Renungan Harian

Jangan Jadi Besar dengan Mengecilkan Orang Lain

Renungan 11 Agustus 2026

PW St. Clara

Bacaan I : Yeh. 2:8-3:4

Matius 18:1-5, 10, 12-14

Ada seorang anak kecil yang tersesat ketika sedang bermain. Ia berjalan semakin jauh dari rumah dan akhirnya tidak tahu jalan untuk pulang. Ia mulai menangis. Orang tuanya mencarinya ke mana-mana. Mereka tidak berkata, Biarkan saja, dia yang pergi sendiri. Justru karena anak itu adalah anak mereka, mereka terus mencarinya.

Setelah beberapa waktu, sang ayah menemukan anak itu. Anak tersebut langsung berlari dan memeluk ayahnya. Ia tidak bertanya apakah ayahnya marah. Ia hanya tahu satu hal: di dalam pelukan ayahnya, ia aman.

Dalam Injil hari ini, para murid bertanya kepada Yesus, Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga? Pertanyaan itu sebenarnya sangat manusiawi. Kita sering bertanya siapa yang paling hebat? Siapa yang paling penting? Siapa yang paling dihormati? Tetapi Yesus memberikan jawaban yang tidak mereka duga. Ia memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, mereka harus bertobat dan menjadi seperti anak kecil.

Pertanyaan yang paling besar adalah mengapa harus anak kecil? Jawabannya karena anak kecil memiliki kerendahan hati, ketergantungan, dan kepercayaan. Seorang anak tahu bahwa ia membutuhkan orang lain. Ia tidak malu mengatakan, Saya tidak bisa. Ia juga percaya bahwa orang tuanya akan menolongnya.

Yesus mengingatkan kita bahwa di hadapan Allah, kita tidak menjadi besar karena jabatan, kekayaan, pendidikan, keberhasilan, atau banyaknya penghargaan yang kita miliki. Kita menjadi besar ketika kita mampu merendahkan diri, mengasihi, dan menyadari bahwa hidup kita sepenuhnya bergantung pada Allah.

Yesus kemudian memberikan gambaran tentang seorang gembala yang memiliki seratus ekor domba. Ketika satu ekor tersesat, gembala itu meninggalkan yang sembilan puluh sembilan untuk mencari yang satu. Secara manusiawi mungkin kita berpikir, Untuk apa repot-repot mencari satu ekor? Masih ada sembilan puluh sembilan.

Bagi Allah satu orang pun sangat berharga. Mungkin ada di antara kita yang hari ini merasa kecil, tidak diperhatikan, gagal, berdosa, kecewa, atau merasa tidak berguna. Injil hari ini mengatakan engkau tidak pernah terlalu kecil untuk diperhatikan oleh Allah.

Ketika kita menjauh, Allah mencari, ketika kita jatuh Allah mengulurkan tangan, ketika kita tersesat Allah membuka jalan pulang. Dan ketika kita merasa tidak layak Allah tetap memandang kita sebagai anak yang berharga.

Belajar dari Santa Klara

Teladan yang indah dapat kita lihat dalam diri Santa Klara dari Assisi. Ia memilih meninggalkan kemewahan dan kenyamanan duniawi untuk mengikuti Kristus dengan hidup sederhana, rendah hati, dan penuh kasih. Klara tidak mencari kebesaran di mata manusia. Ia justru menemukan kebesaran dalam kerendahan hati dan kesetiaan kepada Tuhan.

Ia percaya bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang kita miliki melainkan Kristus yang kita miliki dalam hati. Kehidupan Santa Klara mengajarkan kepada kita bahwa menjadi “kecil” di hadapan Allah bukan berarti hidup kita tidak berarti. Justru ketika kita mau menjadi kecil Allah dapat memakai hidup kita untuk menjadi berkat bagi orang lain. Santa Klara menunjukkan bahwa kesederhanaan bukan kelemahan. Kerendahan hati bukan kehinaan. Melepaskan diri dari keinginan untuk dipuji bukan berarti kita kehilangan harga diri. Sebaliknya, semuanya itu merupakan jalan untuk semakin dekat dengan Kristus.

Mungkin di sekitar kita ada seseorang yang sedang “tersesat” anggota keluarga yang menjauh, teman yang kecewa, seseorang yang merasa tidak diterima, atau orang yang sedang mengalami kesulitan. Jangan cepat menghakimi. Mungkin mereka tidak membutuhkan ceramah panjang. Mungkin mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau berkata Saya masih peduli kepadamu.

Yesus tidak meminta kita menjadi besar menurut ukuran dunia. Yesus mengajak kita menjadi kecil seperti seorang anak yaitu selalu rendah hati, percaya kepada Bapa, dan memiliki hati yang sederhana.Seperti Santa Klara, marilah kita belajar menemukan kebahagiaan bukan dalam pujian manusia, tetapi dalam kedekatan dengan Kristus. Sebab pada akhirnya, kita semua adalah domba yang pernah tersesat dan dicari oleh Sang Gembala.

Kerendahan hati layaknya anak kecil merupakan ciri warga Kerajaan Allah yang sejati; sikap ini menolak kesombongan dan kepentingan diri sendiri demi berserah sepenuhnya pada kehendak Allah. Kita dipanggil untuk melindungi dan mempedulikan “anak-anak kecil”  mereka yang lemah, terpinggirkan, dan mereka yang telah jatuh dari iman, karena kita dipanggil untuk menyambut mereka sebagaimana kita menyambut Kristus sendiri.

Kita juga dipanggil untuk belajar memiliki hati seperti Sang Gembala. Di sekitar kita mungkin ada orang yang sedang tersesat. Ada anggota keluarga yang menjauh, ada teman yang sedang terluka, ada orang yang merasa tidak diterima, ada seseorang yang pernah melakukan kesalahan dan kemudian dijauhi, ada orang yang secara perlahan kehilangan iman dan harapan.

Pertanyaannya apakah kita ikut mencari mereka, atau justru membiarkan mereka semakin jauh? Kadang-kadang kita terlalu cepat mengatakan dia memang begitu, dia sudah tidak bisa berubah biarkan saja. Tetapi Tuhan tidak berpikir demikian. Tapi Tuhan mencari, menunggu, dan merangkul.

Kesederhanaan bukan berarti kita tidak boleh menikmati kehidupan. Kesederhanaan berarti kita tidak membiarkan apa yang kita miliki menguasai hati kita. Kadang-kadang menjadi kecil di hadapan orang lain justru membuat kita semakin besar di hadapan Allah. (Vinsen Patno/ Katekis Paroki Merombok)

Loading

Sebarkan Renungan ini!

Luangkan Waktu untuk Tuhan Hari Ini

Ambil sejenak waktu hening. Serahkan segala pergumulan, harapan, dan syukur Anda kepada Tuhan.