“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” (Kisah Para Rasul 1:8)
Pada 19–21 Juni 2026, saya berkesempatan mengikuti retret yang diselenggarakan oleh Komisi Kerohanian Keuskupan Labuan Bajo di Rumah Unio Keuskupan Labuan Bajo. Sebagai utusan Paroki St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok dan Koordinator Seksi Kerohanian, saya datang dengan harapan memperoleh penyegaran rohani. Namun, saya pulang dengan lebih dari itu: sebuah peneguhan untuk semakin menyerahkan hidup kepada tuntunan Roh Kudus.
Tema retret, “Pelayanan dan Hidup Baru dalam Kuasa Roh Kudus,” terasa sangat relevan dengan kenyataan hidup yang kita hadapi saat ini. Dunia menawarkan begitu banyak jalan pintas menuju kebahagiaan, tetapi tidak sedikit yang justru membawa manusia kepada kehancuran. Perjudian, perselingkuhan, penyalahgunaan narkoba, jeratan pinjaman online, kemabukan, hingga keputusasaan yang berujung pada tindakan bunuh diri menjadi kenyataan yang kita saksikan di sekitar kita.

Di tengah situasi seperti ini, saya semakin menyadari bahwa manusia tidak cukup hanya mengandalkan kekuatannya sendiri. Kita membutuhkan Roh Kudus yang membimbing, menguatkan, dan meneguhkan langkah hidup. Roh Kudus bukan sekadar ajaran yang kita dengarkan, melainkan Pribadi yang bekerja dalam hati setiap orang yang membuka diri kepada-Nya.
Selama mengikuti retret, saya diteguhkan kembali untuk hidup dalam kasih, pengharapan, dan pertobatan. Saya menyadari bahwa kehidupan rohani tidak dibangun melalui pengalaman-pengalaman besar semata, tetapi melalui kesediaan setiap hari untuk mendengarkan suara Tuhan dan setia melaksanakan kehendak-Nya. Ketika Roh Kudus memimpin hidup seseorang, perlahan-lahan lahirlah buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Saya juga melihat bahwa retret bukan sekadar kegiatan tiga hari yang berakhir ketika peserta kembali ke rumah. Retret justru menjadi titik awal untuk memperbarui kehidupan iman dalam keluarga, komunitas, dan paroki. Karena itu, saya berharap kegiatan seperti ini dapat semakin dihidupkan di tingkat paroki, baik bagi Dewan Pastoral Paroki, Dewan Keuangan Paroki, kelompok kategorial, Orang Muda Katolik, maupun seluruh umat. Di tengah kesibukan dan tantangan zaman, setiap orang membutuhkan ruang untuk berdiam diri, mendengarkan Tuhan, dan memperbarui semangat pelayanannya.
Dalam forum retret juga muncul berbagai gagasan yang menurut saya sangat baik bagi pertumbuhan iman umat, seperti menghidupkan kembali perarakan Bunda Maria pada bulan Mei dan Oktober, menghadirkan kapela adorasi sebagai tempat umat berjumpa dengan Yesus dalam Sakramen Mahakudus, serta mendorong umat untuk bergabung dalam komunitas-komunitas rohani yang hidup di Keuskupan Labuan Bajo. Semua ini bukan sekadar program pastoral, melainkan sarana agar umat semakin bertumbuh dalam iman dan memiliki ketahanan rohani menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Saya percaya bahwa komunitas-komunitas rohani dapat menjadi tempat bertumbuh, saling menguatkan, dan menjaga umat agar tetap setia kepada Kristus. Di dalam komunitas, kita belajar berdoa, melayani, berbagi pengalaman iman, dan saling menopang ketika menghadapi pergumulan hidup. Di sanalah Roh Kudus bekerja melalui persaudaraan yang nyata.

Pada akhirnya, retret ini mengingatkan saya bahwa berserah kepada Roh Kudus bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan menyerahkan seluruh hidup agar dibentuk sesuai kehendak Allah. Ketika Roh Kudus menjadi pemimpin hidup kita, Ia menumbuhkan kasih, perdamaian, sukacita, dan semangat melayani. Buah-buah itulah yang seharusnya tampak dalam kehidupan menggereja maupun dalam relasi kita di tengah masyarakat.
Semoga pengalaman sederhana ini tidak berhenti sebagai kenangan pribadi, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap orang beriman dipanggil untuk terus membuka hati terhadap karya Roh Kudus. Sebab hanya bersama-Nya kita dimampukan menjadi murid-murid Kristus yang setia, menghadirkan harapan di tengah dunia, dan menjadi saksi kasih Allah bagi sesama.
Salam dan doa.
Ermelinda Jenina
Koordinator Seksi Kerohanian
Paroki St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok





