Kelahiran Yohanes Pembaptis
(Bacaan: Yes 49:1-6; Kis 13:22-26; Luk 1:57-66)
Suatu malam di sebuah kota pariwisata, seorang anak muda berdiri di tepi pantai. Di belakangnya gemerlap lampu hotel, musik, tawa wisatawan, dan hiruk-pikuk kehidupan malam. Di tangannya ada ponsel penuh notifikasi, pesan pekerjaan, dan media sosial. Namun di dalam hatinya ada yang kosong.
Ia berkata dalam hati “Saya sibuk. Saya punya banyak pekerjaan. Saya harus menghasilkan uang… tapi kenapa saya merasa kehilangan sesuatu?” Ia memandang laut yang gelap, lalu berbisik “Sebenarnya saya hidup untuk apa?” ilustrasi ini bukan cerita jauh. Ini bisa menjadi cerita banyak orang hari ini. mungkin juga kita.
Hari ini kita merayakan kelahiran Yohanes Pembaptis. Dalam bacaan pertama, Tuhan berkata “Aku telah memanggil engkau sejak dari kandungan.”
Kelahiran Yohanes Pembaptis bukan sekadar kisah kelahiran seorang nabi, tetapi sebuah tanda kuat bahwa Allah bekerja dalam cara yang tak terduga melalui kesederhanaan, penantian panjang, dan ketaatan manusia. Betapa tidak, orang tua Yohanes, Zakharia dan Elisabet, sudah lanjut usia dan lama tidak memiliki anak. Dalam situasi seperti itu sebenarnya sangat mustahil. Namun disitulah kekuasaan Allah yang sangat besar dan Allah berkarya disana.
Hidup kita yang sekarang bukan kebetulan. Namun realitas hari ini berbeda. Banyak orang hidup cepat, tetapi tidak tahu arah. Bekerja keras, tetapi kehilangan makna, terhubung dengan banyak orang, tetapi merasa sendiri.
Di Labuan Bajo kota pariwisata super premium banyak sekali godaan. Godaan terbesar bukan hanya dosa, tetapi kehilangan arah hidup.
Yohanes mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah panggilan, bukan sekadar rutinitas.
Bacaan Injil menceritakan kelahiran Yohanes yang membawa sukacita yang sangat besar namun hari ini kita melihat hal yang berbeda. Dunia semakin ramai, hiburan semakin banyak, teknologi semakin canggih. Pertanyaan yang sungguh menantang adalah mengapa banyak orang mudah cemas, cepat lelah dan merasa kosong?
Dalam Kisah Para Rasul, Yohanes tampil sebagai pendahulu yang menunjuk kepada Yesus Kristus. Ia berkata “Aku bukan Dia.” Ini luar biasa. Di saat orang lain ingin dikenal, Yohanes justru berkata “Saya bukan pusatnya.”
Di zaman sekarang banyak orang ingin mencari ketenaran dan mau cepat viral, ingin diakui, ingin dipuji. Tetapi Yohanes mengajarkan hidup bukan tentang kita, tetapi tentang Tuhan.
Di kota pariwisata, kita menghadapi realitas konkret. Kejujuran sering diuji demi keuntungan, relasi bisa menjadi alat, bukan kasih, Iman bisa dikorbankan demi kenyamanan. Kadang kita tergoda berpikir semua orang juga begitu, kenapa saya harus beda?”
Tetapi Yohanes memilih untuk berbeda. Ia setia, walaupun tidak populer. Ia benar, walaupun tidak mudah. Mungkin hari ini kita merasa Lelah, kosong dan kehilangan arah, tetapi kabar baiknya adalah Tuhan tidak pernah kehilangan Kasih. Seperti Yohanes, kita dipanggil untuk Kembali, menemukan arah dan untuk menjadi terang.
Tidak perlu langsung besar. Cukup mulai dari hal kecil sperti jujur dalam pekerjaan, setia dalam doa dan saling mengasihi dalam keluarga.
Dunia akan terus ramai. Lampu akan semakin terang. Kesempatan akan semakin banyak. Tetapi ingatlah jangan sampai kita kehilangan diri kita. Belajarlah dari Yohanes Pembaptis ia tahu siapa dirinya, ia tahu untuk apa ia hidup dan ia mengarahkan hidupnya kepada Kristus.
Semoga kita pun demikian. Di tengah gemerlap dunia, tetap menjadi terang yang menunjukkan jalan kepada Tuhan. Yohanes lahir dari proses panjang, dari kesabaran, dari iman yang tidak menyerah. Dan itu menjadi teguran bagi kita. Apakah kita masih mampu menunggu Tuhan?
Ataukah kita sudah terlalu terbiasa ingin segalanya cepat?
Yohanes selalu mengajarkan hal yang berbeda bahwa “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Mungkin kita merasa kecil. Mungkin kita merasa hidup kita biasa saja.
Mungkin kita merasa tidak berarti. Tetapi ingatlah Yohanes tidak lahir di istana.
Ia lahir dalam kesederhanaan. Namun dari hidup yang sederhana itu,
Allah mengubah sejarah keselamatan. Maka jangan pernah meremehkan hidup kita. Karena bisa jadi, melalui kesederhanaan kita, melalui kebaikan kecil yang kita lakukan,
melalui kesetiaan kita yang tersembunyi Tuhan sedang mempersiapkan jalan-Nya di dunia ini. Kiranya kita tidak hanya mendengar kisah Yohanes, tetapi berani melanjutkan misinya menjadi suara di tengah dunia, menjadi terang di tengah kegelapan, dan menjadi jalan agar Tuhan semakin dikenal. (Vinsensius Patno/Katekis Paroki Merombok)
![]()