Hari Minggu Biasa Xi
Bacaan I: Keluaran 19:2-6a, Bacaan II: Roma 5:6-11, Injil: Matius 9:36–10:8
Kita pasti pernah menyaksikan pertandingan sepak bola, baik secara langsung maupun dari televise atau media siar lainnya. Apalagi di sepanjang pertengahan Juni-pertengahan Juli tahun ini. Kita lagi disuguhi pertandingan-pertandingan menarik dalam pergelaran piala Dunia 2026.
Ada kenyataan menarik kalau menyaksikan pertandingan sepak bola di televise atau di lapangan bola kaki, banyak orang tiba-tiba berubah menjadi pelatih. Dari pinggir lapangan atau dari kursi di rumah mereka berteriak, “Harusnya umpannya ke kiri!” atau “Mengapa tidak ditembak saja?” “Mengapa larinya kurang gesit!” Padahal kalau disuruh turun ke lapangan, mungkin baru berlari lima menit nafas sudah ngos-ngosan, lidah sudah seperti dasi dan sudah minta diganti.
Begitulah hidup. Menjadi penonton jauh lebih mudah daripada menjadi pelaku. Komentator selalu lebih jago dari pemain utama sekalipun. Kita mudah mengomentari keadaan bangsa, keluarga, atau Gereja. Kita berharap ada lebih banyak orang baik, lebih banyak pemimpin yang jujur, dan lebih banyak pribadi yang peduli. Namun tanpa sadar, Tuhan sedang bertanya kepada kita, “Kalau bukan kamu, lalu siapa?”. “Ceing keta kole, eme toe ite hoo”. Kita harus menjadi pemain inti, pemain utama dalam proyek panjang kebaikan ini.
Hari ini Injil mengisahkan bahwa Yesus memandang orang banyak dengan hati yang penuh belas kasih. Mereka seperti domba yang tidak bergembala: bingung, lelah, terluka, dan kehilangan arah. Karena itu Yesus berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.”
Kalimat ini tetap relevan hingga sekarang. Dunia kita penuh dengan orang yang haus akan kasih, penghiburan, dan harapan. Banyak keluarga bergumul dengan masalah ekonomi. Banyak anak muda kehilangan arah hidup. Banyak orang tua merasa kesepian. Banyak hati terluka karena pertengkaran, fitnah, dan egoisme. Tuaian memang banyak, tetapi Tuhan masih mencari pekerja yang mau turun ke ladang-Nya, yang penuh dengan beraneka macam situasi itu.
Dalam Bacaan Pertama, Tuhan Allah berfirman kepada bangsa Israel bahwa mereka dipilih menjadi umat kesayangan-Nya dan kerajaan imam-imam. Mereka dipilih bukan untuk merasa lebih hebat daripada bangsa lain, tetapi agar menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia.
Demikian pula kita. Menjadi orang Katolik bukan sekadar memiliki nama baptis atau rajin mengikuti Misa. Kita dipanggil menjadi saksi kasih Allah melalui hidup sehari-hari. Di rumah kita menjadi pembawa damai. Di tempat kerja kita menjadi pribadi yang jujur. Di lingkungan kita menjadi orang yang suka menolong dan membangun persaudaraan.
Bacaan Kedua semakin meneguhkan panggilan itu. Santo Paulus katakan bahwa Kristus wafat bagi kita ketika kita masih berdosa. Artinya, kasih Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna. Ia lebih dahulu mengasihi, mengampuni, dan menyelamatkan kita. Kalau Tuhan telah begitu baik kepada kita, bukankah kita pun dipanggil untuk menjadi saluran kasih itu bagi orang lain?
Dalam Injil, Yesus tidak hanya mengajak para murid untuk berdoa memohon pekerja. Ia juga mengutus mereka. Mereka diminta menyembuhkan yang sakit, menghibur yang menderita, membangkitkan harapan, dan mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat.
Perutusan itu juga berlaku bagi kita. Tidak semua orang dipanggil menjadi imam atau biarawan-biarawati, tetapi semua orang dipanggil menjadi murid Kristus. Seorang ibu yang sabar mendidik anak-anaknya, seorang ayah yang bekerja dengan jujur, seorang guru yang mengajar dengan hati, seorang petani yang bekerja dengan penuh syukur, atau seorang anak muda yang berani berkata benar di tengah tekanan—semua kita sesungguhnya sedang menjadi pekerja di ladang Tuhan.
Yang menarik, Yesus mengutus para murid dengan pesan agar mereka memberi dengan cuma-cuma, karena mereka sendiri telah menerima dengan cuma-cuma. Kebaikan sejati tidak selalu menunggu balasan. Senyum yang tulus, sapaan yang ramah, doa bagi sesama, atau uluran tangan kepada mereka yang membutuhkan sering kali menjadi mukjizat kecil yang mengubah hidup seseorang.
Kabar terindah hari ini adalah bahwa Tuhan tidak pernah mengutus kita sendirian. Dia berjalan di depan kita, menyertai langkah kita, dan memberi kekuatan saat kita merasa lemah. Ia tidak mencari orang yang paling hebat, tetapi orang yang bersedia membuka hati dan berkata, “Tuhan, pakailah saya.” Karena itu, marilah kita berhenti hanya menjadi penonton kehidupan. Jadilah pelaku kasih. Jadilah pekerja di ladang Tuhan. Hadirkan damai di tengah pertengkaran, harapan di tengah keputusasaan, dan kasih di tengah dunia yang sering terasa dingin. Untuk hal-hal baik kita harus menjadi pemain inti, pemain utama. Biarlah melalui kita kehadiran Allah dirasakan oleh semua orang. (Rm. Anton Sanor, Pr)
![]()