaruan diri. Saya diajak untuk tidak hanya bertanya, “Apa yang sudah saya kerjakan?”, tetapi juga, “Bagaimana saya menjalankan panggilan saya sebagai imam?”, “Sudah seberapa dekat saya dengan Kristus dan dengan rekan-rekan imam?”, “Sudah berapa banyak orang yang menjadi dekat dengan Tuhan dan dengan sesamanya berkat kesaksian hidup saya?”

Saya membawa pulang dari retret ini sebuah kesadaran bahwa menjadi imam adalah sebuah perjalanan yang terus-menerus membutuhkan pertobatan dan pembaruan. Tidak ada imam yang sudah sempurna. Saya masih belajar untuk semakin menyerupai Kristus, Sang Imam Agung.
Semoga pengalaman retret ini tidak berhenti pada tiga hari di Rumah Spiritualitas St. Yohanes Maria Vianney. Semoga keheningan, doa, persaudaraan dan refleksi yang dialami selama retret terus hidup dalam pelayanan sehari-hari saya di paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok.
Kiranya saya dan para imam Unio Keuskupan Labuan Bajo semakin berakar dalam Kristus, semakin erat sebagai saudara, dan semakin solider dalam menjalankan perutusan.
“Tuhan, jadikanlah saya imam yang dekat dengan-Mu, dekat dengan saudara-saudara seimamat, dan dekat dengan umat yang saya layani. Semoga melalui hidup dan pelayanan saya, semakin banyak orang mengalami kasih dan kerahiman-Mu.” (Komsos Paroki Merombok- RD. Sanor Antony)





