Manusia jika dikecewakan terus menerus tentu mengalami perubahan psikologis yang mendalam, mulai dari mati rasa,, kelelahan emosional hingga akhirnya membangun tembok pertahanan diri yang sangat tebal dan kokoh. Bahkan jika level kekecewaan sudah sangat tinggi, energi untuk marah biasanya sudah habis, cenderung menjadi lebih banyak diam, menarik diri, bersikap “cukup tahu” dan perlahan melepaskan diri dari orang atau situasi yang menyakitinya demi menjaga mental.
Tidak dengan Allah Bapa kita! Dalam Nubuat Hosea hari ini, Allah Bapa selalu dikhianati dan dikecewakan umat Israel yang terus menerus memberontak, meninggalkan-Nya, bahkan menyembah Baal (berhala) meskipun Ia telah berbuat baik kepada mereka dengan membebaskan dan merawat mereka. Ketika Allah memanggil untuk kembali mereka semakin menjauh.
Terkait hal ini, apakah Allah membiarkan mereka? Apakah Allah mati rasa? Apakah Allah diam? Seperti kita jika sedang marah?
Tidak! ” HatiKu berbalik dari segala murka. Belas kasihan-Ku bangkit serentak” (Hos 11: 8). Allah Bapa tetap setia mengasihi. Ia mengumpamakan diri-Nya seperti seorang ayah yang mengasihi anaknya sejak kecil. Ia mengajari Efraim (Israel) berjalan, dan mendukung mereka dalam pelukan-Nya. Dia membimbing Israel keluar dari perbudakan Mesir, menarik mereka dengan tali kesetiaan dan ikatan kasih”. Allah juga digambarkan membungkuk untuk menyuapi anak-Nya. Belas kasihan-Nya bangkit dan Ia menolak untuk menyerahkan serta memusnahkan Israel (Efraim).
Itulah kasih Allah, tidak seperti kasih kita manusia yang bisa habis atau bersyarat; Dia tidak datang dengan murka yang menghanguskan melainkan untuk memulihkan dan menyelamatkan.
Sebagaimana Allah mengasihi Israel yang telah menyakiti-Nya, hari ini kita dipanggil untuk mengasihi dan mengampuni sesama tanpa syarat termasuk mereka yang telah menyakiti kita. Kita juga diajak untuk selalu setia dan sabar memelihara komitmen baik dalam keluarga, persahabatan, pelayanan maupun sabar saat menghadapi konflik.
Tentang kasih Allah yang telah dikisahkan Hosea, dalam Injil hari ini Yesus memerintahkan Murid-muridNya “Pergilah dan wartakanlah Kerajaan Surga sudah Dekat, sembukanlah yang sakit, bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah yang kusta, usirlah setan-setan! Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma berilah pula dengan cuma-cuma.
Injil hari ini mengajak kita ;
1) memberi dengan cuma-cuma; kita dipanggil untuk membagikan kasih, berkat dan pertolongan kepda sesama dengan tulus iklas, mengingat semua berkat yang kita terima dari Tuhan diberikan tanpa syarat.
2) Mengandalkan Tuhan sepenuhnya; larangan membawa bekal materi seperti emas, atau jubah ganda mengajarkan kita untuk tidak terlalu melekat pada harta duniawi. Pelayanan yang sejati didasari oleh iman dan penyerahan diri penuh bahwa Tuhan senantiasa mencukupi kebutuhan harian kita.
3) Menerima penolakan dengan lapang dada; Yesus mengingatkan kita bahwa mewartakan kebaikan tidak selalu diterima. Jika ditolak para Murid diminta mengebaskan debu dari kaki mereka. Hal ini mengajarkan kita untuk segera melepaskan kekecewaan dan menyerahkan penghakiman pada Allah.
Mari kita mengasihi sebagaimana Allah mengasihi kita. Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi dan akan senantiasa mengasihi kita. Amin
(Dian Marlina/Penyuluh Agama Paroki Merombok)
![]()