
Labuan Bajo, 10 Agustus 2026 – Suasana penuh sukacita dan semangat kebersamaan mewarnai pembukaan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 di kawasan Waterfront City Labuan Bajo, Senin (10/8/2026).
Kemeriahan pembukaan diawali dengan penyambutan Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Wijayanti Putri Wardana, bersama rombongan melalui adat Tuak Curu oleh tetua adat sebagai simbol penghormatan dan ucapan selamat datang.
Setelah itu, Menteri Pariwisata bersama rombongan meninjau sejumlah stan UMKM dan membeli produk-produk lokal. Rombongan kemudian bergerak menuju panggung utama dengan diiringi penampilan drumband SMPK St. Ignatius Loyola dan Tarian Tiba Meka yang dibawakan oleh SMKN 3 Komodo.
Hadir dalam pembukaan tersebut Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng, unsur Forkopimda, Vikjen Keuskupan Labuan Bajo RD. Rikardus Manggu, pimpinan instansi vertikal, BUMN dan BUMD, para pastor paroki se-Keuskupan Labuan Bajo, biarawan-biarawati, tokoh lintas agama, serta masyarakat.
Setelah pemukulan gong oleh Menteri Pariwisata sebagai tanda dibukanya Festival Golo Koe 2026, Menteri Pariwisata bersama Uskup Labuan Bajo dan Wakil Bupati Manggarai Barat melakukan pemotongan pita sebagai tanda dibukanya pameran UMKM.

Golo Koe: Bukit Kecil dengan Dampak Besar
Dalam sambutannya, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus mengajak seluruh pihak mensyukuri perjalanan kolaboratif Festival Golo Koe yang kini memasuki penyelenggaraan tahun kelima.
Festival ini, menurut Uskup, kembali mendapat kepercayaan sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) Top Ten 2026. Bagi Uskup, pencapaian tersebut merupakan bentuk kepercayaan pemerintah terhadap sebuah gerakan bersama yang terus dibangun oleh Gereja, pemerintah dan masyarakat.
Uskup menegaskan bahwa Festival Golo Koe bukan sekadar perayaan keagamaan maupun agenda pariwisata. Festival ini telah berkembang menjadi ruang perjumpaan, ruang kreativitas dan perjalanan kolaboratif lintas aktor serta lintas sektor.
“Festival Golo Koe telah menjadi ruang perjumpaan, ruang kreativitas, perjalanan kolaboratif lintas aktor, lintas sektor,” ungkapnya.
Menariknya, Uskup juga mengangkat makna nama Golo Koe, yang berarti bukit kecil.
Namun, dari bukit kecil tersebut, menurutnya, dapat lahir dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat.
“Bukit kecil itu tentu akan berdampak besar,” tegasnya.
Pariwisata Harus Berdampak bagi Masyarakat Lokal
Di tengah perkembangan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super premium, Uskup mengingatkan agar pertumbuhan pariwisata memberikan dampak konstruktif bagi masyarakat lokal.

Festival Golo Koe diharapkan menjadi bagian dari upaya agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata, tetapi menjadi pelaku utama yang mendapatkan manfaat dari pertumbuhan tersebut.
Karena itu, festival ini juga diharapkan melahirkan inspirasi dan kegiatan yang memberikan dampak bagi mereka yang berpotensi tertinggal dari arus pembangunan pariwisata.
Merawat Keutuhan Ciptaan
Pesan kuat lainnya yang disampaikan Uskup adalah pentingnya menjaga lingkungan ekologis.
Menurutnya, Labuan Bajo telah dianugerahi keindahan alam yang luar biasa oleh Tuhan. Keindahan tersebut, bagaimanapun, dapat mengalami kerusakan apabila tidak dirawat bersama.
“Ketika kita menentukan pilihan bahwa pariwisata menjadi salah satu andalan kita, maka apapun aktivitas atau kebijakan yang mengancam keberlangsungan lingkungan ekologis, saya kira itu berlawanan dengan ikhtiar kita bersama,” tegas Mgr. Maksimus.
Karena itu, Festival Golo Koe tidak hanya menjadi sarana promosi pariwisata, tetapi juga menjadi promotor nilai-nilai keberlanjutan ekologis dan kehidupan masyarakat lokal.
Pesan tersebut selaras dengan tema Festival Golo Koe 2026, “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan.”
Di akhir sambutannya, Uskup menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, seluruh stakeholder, panitia, para pendukung, serta insan pers yang terus mendukung perjalanan Festival Golo Koe.
Ia berharap kolaborasi tersebut terus berlanjut untuk menjaga keutuhan ciptaan sekaligus mendukung kehidupan masyarakat.
Dari Waterfront City Labuan Bajo, Festival Golo Koe 2026 pun resmi dimulai. Selama enam hari, 10–15 Agustus, festival ini kembali mengajak masyarakat untuk merayakan iman, budaya, persaudaraan dan kehidupan bersama dalam semangat menjaga bumi sebagai rumah bersama. (Komsos Merombok, Tian Candra)





