Korintus 4:7-15, Injil Matius 20:20-28
Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Rasul Paulus dalam 2 Korintus 4:7-15 mengingatkan bahwa kita hanyalah bejana tanah liat yang rapuh, tetapi di dalam diri kita tersimpan harta yang sangat berharga yaitu kuasa Allah. Kerapuhan bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan kesempatan agar kemuliaan Allah semakin nyata. Paulus mengalami penderitaan, penolakan, bahkan ancaman maut, tetapi ia tetap setia karena yakin bahwa hidupnya dipakai Tuhan untuk membawa kehidupan bagi banyak orang. Dari sini kita belajar bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh kekuatan jabatan atau keberhasilannya, melainkan oleh kesediaannya menjadi alat Tuhan bagi sesama.
Semangat itu selaras dengan injil Matius 20:20-28 pada hari ini. Ketika Ibu Yakobus dan Yohanes meminta kedudukan terhormat bagi anak-anaknya, Yesus justru mengajarkan bahwa ukuran kebesaran dalam Kerajaan Allah berbeda dengan ukuran dunia. Menjadi besar bukan berarti harus dilayani melainkan melayani. Menjadi yang terdepan bukan berarti mencari pujian, melainkan rela berkorban demi kebaikan orang lain. Yesus sendiri menjadi teladan yang sempurna karena Ia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan menyerahkan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memeriksa hati. Jangan sampai kita melayani karena ingin dihormati, dipuji atau dianggap paling berjasa. Sebaliknya, marilah kita belajar menjadi bejana tanah liat yang rendah hati, yang tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri, tetapi membiarkan Tuhan berkarya melalui hidup kita. Pelayanan yang dilakukan dengan kasih, meskipun sederhana dan tidak terlihat, jauh lebih berharga di hadapan Allah daripada pelayanan yang hanya mengejar penghargaan manusia.
Kiranya melalui Ekaristi yang kita rayakan, Tuhan membentuk hati kita agar semakin menyerupai hati Kristus yang: rendah hati, setia, dan rela berkorban. Semoga dalam keluarga, lingkungan, tempat kerja dan maupun hidup menggereja, kita tidak sibuk mencari tempat yang tinggi, tetapi berlomba menjadi pelayan bagi sesama. (Yunista Kurniawati Daung/Katekis Paroki Merombok)
![]()