Bacaan I 2Kor 9: 6-10.
Bacaan Injil Yoh: 12: 24-26
Saudara/I terkasih…
Injil hari ini menampilkan kepada kita tentang pengorbanan. Yesus mengumpakannya dengan biji gandum yang harus jatuh ke tanah dan mati lalu bertunas, tumbuh dan kembang dan pada saatnya menghasilkan bulir-bulir gandum untuk dipanen lalu diproses untuk berbagai kebutuhan primer, terutama roti. Gandum dipakai Yesus untuk menjelaskan pengorbanan karena gandum dekat dengan keseharian orang-orang zaman itu dan sangat penting perannya dalam kehidupan sosial-ekonomi. Mungkin seperti beras zaman kita.
Seperti itulah pengorbanan: sangat penting dan pasti menghasilkan buah. Yesus sendiri telah menunjukkan pengorbanan paling radikal: mati di salib untuk semua orang. Karena jalan yang sangat ekstrem itulah buahnya masih dan akan terus berlimpah: kita semua sebagai pengikut-Nya yang hingga kini berjumlah sekitar 1,5 miliar dari segelintir orang pada mulanya.
Pengorbanan selalu dan pasti punya tujuan tertentu, yang biasanya lebih mulia. Yesus berkorban demi keselamatan kita. Para pahlawan dulu mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati saat ini, meskipun akhir-akhir ini laku pengorbanan ini agak jarang ditunjukkan para pejabat kita. Karena pengorbanan itulah kita bisa menjadi orang merdeka dalam iman dan bernegara-bangsa.
Injil hari ini mengingatkan kita kembali bahwa pengorbanan merupakan salah satu keutamaan. Kita berkorban untuk keluarga kita dalam berbagai bentuknya. Ada keluarga yang berhemat agar anaknya bisa menikmati pendidikan dan itu berhasil. Itu dikehendaki Tuhan karena ada hasilnya. Kita juga berkorban untuk perkembangan gereja dengan selalu menyediakan waktu untuk tugas-tugas pelayanan dan hasilnya kita makin dekat dengan Tuhan dan sesama serta karenanya hidup kita terus membaik dari waktu ke waktu. Setiap pengorbanan yang tulus, seperti kata Santo Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Jemat di Korintus, mengikuti prinsip tabur-tuai. Kita pasti akan menuai hasil dari jerih pengorbanan kita.
Bersama Santo Laurensius, diakon dan martir, yang mengorbankan nyawanya di Koloseum Roma untuk mempertahankan iman gereja, mari kita berefleksi: Sudahkah saya berkorban dengan tulus untuk keluarga, KBG, paroki, masyarakat dan bangsa-negara ini, agar semuanya terus tumbuh, mekar, dan berbuah? (Videlis Jemali, S.Fil/Koordinator Seksi Katekese Paroki Merombok).
![]()