Bacaan I: Yeh 9:1-7;10:18-22 · Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2.3-4.5-6
Bacaan Injil: Matius 18:15-20
Bapak, Ibu, Saudara/I yang terkasih dalam Tuhan. Dalam kehidupan bersama, kita tidak pernah luput dari kesalahan dan kekecewaan. Ada kalanya perkataan seseorang melukai hati kita, tindakan seseorang membuat kita kecewa. Ketika menghadapi hal seperti ini sering kali kita diam, menjauh, bahkan membicarakan kesalahannya kepada orang lain. Namun dalam Injil hari ini (Matius 18:15-20), Yesus menunjukkan jalan yang berbeda. Yesus berkata “jika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia dibawah empat mata”. Yesus mengajarkan bahwa persoslah tidak bisa diselesaikan dengan gosip, kemarahan atau saling menjauh, tetapi dengan keberanian untuk berbicara dari hati ke hati. Menegur orang lain bukan berarti kita lebih baik atau lebih suci dari pada orang tersebut. Justru, teguran yang benar lahir dari kepedulian.
Yesus juga mengajarkan pengampunan dan usaha untuk mempertahankan persaudaraan. Dalam keluarga, komunitas, lingkungan kerja, maupun dalam kehidupan menggereja, perbedaan dan konflik tidak dapat dihindari. Tetapi konflik tidak harus berakhir dengan permusuhan. Kita boleh terluka dan kecewa, tetapi jangan jadikan luka dan kecewa jadi alasan untuk membenci. Kadang-kadang yang kita perlukan bukan orang yang mengakui bahwa kita benar, tetapi keberanian untuk menjadi orang pertama yang membuka pintu perdamaian. Sebab, Ketika kita memilih untuk berdamai, kita sedang memberikan ruang bagi kasih Allah untuk bekerja.
Pada bagian akhir injil, Yesus berkata “ Dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu aku ada ditengah-tengah mereka”. Perkataan ini meningatkan kita bahwa Yesus hadir Ketika kita berusaha membangun persaudaraan, menyelesaikan konflik dan saling mengampuni. Maka, marilah kita belajar untuk tidak cepat memutuskan hubungan hanya karena sebuah kesalahan. Jangan biarkan ego lebih besar dari pada kasih, dan jangan biarkan luka menjadi tembok yang memisahkan kita. Beranilah berbicara dengan kasih, beranilah mendengarkan dengan rendah hati dan beranilah mengampuni dengan tulus. Karena dalam persaudaraan yang dipulihkan, kita menemukan kembali wajah Kristus yang hadir ditengah-tengah kita. (Yunista Kurniawati Daung/ Katekis Paroki Merombok)
![]()