(Am 3:1-8; 4: 11-12; Mat 8: 23-27)
Santo Yohanes Paulus II pada perayaan inaugurasinya sebagai Paus pada 1978 berkata, “Jangan takut. Bukalah pintu lebar-lebar bagi Kristus”.
“Jangan takut” atau “Non abbiate paura” dalam bahasa Latin atau “Don’t be afraid” dalam bahasa Inggrisnya kita tahu menjadi jiwa pelayanan kepausan Santo Yohanes Paulus II dalam masa baktinya. Ia mengunjungi negara-negara yang pada saat itu dicamuk Perang Dingin. Berkat prinsipnya itu pula langsung atau tidak langsung Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dari Jerman Timur runtuh dan kita mafhum bangsa itu akhirnya bersatu.
Injil Matius hari ini mengetengahkan kepada kita tentang prinsip Santo Yohanes Paulus II “Jangan takut” sebagai formula seruan dari kalimat pertanyaan Yesus: “Mengapa kamu takut….”. Yesus mempertanyakan iman para murid yang takut akan taufan di Danau Galilea, padahal mereka bersama diri-Nya. Yesus rasa-rasanya agak kecewa dengan para murid yang takut akan bahaya sementara Dia bersama dengan mereka dalam satu perahu. Kekecewaan ini muncul dalam formulasi “….kamu yang kurang percaya….”. Karena situasi tersebut, Yesus akhirnya turun tangan menenangkan angin ribut atau taufan.
Apa inspirasi iman bagi kita dari bacaan ini? Pertama, angin ribut atau taufan merupakan hal yang biasa kita jumpai dalam hidup ini. Jika kita percaya dan satu perahu dengan Tuhan Yesus, seharusnya semua itu bisa kita taklukan. Kita taklukan bukan karena kuasa kita, tapi lebih karena otoritas Yesus. Jadi, asal kita percaya dan bentuknya penyerahan diri total kepada kuasa Tuhan, tak ada badai hidup yang takan berlalu dalam pelayaran biduk kita di samudera kehidupan ini. Bukan bermaksud mencari-cari badai, tapi dengan Yesus bersama kita, kita bolehlah bergumam dalam hati “Saya tidak takut” ketika taufan atau angin ribut menghampiri perahu hidup kita.
Mungkin anjuran ini terlalu jamak disampaikan, tapi perlu terus diangkat. Karena faktanya, ketika kita menghadapi badai hidup, kita tidak lari kepada Tuhan, tetapi lari kepada tuhan (t kecil) alias kuasa dunia. Bentuknya takhyul, hiburan tidak sehat, hedonisme, dan lainnya. Alih-alih badai hidup berlalu, pelarian macam ini justru membuat badai tetap ada dan malah makin kencang. Mari, dengan rendah hati kita selalu berserah pada Tuhan. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk hidup kita mungkin tidak secara instan dan langsung, tetapi memakan waktu yang cukup panjang dan tak langsung yang di dalamnya kita berproses mencerap kebajikan dan kebijaksanaan ilahi.
Kedua, terkadang kita “tidur” meskipun bersama dengan Yesus. Iman para rasul dalam Injil tadi adalah contoh iman yang “tidur” atau mati suri. Kalau salah satu murid berani hati sedikit untuk menghentikan angin ribut dalam nama Yesus, mungkin Yesus tidak perlu bangun untuk menaklukkan angin ribut tersebut.
Iman kita sering berada di zona abu-abu seperti ini. Kita mengaku pengikut Kristus, tapi ketika ditantang atau digoda, kita jadi kecut; kita ikut arus dan tidak memberikan perbedaan sebagai pengikut Kristus sejati. Kasus-kasus ketidakadilan dan penyelewengan dalam kehidupan sosial-politik barangkali contoh bagaimana orang-orang beriman “tidur” atau ikut arus atau malah menciptakan badai untuk orang lain. Kalau kita mengaku sebagai pengikut Kristus, kita mestinya bangun dan mengoreksi sistem yang koruptif itu, meskipun taruhannya adalah penjara atau bahkan nyawa.
Perikop Injil hari ini mengingatkan kita untuk tidak punya alasan takut menghadapi badai kehidupan dan juga tidak usah takut mengungkap kebobrokan yang ada di sekitar kita. Dalam terang iman kita yakin Yesus berada dalam perahu hidup kita asalkan kita mengamalkan kata-kata Kitab Amsal: “Janganlah engkau melupakan ajaranku; dan biarkanlah hatimu memelihara perintahku; panjang umur dan sejahtera akan ditambahkan kepadamu”. Non abbiate paura!! (Videlis Jemali, S.Fil/Koordinator Seksi Katekese).
![]()