
Labuan Bajo, 11 Agustus 2026 — Semangat merawat keutuhan ciptaan diwujudkan melalui aksi ekologis di Pantai Binongko, Labuan Bajo, Selasa (11/08/2026). Kegiatan berupa pembersihan sampah dan penanaman mangrove ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Golo Koe 2026 yang mengusung semangat “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan.”
Kegiatan diawali dengan ibadat ekologis, yang dipimpin VIkjen Keuskupan Labuan Bajo RD Rikardus Manggu, kemudian dilanjutkan dengan aksi memungut sampah di kawasan Pantai Binongko dan penanaman mangrove. Aksi ini melibatkan umat, Gereja, pemerintah, TNI, Polri, Instansi vertical, komunitas, pegiat lingkungan, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap kelestarian lingkungan.
Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan Aksi Ekologis menyambut festival golo koe yang ke 5. tentu pemerintah memberikan apresiasi kepada semua Pihak yang memperhatikan masalah sampah. Persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama dan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
“Sampah menjadi musuh bersama. Tidak hanya pemerintah, tetapi semua pihak harus terlibat,” tegasnya.
Menurut Yulianus, kerja sama yang telah terbangun antara pemerintah dan Gereja dalam menjaga lingkungan perlu terus dilanjutkan dan diperkuat. Upaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk kepentingan masyarakat saat ini, tetapi juga untuk memastikan lingkungan yang baik bagi generasi mendatang.
Kerja sama yang baik antara pemerintah dan Gereja ini harus terus berlanjut dalam rangka menjaga ekologi ini, tidak hanya untuk kita tetapi untuk anak dan cucu kita,” ungkapnya.
Stefan Rafael dari Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, KBG Santo Damian Binongko, menjelaskan bahwa Pantai Binongko dipilih sebagai salah satu lokasi utama aksi ekologis karena memiliki ekosistem darat dan laut yang lengkap, termasuk mangrove, lamun, alga, serta berbagai biota laut. Kawasan tersebut juga berkembang sebagai bagian dari destinasi pariwisata Labuan Bajo sehingga membutuhkan perhatian bersama agar pembangunan berjalan seimbang dengan kelestarian lingkungan.
Menurut Stefan, aksi ekologis di Binongko merupakan bagian dari gerakan yang lebih besar. Berbagai kegiatan serupa juga dilakukan di sejumlah wilayah Manggarai Barat selama rangkaian Festival Golo Koe dan perjalanan Bunda Maria mengunjungi paroki-paroki.
“Kita semua ada di tempat yang kecil. Aksi kecil kita merupakan bagian dari aksi yang besar,” ujarnya.
Ia berharap gerakan yang dimulai dari Binongko dapat menginspirasi paroki, komunitas, pemerintah, dan masyarakat di berbagai wilayah untuk semakin peduli terhadap lingkungan. Krisis sampah plastik, kerusakan mangrove, hutan dan terumbu karang, serta berbagai persoalan ekologis lainnya membutuhkan gerakan bersama yang berkelanjutan.
Sementara itu, pegiat lingkungan Amat Mohan, yang telah berkecimpung dalam pelestarian lingkungan selama sekitar 23 tahun, mengapresiasi semangat kolaborasi dalam kegiatan tersebut.
“Selalu berkolaborasi, bersinergi, baik dari pihak pemerintah, NGO, maupun media untuk selalu mengabarkan tentang alam kepada seluruh jagad. Kita jaga alam, tentunya alam akan menjaga kita,” katanya.
Amat bersama komunitasnya selama ini telah melakukan penanaman dan pendampingan ekosistem mangrove di sejumlah wilayah pesisir, termasuk Rangko, Baroka, Bari, dan kawasan lainnya.
Penanaman mangrove di Pantai Binongko menjadi simbol kepedulian terhadap ekosistem laut dan pesisir Manggarai Barat. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari semangat Festival Golo Koe yang tidak hanya mengajak umat untuk melakukan perjalanan iman, tetapi juga mewujudkan iman melalui tindakan nyata merawat ciptaan.
Aksi pembersihan sampah dan penanaman mangrove di Pantai Binongko akhirnya menjadi pesan bersama bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau Gereja. Seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk merawat alam.
Apa yang dilakukan hari ini diharapkan menjadi warisan ekologis bagi generasi mendatang. Sebab, merawat alam hari ini berarti menjaga kehidupan dan masa depan anak dan cucu. (Komsos Paroki Merombok, Eka)





