Merombok, 22 Juni 2026 – Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, Gereja tidak cukup hanya menjadi tempat umat berdoa dan merayakan iman. Gereja juga dipanggil hadir dalam denyut kehidupan sehari-hari umat, mendengarkan kegelisahan mereka, serta ikut mencari jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi. Salah satu tantangan paling nyata saat ini adalah persoalan ekonomi keluarga.
Bagi banyak umat di Paroki St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok, kehidupan sehari-hari bertumpu pada hasil pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan kecil, serta berbagai usaha rumahan. Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak-anak, dan menjaga kehidupan yang layak. Namun di balik kerja keras itu, tidak sedikit yang masih berhadapan dengan keterbatasan modal, akses pasar, teknologi, dan informasi usaha.
Ironisnya, potensi ekonomi umat yang besar itu sering kali berjalan sendiri-sendiri. Banyak usaha tumbuh secara individual tanpa jejaring yang kuat. Akibatnya, pelaku usaha sulit berkembang dan kurang memiliki daya saing. Padahal, apabila potensi-potensi kecil ini dipersatukan dalam semangat kebersamaan, akan lahir kekuatan ekonomi yang mampu mengangkat kesejahteraan banyak keluarga.
Di sinilah Gereja memiliki peran yang sangat strategis.
Semangat sinodal yang kini menjadi arah perjalanan Gereja Universal mengajak seluruh umat untuk berjalan bersama, saling mendengarkan, dan saling menopang. Semangat ini tidak hanya relevan dalam kehidupan rohani, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Berjalan bersama berarti membangun solidaritas yang nyata, termasuk dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umat.
UMKM dapat menjadi salah satu jalan pastoral yang konkret untuk mewujudkan semangat tersebut.
Sering kali UMKM dipahami semata-mata sebagai aktivitas ekonomi untuk mencari keuntungan. Padahal, lebih dari itu, UMKM adalah sarana pemberdayaan manusia. Sebuah usaha kecil yang berkembang dapat menjadi sumber harapan bagi sebuah keluarga. Dari usaha itulah anak-anak dapat melanjutkan pendidikan, kebutuhan rumah tangga terpenuhi, dan martabat keluarga terjaga.
Ketika ekonomi keluarga menjadi lebih kuat, umat akan memiliki ruang yang lebih luas untuk terlibat dalam kehidupan Gereja dan masyarakat. Karena itu, membangun ekonomi umat sejatinya adalah bagian dari membangun manusia seutuhnya.
Paroki dapat mengambil peran sebagai rumah pemberdayaan. Gereja dapat menjadi ruang perjumpaan bagi para pelaku usaha, tempat berbagi pengalaman, belajar bersama, dan membangun jejaring kerja sama. Pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan, pemasaran digital, hingga pendampingan usaha dapat menjadi bagian dari pelayanan pastoral yang menjawab kebutuhan zaman.
Kelompok-kelompok kategorial, Komunitas Basis Gerejawi (KBG), Orang Muda Katolik (OMK), WKRI, maupun kelompok perempuan dapat menjadi motor penggerak lahirnya berbagai usaha produktif berbasis komunitas. Dengan semangat gotong royong, umat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen yang saling mendukung.
Peluang itu semakin terbuka lebar karena Paroki Merombok berada di wilayah Manggarai Barat yang sedang berkembang pesat sebagai destinasi pariwisata internasional. Kehadiran wisatawan dari berbagai daerah dan negara menghadirkan pasar yang menjanjikan bagi produk-produk lokal.
Tenun khas Manggarai, kuliner tradisional, hasil pertanian organik, produk olahan pangan, kerajinan tangan, hingga jasa wisata berbasis masyarakat memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jika dikelola dengan baik, dipromosikan secara profesional, dan didukung oleh jejaring yang kuat, produk-produk umat dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata yang terus berkembang.
Karena itu, sudah saatnya ekonomi umat tidak dipandang sebagai urusan tambahan, melainkan menjadi bagian integral dari pelayanan pastoral Gereja. Pewartaan Injil akan semakin menyentuh ketika hadir dalam kehidupan nyata umat, termasuk dalam perjuangan mereka untuk memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Mengikat ekonomi umat melalui UMKM bukan sekadar program pengembangan usaha. Ini adalah gerakan pastoral yang membangun solidaritas, menumbuhkan harapan, dan memperkuat persaudaraan. Ketika umat memilih membeli produk sesama umat, saling mempromosikan usaha, berbagi pengetahuan, dan bekerja sama dalam jejaring ekonomi, maka sesungguhnya mereka sedang mewujudkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Paroki St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Merombok memiliki kesempatan besar untuk menjadi contoh Gereja yang tidak hanya menghidupi iman di altar, tetapi juga menghadirkan kasih dalam ruang-ruang ekonomi masyarakat. Gereja yang demikian akan menjadi Gereja yang relevan, dekat dengan umat, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Sebab pada akhirnya, Gereja yang bertumbuh bukan hanya Gereja yang penuh dalam perayaan liturgi, melainkan juga Gereja yang mampu menghadirkan harapan, memberdayakan umatnya, dan menumbuhkan kehidupan yang lebih baik bagi semua.
Iman yang hidup selalu melahirkan karya nyata. Dan salah satu karya nyata yang paling mendesak hari ini adalah membangun ekonomi umat yang mandiri, bermartabat, dan berkelanjutan.
(Komsos Paroki Merombok– Penulis Opini: Adrianus Taur, Editor: Tian Candra**)





