Labuan Bajo, 6 Juli 2026 – Di tengah meningkatnya cuaca ekstrem, bencana hidrometeorologi, dan ancaman kerusakan lingkungan yang melanda berbagai belahan dunia, Festival Golo Koe 2026 hadir membawa pesan yang lebih dari sekadar perayaan budaya dan pariwisata. Festival yang diinisiasi Gereja Keuskupan Labuan Bajo ini menawarkan sebuah jawaban moral, spiritual, sekaligus sosial terhadap krisis iklim melalui tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan.”

Tema tersebut lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi bumi yang semakin rapuh. Perubahan iklim yang kini dirasakan masyarakat melalui cuaca yang tidak menentu, kekeringan, banjir, hingga berbagai bencana alam menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam membutuhkan pembaruan yang mendasar.
Di saat yang sama, Labuan Bajo terus berkembang sebagai Destinasi Pariwisata Superprioritas nasional. Pertumbuhan sektor pariwisata membawa peluang besar bagi kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam menjaga kelestarian lingkungan. Karena itu, Festival Golo Koe mengajak seluruh pihak melihat pariwisata bukan semata-mata sebagai aktivitas ekonomi, melainkan sebagai ruang membangun relasi yang harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Festival Golo Koe sejak awal memang dihadirkan sebagai kontribusi Gereja dalam mendampingi pembangunan pariwisata Labuan Bajo. Melalui pendekatan spiritualitas, festival ini mengajak masyarakat untuk memandang alam sebagai rumah bersama yang harus dirawat, bukan sekadar sumber daya yang dieksploitasi.
Dalam peluncuran Festival Golo Koe 2026 pada 4 Juni 2026 lalu, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi “kekacauan iklim” (climate chaos) dan “kelangkaan ekologis” (ecological scarcity). Menurutnya, situasi tersebut tidak cukup dijawab dengan kebijakan teknis semata, tetapi memerlukan pertobatan ekologis, yakni perubahan cara pandang dan gaya hidup manusia dalam memperlakukan alam.

Pertobatan ekologis itu, menurut Gereja, diwujudkan melalui tindakan nyata yang mengembalikan bumi sebagai rumah bersama bagi seluruh ciptaan. Pesan ini selaras dengan semangat ensiklik Laudato Si’ yang mengajak seluruh umat manusia membangun tanggung jawab bersama dalam merawat lingkungan hidup.
Nada yang sama disampaikan Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi. Ia menegaskan bahwa tema Festival Golo Koe tahun ini merupakan alarm penting agar masyarakat tidak berhenti pada diskusi mengenai perubahan iklim, tetapi bergerak menuju aksi nyata. Festival ini diharapkan menjadi ruang transformasi spiritual, sosial, dan ekonomi yang memperkuat komitmen menjaga keberlanjutan kehidupan di Labuan Bajo.
Komitmen tersebut tidak berhenti pada slogan. Dalam rangkaian pekan puncak Festival Golo Koe pada 10–15 Agustus 2026, panitia menyiapkan berbagai agenda yang secara khusus berfokus pada isu ekologi. Pada 11 Agustus 2026 akan dilaksanakan Edukasi dan Aksi Ekologis yang melibatkan orang muda, pelajar, serta komunitas peduli lingkungan melalui kegiatan pembersihan sampah dan penanaman pohon.
Selain itu, selama penyelenggaraan festival, panitia berkomitmen menerapkan prinsip penyelenggaraan yang ramah lingkungan melalui pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta aksi pemulihan lingkungan dengan penanaman pohon kelapa di kawasan pesisir pantai.
Melalui langkah-langkah tersebut, Festival Golo Koe ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup diwujudkan dalam pidato atau seruan moral, melainkan harus menjadi budaya hidup bersama. Festival ini menjadi ruang kolaborasi antara Gereja, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat untuk memperkuat kesadaran bahwa masa depan Labuan Bajo tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan pembangunan pariwisata, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemen menjaga keutuhan ciptaan. Di tengah ancaman kekacauan iklim yang semakin nyata, Festival Golo Koe 2026 menggemakan sebuah pesan sederhana namun mendalam: merawat bumi bukan sekadar pilihan, melainkan panggilan bersama. Dari Labuan Bajo, festival ini mengajak semua orang menjadikan pembangunan dan pelestarian lingkungan berjalan beriringan, sehingga kemajuan yang dicapai hari ini tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (Komsos Paroki Merombok-Tian Candra)





