Pekan Biasa XVIII
Bacaan Yer 28:1-17 dan Mat 14:13-21
Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu duduk di samping tempat tidur anaknya yang sedang sakit. Sudah beberapa malam ia tidak tidur nyenyak. Obat hampir habis. Uang di dompet tinggal beberapa lembar. Suaminya bekerja serabutan, tetapi beberapa hari terakhir belum mendapat pekerjaan. Malam itu, sang anak yang masih kecil memegang tangan ibunya dan bertanya dengan suara lirih, Mama..besok aku sembuh, kan? Sang ibu tersenyum sambil mengusap kepala anaknya. Air matanya ditahan agar tidak jatuh. Denganp pelan mamanya menjawab Iya, Nak. Tuhan pasti tolong kita. Padahal di dalam hatinya, ia sendiri sedang bertanya, Tuhan… kapan Engkau menolong kami?
Esok paginya, tidak ada keajaiban yang turun dari langit. Tidak ada uang yang tiba-tiba datang. Tetapi seorang tetangga mengetuk pintu sambil membawa makanan. Siang harinya, suaminya mendapat panggilan bekerja. Sore harinya, ada seseorang yang membantu biaya berobat anak mereka. Malam itu, sebelum tidur, anak kecil itu bertanya lagi, Mama… Tuhan memang dengar doa kita ya? Sang ibu tidak mampu menjawab. Ia hanya memeluk anaknya erat-erat sambil menangis. Ia sadar, Tuhan tidak selalu menjawab doa dengan cara yang ia bayangkan, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka sendirian. Begitulah cara Tuhan bekerja untuk manusia.
Dalam bacaan pertama, Yeremia 28:1-17, bangsa Israel lebih suka mendengar perkataan Nabi Hananya yang menjanjikan bahwa semua penderitaan akan segera selesai. Berita itu menyenangkan. Tidak perlu menunggu. Tidak perlu bertobat. Tidak perlu berubah. Tetapi Yeremia menyampaikan kebenaran yang berbeda.
Tuhan tidak sedang meninggalkan umat-Nya. Tuhan sedang membentuk mereka melalui proses yang tidak mudah. Kadang-kadang kita juga berharap Tuhan segera menghilangkan semua masalah. Kita ingin jawaban yang cepat. Kita ingin jalan yang mudah. Namun kasih Tuhan tidak selalu terlihat dalam jawaban yang instan. Kasih-Nya sering kali hadir sebagai kekuatan untuk bertahan, keberanian untuk melangkah, dan orang-orang yang Ia kirim untuk menolong kita.
Dalam Injil hari ini, Matius 14:13-21, Yesus baru saja kehilangan Yohanes Pembaptis. Hati-Nya tentu dipenuhi dukacita. Namun ketika melihat ribuan orang mengikuti-Nya, Ia tidak menolak mereka. Ia melihat orang-orang yang lapar. Para murid berkata, Suruh saja mereka pulang. Tetapi Yesus berkata, Kamu harus memberi mereka makan. Jawab muridnya, yang ada hanya lima roti dan dua ikan.
Di mata manusia, itu terlalu sedikit. Di tangan Yesus, itu menjadi cukup untuk lima ribu orang, bahkan masih tersisa dua belas bakul. Bukankah hidup kita sering seperti lima roti dan dua ikan?
Kesabaran kita tinggal sedikit, harapan kita tinggal sedikit, kekuatan kita tinggal sedikit, tabungan kita tinggal sedikit. Bahkan kadang iman kita pun terasa tinggal sedikit. Namun Tuhan tidak pernah bertanya seberapa banyak yang kita miliki. Ia hanya bertanya, maukah engkau menyerahkannya kepada-Ku?
Air mata seorang ibu dalam cerita tadi bukan karena semua masalahnya langsung selesai. Air mata itu lahir karena ia akhirnya menyadari bahwa sejak awal Tuhan tidak pernah meninggalkan keluarganya. Mungkin hari ini kita juga sedang menunggu jawaban doa. Mungkin kita lelah, kecewa, mungkin kita merasa Tuhan diam.
Kehidupan seperti ini tidak asing bagi banyak keluarga di Labuan Bajo. Ada hari ketika hasil melimpah, tetapi ada pula hari ketika usaha keras tidak menghasilkan sebanyak yang diharapkan. Dalam situasi seperti itu, orang mudah tergoda untuk mencari harapan yang instan atau mempercayai janji-janji yang terdengar meyakinkan.
Sebagai keluarga, kita sering menghadapi banyak kekhawatiran seperti biaya sekolah anak, pekerjaan yang tidak menentu, hasil panen atau tangkapan yang sedikit, harga kebutuhan yang terus naik, atau kesehatan anggota keluarga. Semua itu nyata dan tidak mudah.
Namun Tuhan mengingatkan agar kita tidak menggantungkan hati pada janji-janji yang terdengar indah tetapi kosong. Sebaliknya, Ia mengajak kita tetap setia kepada firman-Nya dan percaya bahwa Ia sanggup memelihara hidup kita. Mungkin hari ini kita merasa hidup hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Penghasilan terasa pas-pasan, tenaga mulai berkurang, atau persoalan keluarga belum selesai. Tetapi ketika semua itu diserahkan kepada Tuhan, Ia sanggup memakai yang sedikit menjadi cukup, bahkan menjadi berkat bagi orang lain.
Keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami kekurangan. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang tetap berdoa ketika hasil sedikit, tetap bersyukur ketika keadaan sulit, tetap jujur ketika banyak orang memilih jalan pintas, dan tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka.
Salib Kristus mengingatkan kita bahwa diamnya Tuhan bukan berarti tidak mengasihi. Bahkan ketika kita tidak melihat jalan keluar, Tuhan tetap bekerja. Karena itu, jangan bangun hidup di atas janji-janji yang menyenangkan. Bangunlah hidup di atas firman Tuhan yang benar. Dan jangan takut ketika yang kita miliki terasa sedikit. Di tangan Yesus, yang sedikit dapat menjadi berkat yang melimpah.
![]()