Bacaan I: Kidung Agung 3:1-4a
Injil : Yohanes 20:1.11-18
Saudara-Saudari terkasih…
Hari ini gereja mengenang Santa Maria Magdalena atau kadang disebut Maria dari Magdala. Dalam Injil disebut, Ia adalah salah satu perempuan Yahudi yang menjadi pengikuti Yesus. Dalam Lukas 8:2-3, disebutkan Maria Magdalena salah seorang perempuan pengikut Yesus dan mendukung pewartaan Yesus dengan kekayaan yang dia punya. Jadi, Maria Magdalena kemungkinan besar dari kalangan ekonomi menengah. Maria Magdalena juga disebut ikut serta dalam jalan salib Tuhan.
Orang sering secara keliru menyamakan Maria Magdalena dengan Maria dari Betania yang datang menyeka kaki Yesus dengan minyak wangi. Padahal, keduanya sosok berbeda.
Dalam Injil hari ini, Maria Magdalena menjadi saksi kebangkitan Yesus. Setelah disebutkan secara pribadi dengan Tuhan Yesus memanggil namanya (“Maria!!”), Maria Magdalena berubah menjadi pewarta kabar sukacita dari sebelumnya orang yang sedih karena mendapati “kubung kosong”. Dari perjumpaan itu, dia bangkit mewartakan kabar gembira kebangkitan Tuhan kepada para rasul. Bayangkan, Maria Magdalena justru orang yang mewartakan kepada para rasul tentang kebangkitan Tuhan.
Dari bacaan Injil ini, kita memahami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan mengubah seseorang. Dari “kubur kosong” menjadi kebangkitan, dari keterpurukan menjadi kesuksesan, dari kesedihan menjadi kegembiraan. Namun, seperti sosok Maria Magdalena, perjumpaan dengan Tuhan tidak datang begitu saja, tetapi harus melalui usaha, kerinduan yang mendalam. Usaha kita adalah dengan setiap hari menjalani perintah Tuhan, yaitu saling mengasihi. Juga dalam usaha membangun kehidupan rohani melalui doa, kegiatan-kegiatan rohani. Itulah sarana perjumpaan kita dengan Tuhan agar hidup kita tidak menjadi “kubur kosong”.
Jika hal-hal tersebut menjadi bagian dari keseharian hidup kita, seperti kata Kidung Agung, hendaknya kita tak melepaskannya lagi. Ketika kita bersatu dengan Tuhan, kita tak boleh lepas lagi dari-Nya. Berkat akan mengalir kepada kita. Namun, berkat itu, seperti yang dilakukan Maria Magdalena, harus diwartakan kepada sesama melalui kesaksian hidup kita di tengah keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. Mari kita memperkuat kehidupan rohani kita sebagai sarana perjumpaan dengan Tuhan dan kita membagikan perjumpaan itu lewat buah-buah baik perbuatan kita kepada sesama kita. Semoga. Amin. (Serinus Handu, S.Pd/Katekis Paroki Merombok)
![]()