
Merombok 3 Agustus 2026 – “Jangan hanya pandai berbicara, tetapi belajarlah menjadi pendengar yang setia seperti Bunda Maria.” Pesan itulah yang menjadi inti homili Vikaris Episkopal (Vikep) Labuan Bajo, RD Yuvensius Rugi, dalam Perayaan Ekaristi penyambutan Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara di Gereja Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok, Senin (3/8/2026) sore.
Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat itu menjadi puncak penyambutan lawatan Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara di Paroki Merombok, setelah sebelumnya arca disambut secara adat Manggarai melalui Torok Kapu Agu Naka sebagai simbol ketulusan hati umat menerima kehadiran Bunda Maria. Ribuan umat memenuhi gereja hingga halaman luar gereja untuk mengikuti perayaan yang dipimpin RD Yuvensius Rugi, didampingi Pastor Paroki RD Antonius Sanor dan RD Kristo Selamat.
Dalam homilinya, RD Yuvensius mengajak umat merenungkan dua teladan utama Bunda Maria yang relevan bagi kehidupan orang beriman, yakni menjadi pendengar yang setia dan memiliki kasih yang terus bergerak dalam tindakan nyata.
Mendengarkan Adalah Awal Kehidupan
Vikep mengingatkan bahwa banyak persoalan dalam hidup berawal dari ketidakmampuan manusia untuk mendengarkan, baik mendengarkan Tuhan maupun sesama.
Menurutnya, dunia saat ini dipenuhi orang yang pandai berbicara, tetapi semakin sedikit yang sungguh-sungguh mau mendengarkan.

Ia mengutip pesan Allah kepada bangsa Israel melalui para nabi, “Dengarkanlah supaya kamu hidup.” Bagi RD Yuvensius, mendengarkan bukan sekadar mendengar suara, melainkan menyimak dengan hati, memahami, mengolah, lalu mengambil keputusan yang benar berdasarkan kehendak Allah.
“Mendengarkan berarti menyimak, memahami, lalu menentukan sikap. Orang yang mau mendengarkan harus berani menurunkan egonya, membuka hati, dan percaya bahwa kebijaksanaan juga datang melalui orang lain,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa salah satu kebutuhan paling mendasar dalam relasi antarmanusia adalah didengar, diterima, dan dipahami. Karena itu, ketika seseorang mau mendengarkan tanpa tergesa-gesa memotong pembicaraan orang lain, sesungguhnya ia sedang membangun hubungan yang sehat dan penuh kasih.
Bunda Maria, Pendengar Setia Sabda Allah
Dalam refleksinya, RD Yuvensius menempatkan Bunda Maria sebagai teladan sempurna seorang pendengar.
Menurutnya, Maria dikenal bukan karena banyak berbicara, melainkan karena kesediaannya mendengarkan Allah dengan hati yang terbuka.
Maria menerima sabda Tuhan, menyimpannya di dalam hati, lalu mewujudkannya dalam ketaatan yang total melalui jawabannya, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Vikep mengatakan bahwa Maria memahami karya Allah bukan semata-mata melalui akal budi, melainkan melalui telinga yang mau mendengar dan hati yang siap menerima.
“Maria memahami begitu banyak kebaikan Tuhan melalui telinga dan hatinya. Ia mendengarkan tanpa menghakimi, menyimpan setiap peristiwa di dalam hati, lalu menjadikan semuanya sebagai jalan untuk semakin dekat dengan kehendak Allah,” katanya.
Karena itu, ia mengajak umat untuk meneladani Bunda Maria dengan belajar menjadi pribadi yang tidak hanya suka berbicara, tetapi juga rendah hati mendengarkan Tuhan, keluarga, dan sesama.

Kasih yang Tidak Pernah Diam
Selain sebagai pendengar setia, RD Yuvensius juga mengajak umat meneladani kasih Bunda Maria yang selalu diwujudkan dalam tindakan.
Ia mencontohkan peristiwa Pesta Perkawinan di Kana, ketika Maria dengan hati seorang ibu peka melihat kesulitan tuan pesta yang kehabisan anggur.
Tanpa menunggu diminta, Maria segera menyampaikan kebutuhan itu kepada Yesus dan berkata kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.”
Menurut Vikep, dua kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa kasih sejati tidak pernah berhenti pada rasa iba, tetapi selalu bergerak menjadi tindakan nyata.
“Kasih itu hidup, bukan kasih yang mati. Kasih selalu bergerak. Ketika melihat ada sesuatu yang tidak beres, kasih mendorong kita untuk bertindak. Begitulah Maria, hatinya menjadi jembatan yang menghubungkan kesulitan manusia dengan kasih Allah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh karya Yesus lahir dari belas kasih yang tidak pernah tinggal diam. Ke mana pun Yesus pergi, Ia selalu meninggalkan sukacita melalui tindakan nyata: menyembuhkan orang sakit, memberi makan yang lapar, menghibur yang berduka, dan membangkitkan harapan bagi mereka yang kehilangan.

Menjadikan Maria Teladan Hidup Beriman
Menutup homilinya, RD Yuvensius mengajak seluruh umat menjadikan lawatan Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara sebagai momentum memperbarui kehidupan iman.
Menurutnya, kehadiran Bunda Maria di Paroki Merombok bukan hanya sebuah peristiwa devosional, tetapi undangan bagi setiap orang untuk meneladani cara hidup Maria: setia mendengarkan Allah dan menghadirkan kasih melalui tindakan nyata.
“Mari kita belajar dari Bunda Maria menjadi pribadi yang senantiasa mendengarkan, bukan hanya suka berbicara. Dan mari kita menghadirkan kasih yang terus bergerak, kasih yang hidup, yang mengalir melalui kata-kata dan tindakan kita sehingga membawa sukacita bagi sesama,” ajaknya.
Lawatan Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara di Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok merupakan bagian dari rangkaian Festival Golo Koe 2026 Keuskupan Labuan Bajo yang akan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026. Kehadiran ribuan umat dalam perayaan ini menjadi gambaran bahwa devosi kepada Bunda Maria tetap hidup di tengah Gereja, sekaligus menjadi momentum memperdalam iman melalui teladan hidup Sang Bunda yang selalu mendengarkan kehendak Allah dan menghadirkannya dalam kasih yang nyata. (Komsos Merombok, Tian Candra)





