Renungan, 30 Mei 2026
Bacaan I: Yudas 17:20b-25
Injil: Markus 11:27-33
Selama pekan ini, ketika membaca perikop-perikop Injil yang terdaftar di dalam kalender liturgi kita, hal utama yang kita sadari secara kronologis adalah bahwa kita sedang berada bersama Yesus dalam pekan sebelum kesengsaraan dan kematian-Nya. Di antara waktu-waktu itu, Yesus mempersiapkan para murid dengan memberitahu mereka sebanyak tiga kali tentang apa yang akan Dia hadapi di Yerusalem; bahwa Dia akan diserahkan, menderita, mati lalu bangkit. Di setiap pemberitahuan itu, para murid selalu gagal memahami sepenuhnya makna dari perkataan-Nya.
Dalam Injil hari ini, para imam kepala, ahli Taurat dan Tetua bangsa Yahudi menantang Yesus: “Dengan kuasa manakan Engkau melakukan hal-hal itu?” Tiga kelompok yang mengajukan pertanyaan ini bukanlah kelompok biasa. Imam-imam kepala adalah para pengawas ibadah di Bait Suci; para ahli Taurat adalah pakar Hukum Yahudi dan para tua-tua adalah pemimpin awam yang dihormati di dalam komunitas. Ini adalah sebagian dari kelompok yang senantiasa merasa terancam dengan kehadiran dan pengajaran Yesus. Mereka memiliki kuasa di bidang-bidang tertentu itu, namun tidak memiliki wewenang untuk mengeksekusi Yesus. Karena berusaha memiliki wewenang inilah maka mereka menjadi simbol permusuhan dan kejahatan.
Pertanyaan mereka mungkin merupakan reaksi atas aksi Yesus yang mengusir para pedagang dari Bait Suci. Kita dapat merasakan ketegangan dalam alur kisah Injil itu. Para murid takut dan mereka yang ada di situ mencoba berdiri di salah satu sisi—ada yang marah terhadap Yesus, ada juga yang prihatin dengan apa yang mungkin akan terjadi atas diri-Nya.
Yesus tidak gentar. Terhadap simbol-simbol permusuhan dan kejahatan itu posisi Yesus sangat jelas. Sikap Yesus memberikan pengajaran kepada kita tentang bagaimana kita juga seharusnya berdiri di hadapan permusuhan dan kejahatan itu. Yesus tetap tenang, teguh dan jauh dari kata takut. Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang sama untuk mengungkapkan kebobrokan kelompok-kelompok tadi.
Atas pertanyaan Yesus, para pemuka agama itu tidak dapat berkata apa-apa. Menjawab dengan cara apapun akan sama dengan menggali kubur sendiri di hadapan banyak orang.
Dari skema itu dapat kita lihat bahwa kejahatan selalu tidak rasional dan penuh dengan intrik permusuhan. Yesus membaca itu dan menolak untuk ditindas olehnya, bahkan ketika langkah itu akan menimbulkan penganiayaan atas diri-Nya. Karena bagi Yesus, popularitas sebuah pendapat tidak boleh mengaburkan fakta dan kebenaran yang membangunnya. Semuanya harus dimurnikan. Sikap Yesus ini kiranya menjadi model ideal juga bagi kita ketika menghadapi kemarahan, kejahatan, tipu daya, manipulasi dan permusuhan. Jangan pernah membiarkan melankoli dan rasa takut mengecutkan kita. Jangan biarkan opini publik membuat kita mengorbankan kebenaran dan belas kasih. Hari ini kita diajak untuk merenungkan segala bentuk permusuhan dan kejahatan yang menyerang kita karena mempertahankan dan mencoba mengungkap kebenaran. Akan muncul banyak intrik yang hendak menjebak dan menjatuhkan kita. Di saat seperti itu berpalinglah kepada Yesus dan mohonlah tuntunan-Nya. Kita harus menolak godaan untuk membalas permusuhan dengan permusuhan atau dengan rasa takut. Tanggapan kita harus tetap rasional, tenang dan tegas seperti yang ditunjukkan Yesus hari ini. Semoga Tuhan senantiasa menyertai Kita. Amin.
![]()