Bacaan I Yer 15: 10.16-21
Bacaan Injil Yoh 11: 19-27
Hari ini gereja sejagat merayakan pesta wajib Santa Maria, Santa Marta, dan Santo Lazarus, orang Yahudi pengikut dan sahabat Tuhan Yesus. Injil hari ini menyodorkan kepada kita ketiga bersaudara ini dalam peristiwa Yesus membangkitkan Lazarus setelah empat hari meninggal.
Marta dalam Injil hari ini digambarkan sebagai sosok yang aktif menjemput Yesus kemungkinan di gerbang masuk Betania, 3 kilometer dari Yerusalem. Ia sempat berdialog dengan Yesus tentang kematian Lazarus. Dalam dialog itu, Maria mengikrarkan imannya. Dialah orang kedua dalam Kitab Suci yang menyebut Yesus Mesias setelah Petrus, rasul Yesus.
Apa yang dilakukan Marta pada Injil hari ini merupakan pembalikan dari sikap dia sebelumnya yang lebih sibuk menyiapkan makanan untuk Yesus ketimbang mendengarkan pengajaran Yesus seperti Maria. Dalam episode itu, Yesus bahkan mengkritik Marta dan sebaliknya memuji Maria.
Di pihak lain, Maria kali ini diam saja di rumah. Ia baru menjemput Yesus saat diberi tahu Marta. Pada bagian ini, malah Maria yang pasif.
Namun, sikap-sikap berbeda dari Maria dan Marta itu tak menghalangi Yesus untuk membangkitkan Lazarus. Yesus mau menunjukkan kuasa Allah harus diperlihatkan tanpa terlalu “pusing” dengan sikap keberdosaan manusia. Lazarus, kata bahasa Ibrani yang berarti Allah (telah) menolong, menjadi tempat bagi Yesus untuk menunjukkan kemuliaan Allah. Membangkitkan Lazarus merupakan cara Yesus menunjukkan jati diri: Akulah kebangkitan dan hidup.
Saudara-saudari terkasih….
Kita adalah Maria atau Marta dalam kehidupan ini. Kita kadang sibuk dengan urusan duniawi (uang atau kebutuhan hidip, kekuasaan, ketenaran) seperti Marta. Kita lupa bahwa urusan penting lain juga adalah mengejar hal-hal surgawi seperti yang dilakukan Maria dengan menyediakan waktu mendengarkan firman Tuhan, mengikuti ekaristi, giat dalam kegiatan-kegiatan rohani.
Di lain kesempatan, kita juga sering aktif seperti Maria dalam mencari Tuhan, tapi pada titik tertentu juga pasif seperti Maria.
Iman kita mungkin menggebu-gebu di satu titik, tetapi di episode lain padam. Namun, kasih dan kuasa Allah selalu melampaui perbuatan kita. Dalam situasi tertentu, mungkin Tuhan menjadikan kita Lazarus agar kemuliaan Tuhan mau dinyatakan.
Mari kita persembahkan diri kita, sisi Maria dan Marta hidup kita kepada Tuhan. Dengan berserah, kita membiarkan Tuhan bekerja untuk dan atas diri kita seperti pada Lazarus. Yang terpenting kita membuka hati membiarkan Tuhan bekerja atas diri kita, memelihara iman akan Yesus di tengah gempuran dan dinamika hidup yang tak ringan, dengan berbagai bentuk latihan kedisiplinan rohani, seperti membaca Kitab Suci, mengikuti ekaristi, aktif dalam kegiatan di KBG dan wilayah. Dengan sikap rohani seperti itu, kita yakin bahwa apa pun situasi yang kita alami barangkali Tuhan ingin menunjukkan kuasa dan kemuliaan-Nya di sana. Semoga. Amin. (Videlis Jemali/Koordinator Seksi Katekese Paroki Merombok).
![]()