Bacaan Pertama dari 1 Raja-raja 3:5, 7-12,
Mazmur Tanggapan Mazmur 119:57, 72, 76-77, 127-128, 129-130,
Bacaan Kedua dari Roma 8:28-30,
Injil Matius 13:44-52
Romo, Para Suster, Ibu, Bapa, Saudara-saudari, Anak-anak, dan Orang-orang Muda yang terkasih dalam Kristus.
Suatu ketika, kami pernah mengadakan kunjungan di salah satu paroki di wilayah Keuskupan Maumere. Saya dan salah seorang teman menginap di rumah seorang bapa. Ia tinggal seorang diri karena istrinya telah lama meninggal dunia. Pada suatu kesempatan, kami berbincang-bincang dengannya. Teman saya yang dihantui rasa penasaran akhirnya bertanya, “Bapa, saya mau bertanya. Mama sudah pergi, tetapi mengapa Bapa tidak mencari ibu yang baru?”
Bapa itu hanya tersenyum. Kemudian ia berkata, “Frater, ketika saya bertemu dengan mama, saya baru memahami arti sejati dari mencintai. Saya jatuh cinta kepadanya. Dan sampai sekarang, saya tidak ingin bangkit untuk mencintai orang lain.”
Jawaban sederhana itu sungguh menyentuh. Ia mengingatkan kita bahwa hati manusia memiliki kekuatan yang luar biasa. Hati mampu menyimpan cinta, memelihara kesetiaan, dan menjaga kenangan yang begitu dalam. Ketika segala sesuatu dilihat dengan hati yang tulus, di sanalah cinta dapat bertumbuh dan kesetiaan menemukan kekuatannya.
Saudara-saudari yang terkasih.
Dalam bacaan pertama, Kitab Raja-raja berbicara tentang keutamaan hati. Ketika Salomo diangkat menjadi raja menggantikan Daud, ia tidak meminta kekayaan, umur panjang, atau kemenangan atas musuh-musuhnya. Ia justru berdoa: “Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang paham menimbang.” Salomo menyadari bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kekuasaan. Ia membutuhkan hati yang bijaksana. Sebab, hati yang jernih mampu membedakan yang benar dan yang salah. Hati yang tulus mampu melihat manusia sebagai pribadi yang harus dikasihi. Karena itu, hati adalah daya yang memampukan. Dari hati yang dimurnikan, kebijaksanaan bertumbuh. Dari hati yang tulus, kasih memancar. Dan dari hati yang penuh cinta, lahirlah kesediaan untuk melayani dan berkorban.
Hal yang sama ditegaskan dalam bacaan Injil. Yesus berkata bahwa Kerajaan Surga seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah menemukan mutiara yang sangat berharga, ia pergi menjual seluruh miliknya dan membeli mutiara itu. Pedagang itu menemukan sesuatu yang begitu berharga sehingga seluruh hidupnya berubah. Ia tidak lagi membagi hatinya kepada banyak hal. Ia telah menemukan sesuatu yang menjadi pusat hidupnya. Karena itu, dengan hati, ia sungguh menemukan Tuhan dalam hidupnya. Karena hati, ia mampu melepaskan kenangan, meski itu kadang amat sulit dan menyakitkan.
Saudara-saudari yang terkasih.
Dunia kita hari ini sesungguhnya sedang mengalami kemiskinan hati. Ketika hati menjadi miskin, keserakahan tumbuh. Ketika hati kehilangan kasih, pertikaian muncul. Ketika hati tidak lagi mampu melihat penderitaan sesama, manusia dapat menjadi begitu mudah melukai dan mengorbankan orang lain. Orang yang miskin hati sulit mencintai. Ia sulit mengampuni. Ia sulit melayani. Ia sulit berkorban dan memberikan diri bagi Tuhan dan sesama. Karena itu, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk kembali menata hati. Ketika keserakahan mulai tumbuh, marilah kita kembali memeluk rasa cinta. Ketika kesetiaan mulai memudar, marilah kita kembali kepada ketulusan sama. Sebab sebagaimana ditegaskan oleh Paus Fransiskus, hati adalah tempat ketulusan, tempat di mana tipu daya dan penyamaran tidak memiliki tempat. Karena itu, apabila kita kembali kepada hati, di sanalah cinta dan ketulusan akan menemukan tempat. Apabila kita kembali kepada hati, damai dan kesetian mengakar kuat.
Karena itu, marilah berpulang kepada hati kita. Sebab, di mana hati berbicara, di situ Tuhan berucap atas nama cinta. Semoga Tuhan memberkati kita, amin. (Diakon Ican Pryatno, Pr)
![]()