Peringatan Santu Karolus Lwanga dan kawan-kawan, Martir
Bacaan I : 2 Tim 1: 1-3.6-12
Injil : Mrk 12: 18-27
Injil hari ini berkisah tentang perjumpaan Yesus dengan kelompok orang Saduki, yang tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Mereka datang dengan pertanyaan yang rumit tentang kebangkitan. Mereka menyusun cerita panjang dan berlapis-lapis untuk menguji kebenaran akan kebangkitan. Bagi orang Saduki kematian adalah akhir dari segalanya. Tidak ada kebangkitan, tidak ada kehidupan kekal.
Yesus memberikan pemahaman kepada mereka bahwa kebangkitan adalah suatu peristiwa atau keadaan hidup baru dalam dan bersama Tuhan Allah. Melalui kebangkitan, orang mengalami hidup baru dalam dan bersama Tuhan Allah. Orang ada bersama dengan Tuhan Allah. Orang hidup bersama dengan Tuhan Allah baik dalam realitas jasmaniah – duniawi di dunia sementara ini maupun dalam realitas rohaniah-surgawi setelah kematian. Kebangkitan adalah hidup baru atau hidup bersatu dalam dan bersama Tuhan Allah. Yesus juga menegaskan dengan sangat jelas bahwa Allah “bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”. Relasi dengan-Nya tidak berhenti ketika manusia meninggal, tetapi mencapai kepenuhannya dalam kehidupan kekal.
Melalui jawaban Yesus kita diingatkan untuk tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat sementara, hanya pada apa yang dapat dilihat, dimiliki, dan dinikmati sekarang. Kita diingatkan untuk juga focus pada apa yang lebih jauh, hidup kekal. Apa yang dilakukan hari ini tidak hanya berhenti pada hari saja, tetapi memiliki makna di hadapan Allah. Iman akan kebangkitan tidak hanya menyangkut keyakinan akan masa depan, tetapi juga terkait dengan cara memandang dan menjalani hidup hari ini. Orang yang yakin akan kebangkitan tidak hanya hidup untuk kepentingan sesaat. Ia akan menempatkan Tuhan sebagai tujuan hidupnya. Harapan akan kebangkitan membuat orang terus berlaku jujur, berkanjang dalam kesetiaan mengasihi, bertahan dalam kesulitan, kemauan berkorban. Kesaksian St. Karolus Lwanga dan para martir di Uganda menjadi contoh nyata iman akan kebangkitan secara nyata. Mereka hidup dalam tekanan, ancaman kematian. Mereka memilih bertahan setia kepada Kristus. Semoga doa dan teladan St. Karolus Lwanga dan kawan-kawan mendorong umat beriman untuk senantiasa setia mengusahakan hal-hal yang tidak hanya untuk kepentingan hari ini, di dunia ini, tetapi juga untuk kehidupan kekal melalui keberanian untuk senantiasa berbuat baik, benar, bagus dan sesuai dengan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari. (Rm. Anton Sanor, Pr)
![]()