Oleh: Adrianus Taur
Ketua Wilayah V Paroki St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok
Merombok, 08 Juli 2026 – Di tengah dunia yang semakin ditandai oleh krisis iklim, polarisasi sosial, dan tekanan ekonomi, Festival Golo Koe 2026 hadir dengan sebuah tema yang melampaui makna sebuah perayaan: “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan.” Tema ini mengandung pesan bahwa merawat bumi tidak dapat dipisahkan dari upaya merawat manusia, budaya, persaudaraan, dan kehidupan bersama.
Banyak orang mungkin memandang Festival Golo Koe sebagai festival budaya atau agenda wisata rohani semata. Padahal, jika dicermati lebih dalam, festival ini menawarkan sebuah cara pandang baru tentang pembangunan. Ia mengajak kita memahami bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas relasi antarmanusia, kelestarian budaya, dan keberlanjutan alam yang menjadi rumah bersama.
Konsep ziarah komunal menjadi sangat relevan. Berziarah bukan sekadar berjalan menuju suatu tempat suci, melainkan perjalanan bersama untuk mengalami perubahan. Dalam perjalanan itu, setiap orang diajak keluar dari kepentingan pribadi menuju kepedulian terhadap sesama dan seluruh ciptaan. Di sinilah Festival Golo Koe menjadi ruang perjumpaan, bukan hanya antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga antara manusia dengan sesamanya, dengan budaya, dan dengan alam.
Budaya menjadi bahasa pertama yang menyatukan perjalanan itu. Atraksi budaya Manggarai, mulai dari tarian tradisional, musik, tenun, ritus adat, hingga berbagai ekspresi seni, bukan sekadar hiburan bagi wisatawan. Semua itu adalah identitas yang diwariskan oleh leluhur dan mengandung nilai penghormatan terhadap kehidupan, kebersamaan, dan alam.
Yang menarik, Festival Golo Koe tidak berhenti pada pelestarian budaya lokal. Festival ini juga membuka ruang bagi hadirnya budaya dari berbagai etnis yang hidup di Labuan Bajo. Keberagaman itu tidak dipandang sebagai ancaman terhadap identitas, melainkan sebagai kekayaan yang memperindah kehidupan bersama. Dalam festival ini, budaya menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai suku, agama, dan komunitas dalam semangat saling menghormati.
Pesan tersebut menjadi sangat penting bagi Labuan Bajo yang berkembang sebagai destinasi pariwisata dunia. Di tengah arus globalisasi, identitas budaya justru menjadi kekuatan yang membedakan suatu daerah dari tempat lain. Pariwisata yang kehilangan akar budaya akan berubah menjadi tontonan tanpa jiwa. Sebaliknya, ketika budaya dirawat, pariwisata memperoleh makna yang lebih dalam karena menawarkan pengalaman, nilai, dan cerita yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Namun Festival Golo Koe juga mengingatkan bahwa budaya harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, keterlibatan pelaku UMKM bukan sekadar pelengkap acara. Mereka merupakan bagian penting dari misi pemberdayaan ekonomi umat.
Di balik setiap lembar kain tenun, secangkir kopi Manggarai, anyaman bambu, produk herbal, kerajinan tangan, maupun kuliner tradisional, terdapat kisah tentang keluarga yang bekerja, kreativitas yang diwariskan, dan harapan akan kehidupan yang lebih sejahtera. Ketika wisatawan membeli produk lokal, sesungguhnya mereka sedang ikut menjaga keberlangsungan budaya sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Inilah wajah pembangunan yang berakar pada manusia. Festival tidak hanya menghadirkan keramaian selama beberapa hari, tetapi diharapkan mampu membuka pasar baru, memperluas jejaring usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat posisi UMKM sebagai pilar ekonomi lokal. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi warisan yang dipamerkan, tetapi juga sumber kesejahteraan yang terus bertumbuh.
Lebih jauh lagi, Festival Golo Koe memperlihatkan bahwa keutuhan ciptaan tidak hanya berbicara tentang kelestarian lingkungan. Keutuhan ciptaan juga berarti keutuhan relasi antarmanusia. Tidak mungkin berbicara tentang merawat bumi jika manusia masih terpecah oleh prasangka, diskriminasi, atau konflik identitas.
Karena itu, salah satu kekuatan terbesar Festival Golo Koe adalah kemampuannya menghadirkan kolaborasi lintas agama, lintas suku, lintas etnis, dan lintas komunitas. Semua mengambil bagian, bukan karena memiliki keyakinan yang sama, tetapi karena memiliki tujuan yang sama: membangun kehidupan bersama yang damai dan bermartabat.
Di tengah meningkatnya polarisasi di berbagai belahan dunia, Festival Golo Koe justru menunjukkan wajah Indonesia yang sesungguhnya. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, bekerja sama, dan bertumbuh bersama. Di sana, toleransi tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir dalam kerja nyata, gotong royong, dan persaudaraan yang dapat dirasakan oleh siapa pun yang mengikuti festival ini.
Seluruh dimensi itu akhirnya bermuara pada pesan utama tema Festival Golo Koe tahun ini. Merawat keutuhan ciptaan berarti merawat alam agar tetap lestari, menjaga budaya agar tidak hilang ditelan zaman, memberdayakan ekonomi masyarakat agar semakin mandiri, dan membangun persaudaraan agar kehidupan bersama tetap harmonis. Keempatnya tidak dapat dipisahkan. Alam yang lestari membutuhkan manusia yang bersatu; budaya yang hidup membutuhkan masyarakat yang sejahtera; dan kesejahteraan yang berkelanjutan hanya mungkin terwujud jika dibangun di atas fondasi persaudaraan.
Bagi saya, inilah makna terdalam Festival Golo Koe. Festival ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah gerakan moral yang mengajak semua orang berjalan bersama. Sebuah ziarah menuju masyarakat yang mampu merawat bumi tanpa kehilangan budayanya, membangun ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan, dan merayakan keberagaman tanpa kehilangan rasa persaudaraan.
Ketika festival berakhir, panggilan itu tidak ikut selesai. Ia justru harus terus hidup dalam keseharian kita: saat kita menjaga lingkungan, mencintai budaya sendiri, membeli produk UMKM lokal, menghormati perbedaan, dan bergandengan tangan membangun Manggarai Barat. Sebab pada akhirnya, merawat keutuhan ciptaan bukan hanya tugas Gereja atau pemerintah, melainkan panggilan setiap orang yang percaya bahwa masa depan hanya dapat dibangun jika kita berjalan bersama dalam persekutuan yang sinergis. (Komsos Merombok, Penulis Adrianus Taur, Editor: Tian Candra)





