(Hos 8: 4-7. 11-13; Mat 9: 32-38)
Bacaan hari ini menyajikan kepada kita betapa Yesus sangat sibuk melakukan kebaikan. Setelah dua orang buta disembuhkan, dibawa lagi kepada-Nya orang bisu. Yesus pun menyembuhkan orang bisu yang disebutkan bisu karena kerasukan setan tersebut. Atas kebaikan-kebaikan tersebut orang mengagumi-Nya. Tentu saja mengagumi yang dilanjutkan dengan percaya kepada Tuhan Yesus. Namun, dalam Injil hari ini muncul sikap lain: iri hati.
Injil hari ini mengajarkan kita setidaknya tiga hal. Pertama, kita sering “bisu” karena kegelapan atau kejahatan menguasai jiwa dan pikiran kita. Akibatnya kita “bisu” dari berbuat baik, “bisu” berkata benar dan jujur, dan “bisu” dalam kegiatan-kegiatan menggereja. Penyebabnya mungkin sekali adalah kita sering menjauh dari Tuhan sehingga kuasa kegelapan yang merajai jiwa kita. Jika demikian, ada dua sikap iman yang bisa kita ambil, yakni dorongan kuat dari diri sendiri untuk pelan-pelan meninggalkan kuasa kegelapan. Hal-hal tersebut bisa dilakukan dengan sederhana melalui rupa-rupa kegiatan rohani menggereja mulai dari tingkat KBG hingga paroki. Partisipasi dalam kegiatan rohani bagaimanapun salah satu cara terbaik untuk mengusir kuasa kejahatan. Doa dan pujian kepada Allah adalah “obat” mujarab mengusir setan.
Alternatif lain kita butuh bantuan dari pihak lain seperti orang bisu yang dibawa oleh teman-temannya kepada Yesus. Orang lain di sini bisa saja istri/suami, saudara/i, rekan kerja, atau anak-anak kita. Kadang kita tidak bisa mengatasi kebisuan kita sendiri dan karena itu kita membutuhkan orang lain. Di sini, penting bagi kita untuk terbuka, sharing pengalaman dan pergulatan hidup.
Poin kedua dari Injil hari ini adalah kita sering iri hati atau malah benci kepada orang yang baik, berhasil, atau berprestasi. Ini sama seperti kaum Farisi. Entah secara terbuka atau samar-samar kita acapkali memelihara sifat jelek ini terhadap teman kantor, anggota keluarga yang, misalnya, meraih prestasi atau mendapatkan jabatan. Mungkin sekali seperti orang Farisi kita menyebar fitnah atas keberhasilan orang lain tersebut.
Injil hari ini mengajarkan kita untuk membuang jauh-jauh iri hati, kebencian atau kedengkian terhadap orang lain. Kita hendaknya bersikap positif dan proaktif atas prestasi, keberhasilan, dan kebaikan orang lain untuk kita jadikan sarana belajar dan inspirasi. Jika ini yang terjadi, dunia ini akan dipenuhi semangat positif dan kebaikan demi kebaikan akan bermunculan.
Ketiga, kita perlu berdoa untuk tumbuh dan kembang panggilan hidup membiara. Ini agar umat Allah (tuaian) terlayani dengan baik. Perkembangan umat Katolik cukup menggembirakan di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa akhir-akhir ini. Di Eropa ada semacam gerakan masif untuk kembali ke gereja. Dan itu tak lain karena karya langsung dan tak langsung dari pelayan Tuhan. Kita berdoa agar tunas-tunas panggilan terus mekar. Kita juga tidak boleh ragu-ragu untuk membuka jalan bagi anak-anak kita untuk menempuh jalan panggilan dengan mengutus mereka ke seminari. (Videlis Jemali, S.Fil). Koordinator Seksi Katekese Paroki Merombok).
![]()