Dan 7: 9-10, 13-14.
Mat 17: 1-9
Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya.
Dalam bacaan pertama, Nabi Daniel mendapat penglihatan tentang kemuliaan Allah. Ia melihat Anak Manusia yang menerima kuasa, kemuliaan, dan kerajaan yang kekal. Penglihatan itu menegaskan bahwa segala kuasa pada akhirnya berasal dari Allah dan diberikan kepada Putra-Nya.
Dalam Injil, Yesus mengajak Petrus, Yohanes, dan Yakobus naik ke gunung untuk berdoa. Di sanalah mereka menyaksikan Yesus berubah rupa. Wajah-Nya bercahaya dan kemuliaan ilahi-Nya dinyatakan. Mereka begitu terpesona hingga Petrus mengusulkan untuk mendirikan tiga kemah agar dapat tinggal lebih lama di tempat itu.
Namun, Yesus tidak membiarkan para murid berhenti di puncak gunung. Setelah mengalami kemuliaan Allah, mereka harus turun kembali ke tengah kehidupan, menghadapi kenyataan, melayani sesama, dan memikul salib.
Bukankah kita pun sering seperti para murid? Kita senang menikmati pengalaman rohani yang indah, tetapi terkadang lupa bahwa iman tidak berhenti pada doa, ibadah, atau rasa damai yang kita alami. Iman justru menjadi nyata ketika diwujudkan dalam kasih, pengampunan, kepedulian, dan pelayanan kepada sesama.
Kemuliaan Kristus bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk dibagikan. Terang-Nya bukan hanya bersinar di atas gunung, tetapi juga harus menerangi “lembah-lembah” kehidupan: hati yang terluka, keluarga yang sedang berjuang, mereka yang kehilangan harapan, dan siapa saja yang merindukan kasih Allah.
Maka, marilah kita tidak hanya menjadi penikmat kemuliaan Tuhan, tetapi juga menjadi pembawa terang-Nya. Biarlah setiap perkataan, sikap, dan tindakan kita memancarkan cahaya Kristus, sehingga melalui hidup kita, semakin banyak orang mengalami kasih dan kemuliaan Allah. (Agustinus M Berchmans/Katekis Paroki Merombok).
![]()