Pekan Biasa XIII
Bacaan 1 : Amos 5:14-15.21-24
Bacaan Injil : Matius 8:28-34
Amos dikenal sebagai Nabi kecil dan menonjol menjadi Gembala yang menerima panggilan Allah untuk mengkritik ketidakadilan sosial yang marak di masyarakat, termasuk perdagangan internasional dan praktik korup. Dia dipanggil sebagai nabi ketika situasi masyarakat bangsa Israel dalam keadaan yang kristis terutama dalam situasi ketidakadilan sosial.
Dalam nubuatnya, Amos menasihati kita untuk mencari kebaikan, bukan kejahatan. Pesan ini mengajarkan kita pentingnya berbuat baik dalam setiap tindakan dan memilih jalan yang benar dalam segala hal. Bukan hanya tentang menghindari melakukan kejahatan, tetapi juga aktif dalam melakukan kebaikan kepada sesama. Kemudian Amos melanjutkan dengan menyuarakan keadilan di tengah masyarakat. Ia mengajak kita untuk menghidupkan kebenaran di dalam masyarakat yang korup dan penuh ketidakadilan. Dia menegaskan pentingnya mengupayakan perubahan menuju kebaikan bersama. Kita tidak boleh berdiam diri ketika melihat ketidakadilan terjadi di sekitar kita.
Keadilan social sesungguhnya merupakan cita-cita setiap orang agar terjalin harmonisasi. Sedangkan ketidakadilan sosial adalah kebalikannya. Terjadinya ketidakadilan sosial, budaya dan ekonomi sangat potensial menjadi lapisan subur bagi tumbuhnya konflik di tengah tengah masyarakat. Apabila konflik ketidakadilan sosial terus dibiarkan, maka akan terjadi perpecahan dalam suatu bangsa, organisasi maupun gereja.
Dalam Injil Matius hari ini, dikisahkan ada dua orang yang kerasukan setan di Gadara. Mereka dianggap berbahaya oleh masyarakat karena melakukan tindakan yang tidak baik. Mereka tinggal di tempat yang tidak lazim, memiliki kekuatan yang tidak normal, menyakiti diri sendiri, keadaan mereka jadi sakit dan orang tidak berdaya untuk menolong.
Di saat sesama manusia tidak berdaya untuk menolong, Yesus datang mengusir setan dari mereka. Kata setan-setan itu “ Apa urusanMu dengan kami hai Anak Allah? Adakah Engkau datang kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya? Jika Engkau mengusir kami, surulah kami pindah ke dalam kawanan babi itu”. Kata Yesus “ Pergilah!” Seketika itu setan-setan itu masuk kedalam babi-babi itu, maka terjunlah seluruh kawanannya ke dalam jurang danau dan mati di dalam air. Melalui kejadian ini kita dapat belajar bahwa Yesus tidak ingin hidup seseorang dikuasai oleh kuasa-kuasa jahat yang mendorong mereka berbuat jahat. Setiap orang harus dikuasai hal-hal baik yang berasal dari Allah agar dalam hidup ia tidak berbuat jahat, terdorong untuk selalu dan mencari dan berbuat apa yang yang baik, karena yang baik itulah yang membuat kita hidup. (Dian Marlina, Penyuluh Agama Paroki Merombok)
![]()