Bacaan I: Yes: 7: 1-9.
Bacaan Injil : Mat 11: 20-24
Bacaan Injil hari ini menampilkan salah satu bagian yang keras dari pewartaan Yesus. Yesus mengecam Korazim, Kapernaum, dan Batsaida. Padahal, di kota-kota ini Yesus sering mengadakan mukjizat.
Di Kapernaum, misalnya, Yesus menyembuhkan mertua Petrus yang sakit demam. Di Kota di tepi Danau Galilea itu, Yesus membangkitkan (menghidupkan) anak perempuan Yairus. Pewartaan kabar gembira Yesus pun lebih banyak dilakukan di kota tersebut.
Namun, ternyata, kota-kota itu menganggap mukjizat itu seperti angin lalu saja. Mereka tak memahami tanda-tanda heran tersebut sebagai perwujudan kasih Allah yang menyapa manusia. Karena itu, sikap yang pantas untuk itu adalah keterbukaan hati atau dalam konteks yang lebih luas pertobatan. Kecaman Yesus atas kota-kota tersebut lebih karena warga kotanya tak melihat kehadiran Yesus sebagai jalan pertobatan sehingga mukjizat terjadi.
Kita juga mungkin sering seperti Kapernaum, Betsaida, dan Korazim. Kita menikmati kasih Tuhan dalam berbagai rupa anugerah duniawi, seperti kekayaan, jabatan, atau paling umum kesehatan. Namun, kita sering melihat itu sebagai pencapaian pribadi atau hal yang wajar-wajar saja sehingga menutup mata akan kehadiran dan penyelenggaraan Ilahi dalam hidup kita. Akibatnya, kita sering menomorduakan Tuhan. Yang menjadi nomor satu adalah ambisi dan pencapaian pribadi kita.
Melalui Injil hari ini, kita diingatkan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah bagian dari penyelenggaraan Ilahi (providentia Dei). Untuk merasakan atau mengalami ini, tak ada sikap lain, selain keterbukaan hati kepada Tuhan. Salah satu bentuknya adalah pertobatan.
Bertobat adalah sikap dasar orang beriman. Dengan bertobat, seseorang selalu menganggap diri berdosa dan karena itu senantiasa memperbarui diri. Pertobatan menyempurnakan hidup keberimanan kita. Karena dalam pertobatan ada tiga unsur yang selalu saling melengkapi: mengakui perbuatan salah, menyesalinya, dan membangun komitmen untuk tak mengulangi dosa-dosa yang sama. Inilah visi kesempurnaan orang Katolik. Bukan karena ia sempurna, tapi karena selalu bertobat, selalu memperbarui diri agar semakin dekat dengan Tuhan dan menjadikan hidupnya sebagai tempat bagi Tuhan melaksanakan kehendak-Nya. Sikap ini diingatkan Nabi Yesaya kepada Raja Ahas, Raja Yehuda, saat menghadapi gempuran Raja Aram dan Raja Israel. Kedua Raja itu akan dikalahkan kalau Raja Ahas mengandalkan Tuhan dengan selalu memperbarui dirinya.
Semoga pertobatan selalu menjadi bagian inti dari hidup keberimanan kita. Amin. (Videlis Jemali, S.Fil/Koordinator Seksi Katekese Paroki Merombok).
![]()