Pekan Biasa XVII, PW St. Ignatius Loyola
Bacaan 1 : Yeremia 26:1-9
Injil : Matius 13:54-58
Pernah disalahmengerti? Bagaimana jika salah paham itu berlanjut sampai kepada tindakan kekerasan, apalagi sampai mengancam nyawa kita?
Nabi Yeremia mengalami pengalaman disalahmengerti yang mengancam nyawanya. Ketika ia menyampaikan khotbah berisi perintah dari Tuhan, banyak orang yang agaknya menanggapi dengan keliru. Mereka menangkap Yeremia dan mengancam nyawanya! Namun, segala ancaman itu tidak menjadikan Yeremia gentar. Mari kita belajar dari tokoh Yeremia yang berani bersuara dan tetap setia mengerjakan panggilan Tuhan untuk memberitakan peringatan dan panggilan dari Tuhan, dengan segala risikonya. Konsekuensi menerima panggilan Tuhan adalah menjalani tantangan yang akan datang.
Kesetiaan dan tantangan mewartakan kebenaran sama juga dialami Yesus sendiri saat Ia di suatu waktu pulang ke tempat asal-Nya. Ada yang takjub mendengar-Nya, ada yang salah paham dengan-Nya, bahkan menolak-Nya.
Mengapa mereka menolak Yesus? Karena Dia anak seorang tukang kayu. Mengapa mereka tidak menghormati-Nya? Kekaguman mereka akan pengajaran-Nya berubah menjadi iri hati. Apa yg dilakukan Yesus? Ia tetap melangkah pergi, mewartakan kebenaran dari desa ke desa dan terus berbuat baik.
Lalu bagaimanakah kita? Saat ditolak, ketika diremehkan, diejek, saat disalah pahami? Masih setia atau kita meninggalkan kebenaran itu? Bagaimanakah hati kita, apakah seperti kisah orang Nazaret yang meremehkan, yang melihat latar belakang seseorang, yang penuh iri hati?
Hari ini, Tuhan mengajarkan kita, bahwa meremehkan orang hanya karena merasa mengenal dia adalah sikap yang tidak seharusnya dimiliki kita Murid-Nya. Kita mesti sadar bahwa masing-masing kita memiliki jalan hidup yang sudah diatur Tuhan sedemikian rupanya. Jangan sampai kita kemudian bertumbuh penuh iri hati yang berujung pada sikap meremehkan orang lain. Seberapa jujur kita mengakui dan menerima kelebihan sesama yang ada di sekitar kita?
Hari Yesus juga mengajak kita untuk meninggalkan situasi buruk, melangkah pergi, terus berbuat baik dan menjaga kedamaian hati, karena dengan begitu kita sudah menunjukkan suatu keberanian iman. Jangan jadikan penolakkan untuk membuat kita menyerah! Jangan kalah dengan situasi buruk! Sebaliknya kita harus menang dengan cara menunjukkan kualitas kita. Ingatlah meski manusia menolakmu hari ini, Tuhan tetap memegang Kendali masa depanmu! (Dian Marlina/ Penyuluh Agama Paroki Merombok)
![]()