
Labuan Bajo, 12 Agustus 2026 – Sebanyak 550 pelajar bergerak serentak membentuk tiga formasi penuh makna di hadapan ribuan penonton Waterfront City Marina Labuan Bajo. Dalam balutan Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara, para siswa-siswi SMKS Stella Maris Labuan Bajo tidak sekadar menyuguhkan pertunjukan seni, tetapi menghadirkan pesan iman, persaudaraan, budaya, dan kepedulian terhadap bumi melalui setiap gerakan yang mereka tampilkan, Rabu (12/8/2026).
Pertunjukan kolosal tersebut menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian dalam rangkaian Festival Golo Koe 2026. Lima ratus lima puluh pelajar tampil kompak dalam koreografi yang memadukan seni tari, musik inkulturatif, puisi, dan unsur budaya Manggarai.
Di tengah kemeriahan Waterfront City, gerakan ratusan pelajar tersebut perlahan membentuk tiga pola utama. Setiap formasi tidak dibuat sekadar untuk keindahan visual, tetapi membawa pesan filosofis yang berakar pada kehidupan dan kearifan masyarakat Manggarai.
Tiga Formasi, Tiga Pesan
Formasi pertama adalah Lingko, yang terinspirasi dari pola pembagian tanah adat Manggarai berbentuk jaring laba-laba. Lingko tidak hanya menggambarkan sistem pengelolaan tanah, tetapi juga merefleksikan nilai kebersamaan, keadilan, dan tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat.
Melalui formasi ini, para pelajar menyampaikan pesan bahwa tanah dan alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi bagian penting dari kehidupan yang harus dikelola dan diwariskan secara bertanggung jawab kepada generasi berikutnya.
Formasi kedua adalah Festival Golo Koe 2026. Ratusan pelajar membentuk pola yang merepresentasikan identitas festival sekaligus menjadi simbol persatuan.
Keberagaman yang hadir dalam Festival Golo Koe dipertemukan dalam satu semangat kebersamaan. Perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang, tetapi menjadi kekayaan yang memperkuat persaudaraan.
Sementara itu, formasi ketiga adalah Rumah Gendang atau Mbaru Niang yang dilengkapi dengan simbol Compang.
Formasi ini menggambarkan rumah sebagai pusat kehidupan masyarakat Manggarai. Rumah Gendang menjadi ruang perjumpaan, tempat masyarakat membangun persaudaraan, menjaga adat, merawat nilai-nilai bersama, serta mengambil keputusan demi kepentingan komunitas.
Ketiga formasi tersebut kemudian menyatu menjadi sebuah pertunjukan kolosal yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan pesan budaya dan spiritual.
Maria sebagai Simbol Kasih dan Persaudaraan

Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Sosok Bunda Maria ditampilkan sebagai figur seorang ibu yang merangkul dan menerima semua orang tanpa membedakan suku, agama, maupun golongan.
Karena itu, tarian tersebut dimaknai bukan sekadar sebagai pertunjukan seni, tetapi sebagai bentuk devosi dan doa melalui gerak.
Nilai iman tersebut dipertemukan dengan budaya lokal Manggarai. Gerakan para penari menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang persaudaraan, kebersamaan, penghormatan terhadap alam, dan pentingnya menjaga warisan budaya.
Pesan tersebut semakin relevan dengan semangat Festival Golo Koe 2026 yang menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam membangun kehidupan bersama di Labuan Bajo.
Musik, Puisi, dan Torok Manggarai
Kemegahan pertunjukan semakin terasa dengan hadirnya iringan musik inkulturatif, pembacaan puisi, serta torok Manggarai atau deklamasi adat.
Lagu Manikmata Lonto Cama karya Ivan Nestorman turut mengiringi gerakan 550 pelajar. Perpaduan musik, gerak, puisi, dan tradisi adat menciptakan suasana yang khidmat sekaligus spektakuler di tengah kawasan Waterfront City.
Ribuan penonton yang memadati tribun dan area sekitar panggung menyaksikan bagaimana ratusan pelajar bergerak dalam satu kesatuan. Setiap perubahan formasi menjadi bagian dari cerita besar tentang manusia, budaya, iman, dan hubungan dengan alam.
Generasi Muda Merawat Budaya
Keterlibatan 550 pelajar dalam pertunjukan ini juga menjadi bagian penting dari upaya mewariskan budaya kepada generasi muda.
Melalui Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara, para pelajar tidak hanya belajar tentang teknik tari dan seni pertunjukan. Mereka juga diperkenalkan pada filosofi Lingko, Rumah Gendang, Compang, serta nilai-nilai kebersamaan yang hidup dalam masyarakat Manggarai.
Festival Golo Koe 2026 dengan demikian menjadi ruang perjumpaan antara generasi muda, budaya lokal, dan kehidupan iman. Seni menjadi jembatan untuk mengenalkan kembali nilai-nilai tradisi dalam bentuk yang kreatif dan relevan bagi generasi sekarang.
Pertunjukan tersebut sekaligus memperlihatkan wajah Labuan Bajo sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan komunitas. Di tengah keberagaman masyarakatnya, budaya dan iman dapat berjalan bersama dalam semangat persaudaraan.
Pada akhirnya, 550 pelajar dan tiga formasi sarat makna dalam Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara bukan hanya meninggalkan kesan visual bagi para penonton. Pertunjukan itu membawa pesan bahwa iman, budaya, generasi muda, dan kepedulian terhadap bumi dapat dirajut dalam satu gerakan bersama.
Semangat tersebut menemukan titik temu dalam pesan Festival Golo Koe 2026: “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi.” (Komsos Paroki Merombok, Tian Candra)





