Merombok, 5 Juli 2026 – Perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-XIV (5/7/2026) di Paroki Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok menjadi momen istimewa yang memadukan keindahan seni liturgi dan kedalaman pesan Injil. Misa dipimpin oleh RD Kristo Selamat dan dimeriahkan oleh lantunan merdu koor Keluarga Besar Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Manggarai Barat. Kehadiran koor yang terdiri dari penyuluh agama Katolik dan pegawai kantor ini tidak hanya memperindah perayaan, tetapi juga selaras dengan tema homili hari ini tentang “kelegaan di tengah beban hidup”.

Melalui lagu-lagu pujian yang dibawakan dengan penuh penghayatan, koor seolah menjadi suara penghiburan bagi umat yang datang membawa berbagai pergumulan, mulai dari kelelahan akibat penyakit, tekanan ekonomi, hingga luka batin yang tak terucap. Nyanyian mereka menjadi pengingat nyata bahwa Tuhan hadir dalam setiap langkah iman kita, bahkan saat kita merasa letih dan berbeban berat.
Apresiasi Romo: Harmonisasi yang Mengantar Kekhusukan
RD. Kristo Selamat menyampaikan terima kasih dan apresiasi khusus kepada keluarga besar Kemenag Manggarai Barat yang telah meluangkan waktu untuk tampil dalam misa paroki. Menurutnya, pelayanan musik liturgi hari itu sungguh luar biasa dan berbeda dari biasanya.
“Koor hari Minggu ini sungguh mengantar umat dalam kekhusukan doa. Lagu yang dibawakan memiliki suasana harmonisasi yang berbeda; walau lagu sering didengar, namun hari Minggu ini warnanya lain dan sungguh luar biasa. Semoga ini menjadi motivasi bagi kami di Paroki Merombok,” ujar Romo Kristo.

Ia menegaskan bahwa sabda Yesus “Marilah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat” bukan sekadar kata-kata indah, melainkan undangan kasih yang tulus, dan lantunan koor Kemenag Manggarai Barat menjadi wujud konkret dari undangan tersebut.
Program Inovatif “Naring Mori”
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Xaverius Adi, saat dijumpai tim Komsos Paroki Santa Theresia usai misa, menjelaskan bahwa kehadiran koor ini merupakan bagian dari program inovatif bernama “Naring Mori”. Program ini digagas sebagai bentuk partisipatif keluarga besar Kemenag Mabar dalam mengambil bagian pelayanan gereja, khususnya melalui koor di gereja-gereja dalam kota Labuan Bajo pada Minggu pertama setiap bulan.
“Kami memilih Minggu pertama karena rekan-rekan lapangan kami, seperti penyuluh agama, semuanya berada di kantor pada hari tersebut sehingga memudahkan koordinasi koor,” jelas Fransiskus Xaverius Adi.
Ia berharap program ini dapat menjadi contoh bagi instansi vertikal lainnya maupun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemerintah Daerah agar memiliki program serupa yang mengintegrasikan tugas kedinasan dengan pelayanan spiritual.

Menurutnya, pelayanan kepada masyarakat tidak hanya dilakukan melalui tugas administratif, tetapi juga melalui keteladanan spiritual. Bersandar pada Tuhan justru membuat pelayanan publik menjadi lebih bermakna dan tidak membebani jiwa, sejalan dengan pesan homili tentang “kuk yang ringan” yang ditawarkan Yesus.
Kelegaan Sejati dan Teladan Kerendahan Hati
Romo Kristo juga menyoroti makna “kuk yang ringan” yang mengubah cara pandang kita terhadap penderitaan. Bersama-Nya, beban tidak hilang, tetapi kita tidak lagi memikulnya sendirian. Hal ini sejalan dengan semangat pelayanan Koor Kemenag Manggarai Barat yang melalui musik liturgi turut meringankan beban rohani umat. Perayaan ini juga menjadi refleksi tentang makna “orang kecil” dalam Kerajaan Allah. Di tengah budaya yang mengejar kesuksesan materi, kesederhanaan dan kerendahan hati justru membuka pintu bagi sukacita sejati. Kehadiran koor Kemenag Manggarai Barat yang melayani dengan tulus tanpa pamrih menjadi teladan nyata dari sikap rendah hati ini yang mengingatkan umat bahwa harta terbesar bukanlah jabatan atau kekayaan, melainkan Tuhan itu sendiri. (Komsos Paroki Merombok – Tian Candra)





