Renungan Minggu, 17 Mei 2026
Bacaan I Kis. 1: 12-14, Bacaan II 1 Ptr. 4: 13-16, Injil Yoh. 17: 1-11a
Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, Minggu Paskah VII
Waktu masih bertugas di Pateng Regho, saya sering ke Reo atau ke Ruteng melewati pastoran Paroki Kajong. Pada awalnya, setiap kali lewat depan pastoran saya selalu membunyikan klakson dan berjalan terus. Suatu kali ketika mengulangi hal yang sama, rekan imam yang melihat saya lewat dan mendengar klakson yang saya bunyikan berteriak dari pintu pastoran: “Eme hau e, cenggo kaut belm”. Maka sejak saat itu, setiap kali lewat saya berusaha untuk singgah biar sebentar. Dari teriakan rekan imam tadi, tentu kita tahu apa yang menjadi maksud serta kerinduannya. Perjumpaan dan kehadiran, sapaan langsung.
Pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 ini Paus Leo XIV juga menekankan pentingnya kehadiran penuh kasih secara nyata dalam membangun kebersamaan. Hadir dengan segenap wajah dan suara. Asli tanpa polesan. Wajah dan suara adalah ciri khas unik setiap pribadi, unsur yang paling mendasar dari setiap perjumpaan sejati. Komunikasi yang otentik mensyaratkan kehadiran dengan nama, wajah, dan suara yang nyata, bukan simulasi. Bukan dengan akun atau nama palsu, wajah hasil filter.
Dalam bacaan Pertama, Lukas mencatat peristiwa di ruang atas saat para murid kembali ke Yerusalem dari tempat di mana mereka menyaksikan Yesus naik ke surge. Menarik dalam kita itu, Lukas tidak hanya menyebut mereka secara umum, tetapi menyebut nama mereka satu per satu — Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, dan seterusnya. Mereka yang berkumpul bukan sekadar gerombolan orang tanpa identitas, melainkan pribadi-pribadi dengan nama, wajah, dan sejarah masing-masing yang hadir secara penuh bersama satu sama lain. Melalui hal ini Lukas mengajarkan perlunya sapaan langsung dan personal dalam membangun komunikasi.
Di ruang atas itu ada Maria, ibu Yesus. Lukas tidak mencatat satu kata pun yang ia ucapkan. Ia hadir -dengan dirinya, dengan wajahnya- dan kehadiran itu sendiri sudah menjadi bagian dari doa komunitas. Kehadiran Maria di ruang atas itu membuktikan bahwa diam bukan berarti absen. Kehadiran tidak hanya ditunjukkan dalam banyak kata yang diucapkan. Di era digital kehadiran tidak hanya ditunjukkan lewat klik, komentar, status atau aktivitas lain di media sosial.
Kehadiran dalam kebersamaan dengan wajah dan suara asli serta seluruh diri menjadi kekuatan bagi para murid untuk keluar dan pergi ke seluruh dunia, membawa seluruh diri mereka ke mana pun diutus. Petrus sudah mengingatkan bahwa jalan itu tidak selalu mulus. Ia mengajak mereka untuk bersukacita dalam penderitaan Kristus, karena pergi dan hadir secara penuh memang ada konsekuensinya — ada panas, ada penolakan, ada keringat — namun justru dalam kehadiran yang total itulah ada sukacita yang tidak bisa diperoleh dengan cara lain. Dalam kehadiran yang total itu mereka bisa mengenal satu sama lain, orang lain dan mengenal Allah secara personal.
Bersama para rasul Yesus telah hadir dengan seluruh diri-Nya. Kurang lebih tiga tahun Ia ada bersama mereka: jalan bersama, makan bersama, salah paham, dan berdamai kembali. Ia menyatakan nama Bapa bukan lewat pengumuman dari langit, melainkan dengan hadir sepenuhnya di tengah manusia. Ia juga mengenal mereka secara langsung dengan keaslian mereka. Ia telah mengenal mereka secara personal dan relasional, bukan sekadar memiliki informasi tentang seseorang. Pengenalan semacam ini tidak datang seketika dan tidak bisa disingkat. Ia tumbuh lewat waktu yang dilalui bersama, percakapan yang kadang tidak selesai, bahkan perdebatan kecil yang justru membuat dua orang semakin sungguh-sungguh melihat satu sama lain. Dengan hadir sepenuhnya, kita bisa sungguh-sungguh mengenal. Dan hanya dalam pengenalan yang tumbuh perlahan itulah kita menemukan hidup yang kekal — bukan di tempat yang jauh, melainkan dalam relasi yang nyata dengan Allah dan sesama.
Tantangan terbesar era digital bukan soal apakah kita punya konten yang bagus. Tantangannya adalah ini: apakah wajah dan suara yang kita tampilkan di dunia digital itu benar-benar kita? Apakah kita sudah hadir dengan diri kita yang jujur, tanpa polesan, filter atau topeng? Atau sudah menjadi versi lain — yang dibentuk oleh tekanan algoritma, oleh keinginan untuk disukai, oleh ketakutan dihakimi dan karena itu kita tidak dikenal sebagai diri kita sendiri?
Tantangan lain di era digital adalah ketika semakin banyak orang berselancar di dunia maya, orang lupa pada dunia nyata. Yang dianggap hadir hanya orang yang aktif di media: yang memberi klik, memasang story atau status, yang memberi comentar, yang mensharekan sesuatu. Fransisco Budi Hardiman pernah menulis sebuah buku yang berjudul “Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital”. Ada kecenderungan dewasa ini untuk mengabaikan orang-orang yang tidak hadir di media sosial. Padahal mereka memiliki peran penting dalam kehidupan kita dan kebersamaan kita. Perlu mencari dan menemukan orang lain secara nyata, dalam dunianya, secara pribadi dan asli.
Gereja sangat mendukung berbagai kemajuan untuk digunakan sebagai ruang evangelisasi. Ruang yang bisa dipakai untuk mewartakan kebaikan, kebenaran dan nilai-nilai injil. Paus meminta dalam penggunaan media tersebut tetap penting untuk menjaga wajah dan suara yang otentik. Ia menekankan agar dapat menggunakan media secara bijak: tidak menyerang pribadi, tidak menyebarkan hoaks, tidak menghilangkan empati, berani mendengar yang tersingkir.
Dalam tahun pastoral 2026 ini kehadiran kita dengan seluruh dan keaslian diri akan mengarahkan kita pada persekutuan sinergis. Gereja yang sinodal, solid dan solider akan terwujud dalam semangat kehadiran yang otentik seperti ini. Kita adalah wajah kita. Kita adalah suara kita. Dan kita semua terpanggil untuk menjadi jalan dan corong untuk selalu berbagi kasih dan kebaikan. (Rm. Anton Sanor, Pr)
Selamat merayakan Hari Minggu Komunikasi Sedunia. Hadirlah dengan suara dan wajah aslimu.
![]()