Renungan Harian

Jangan Cuma Jadi orang yang tahu tentang Tuhan, tetapi jadilah orang yang mau diubah oleh Tuhan

Renungan 13 Agustus 2026


Bacaan 1: Yeh.12:1-12
Injil : Matius 18:21-19:1

Di zaman Nabi Yehezkiel Bangsa Israel merasa hidup mereka aman-aman saja. Mereka dengar peringatan Tuhan tapi menganggap semuanya masih lama terjadi. Akhirnya Tuhan menyuruh Nabi Yehezkiel melakukan aksi aneh, membawa barang-barang keluar rumah seperti orang mau mengungsi dan menggali tembok di depan banyak orang. Itu lambang bahwa penduduk Yerusalem nanti dibuang, benar-benar akan dibuang sebagai tawanan ke Babel dan kehancuran benar-benar akan datang.
Kadang kita juga begitu, tahu hidup kita mulai jauh dari Tuhan tapi merasa masih ada waktu, masih menunda berubah, masih nyaman dengan dosa yang terus dipelihara. Padahal diamnya Tuhan bukan berarti Dia tidak melihat, kadang Tuhan memberi waktu supaya kita bertobat bukan supaya kita makin keras hati. Nabi Yehezkiel mengingatkan Firman Tuhan bukan sekedar untuk didengar tapi untuk mengubah hidup. Karena ketika manusia terus menutup hati, ia perlahan menjauh dari damai yang Tuhan sediakan. Injil kemudian membawa kita pada akar dari banyak persoalan manusia, yaitu hati yang sulit mengampuni.
Dalam hidup sehari-hari, kita sering mengalami momen di mana kita sulit sekali untuk memaafkan orang lain. Terutama jika orang itu sudah menyakiti kita berkali-kali, atau bahkan tidak merasa bersalah dan tidak pernah meminta maaf. Kita pun akhirnya berkata, “Kesabaranku ada batasnya,” atau “Sudah cukup, tidak ada maaf lagi bagimu.” Namun dalam Injil hari ini, Yesus memberikan pengajaran yang sangat kuat tentang pengampunan. Ketika Petrus bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.” Ini artinya, pengampunan menurut Yesus tidak memiliki batas.
Memang bagi kita manusia, ‘mengampuni’ adalah sesuatu yang tidak mudah, dan karenanya kita perlu memohon kekuatan dari Tuhan. Sebenarnya, Tuhan Yesus tidak mengajarkan bahwa orang yang bersalah kepada kita itu harus minta maaf terlebih dahulu baru kemudian ‘layak’ kita ampuni. Alkitab menunjukkan bahwa kita harus mengampuni tanpa syarat, seperti yang diajarkan oleh Tuhan:
1) Dalam doa Bapa Kami, kita setiap kali berdoa, “Ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami…” (Mat 6: 12). 2)Pada khotbah-Nya di bukit, Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat 5:44). 3) Yesus memberikan sendiri contoh yang sempurna terhadap pengajaran-Nya ini dengan menyerahkan Diri-Nya di kayu salib. Pada saat Ia tergantung di salib, ketika tangan-Nya terentang antara langit dan bumi, Ia berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat ” (Luk 23: 34).
4) Rasul Paulus mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.” (Rom 5:8).
Maka, ketika kita merasa sulit mengampuni, ingatlah bahwa kita pun terus-menerus diampuni oleh Allah. Biarlah Roh Kudus menuntun kita agar hati kita tetap terbuka, membiarkan kasih dan pengampunan mengalir kepada siapa pun yang bersalah kepada kita. Kasih yang tak terbatas inilah yang membuat kita sungguh menjadi murid Kristus.
(Dyan Marlina/Penyuluh Agama Katolik)

Loading

Sebarkan Renungan ini!

Luangkan Waktu untuk Tuhan Hari Ini

Ambil sejenak waktu hening. Serahkan segala pergumulan, harapan, dan syukur Anda kepada Tuhan.