PW St. Bonavantura.
Bacaan 1 :Yesaya 10:5-7.13-16
Injil : Matius 11:25-27
Hari ini Injil mengingatkan kita tentang pentingnya semangat seperti “Anak Kecil”yg rendah hati dalam menerima kebenaran Allah. Kebenaran sering kali disembunyikan dari orang yg merasa pintar tetapi dinyatakan kepada orang sederhana. Semangat ini melekat sempurna dalam sosok Santo Bonaventura yg diperingati setiap tanggal 15 Juli.
Sekilas tentang sosok Santo Bonaventura; Ia dikenal seorang teolog besar Gereja. Dalam karya agungnya Itinerarium Mentis in Deum (Perjalanan Jiwa Menuju Allah), Bonaventura menggambarkan pendidikan adalah panggilan Iman, yg prosesnya melibatkan akal, kehendak, dan kasih untuk bersatu dengan Sang Kebenaran Sejati. Baginya pendidikan tidak boleh terlepas dari Kristus, karena di dalam Dialah segala pengetahuan menemukan makna terdalamnya. Dan jika, orang bertanya darimana ia mendapatkan kepandaiannya, ia menunjuk salib Yesus: “Dari Dia! Saya mempelajari Yesus yang disalibkan”. Di tengah dunia yang sering membanggakan gelar dan kecerdasan, Santo Bonaventura hadir sebagai pengingat bahwa pengetahuan tanpa kasih hanyalah bunyi nyaring tanpa jiwa. Ia bukan sekadar seorang teolog, melainkan seorang murid sejati Salib. Ia belajar, mengajar, dan memimpin dengan roh doa dan kerendahan hati yang mendalam.
Santo Bonaventura, Mengingatkan kita tentang keutamaan kerendahan hati sebagai jalan menuju keselamatan, kekudusan serta kelegaan hati Bersama Allah. Injil hari ini menggemakan semangat hidupnya, dimana Yesus bersyukur kepada Bapa karena telah menyembunyikan kebenaran dari orang bijak dan pandai namun, mengungkapkannya kepada orang-orang sederhana. Santo Bonaventura dengan kecerdasan intelektualnya yang luar biasa memilih jalan kerendahan hati karena pelayan harus bisa memahami bahwa hikmat yang sejati tidak hanya diperoleh melalui olah pikir semata, tetapi juga melalui hati terbuka dan penyerahan diri kepada Allah. Seperti yang diungkapkan Yesus ‘Pengenalan akan Bapa lebih mudah diterima oleh mereka yang tidak mengandalkan kepandaian duniawi”.
St. Bonaventura bersaksi bagaimana ia menimba kasih Allah. Ia senantiasa berusaha memandang salib dan merenungkan sengsara Yesus. “Luka-luka Yesus serupa anak panah yang sanggup menoreh hati yang paling keras dan serupa api menyala yang membakar jiwa-jiwa yang paling dingin sekalipun.” Siapapun yang merenungkan sengsara Yesus sang Penebus pada kayu salib, mustahil menyerah kepada dosa.
Sungguhkah kita telah mengasihi Allah?
Hari ini, di zaman yang penuh polarisasi dan kesombongan pengetahuan, Santo Bonaventura mengajak kita: belajar bukan untuk unggul, tapi untuk mengasihi; memimpin bukan untuk mengatur, tapi untuk membasuh kaki; dan menyatukan bukan dengan argumen, tapi dengan pengorbanan.
Mari meneladani Bonaventura, yang hidupnya menjadi jembatan kasih antara ilmu dan doa, antara dunia dan Surga. (Dian Marlina/ Penyuluh Agama katolik)
![]()