Bacaan: Yesaya 1:11-17; Mazmur 50; Matius 10:34–11:1
Suatu sore di pesisir Labuan Bajo, setelah kapal-kapal wisata kembali dari Taman Nasional Komodo, seorang wisatawan asing menghampiri seorang anak kecil yang sedang duduk di dermaga. Ia bertanya apakah kamu senang tinggal di tempat seindah ini? Anak itu tersenyum dan menjawab. “Saya senang, Om.”
Kalau begitu, pasti kamu sering naik kapal wisata? Anak itu menggeleng kepalanya dan menjawab. “Belum pernah.”. Dia bertanya lagi kepadanya. Mengapa? Anak itu menjawab Karena ayah saya hanya nelayan kecil. Kami hanya melihat kapal-kapal itu berangkat setiap hari. Wisatawan itu terdiam. Anak itu kemudian berkata lagi. Orang datang dari seluruh dunia untuk menikmati laut kami. Tetapi kami masih berjuang agar bisa hidup dari laut yang sama.
Kalimat anak itu bukanlah ungkapan kemarahan. Ia hanya menyampaikan kenyataan. Ada keindahan yang dikagumi dunia, tetapi di balik keindahan itu masih ada kehidupan yang sedang berjuang.
Saya membayangkan, bila Yesus berjalan hari ini di Labuan Bajo. Mungkin Ia juga akan menikmati keindahan ciptaan Allah. Tetapi saya yakin, pandangan-Nya tidak akan berhenti pada Pulau Padar, Pantai Pink, atau matahari terbenam yang memesona. Mata Yesus akan mencari wajah-wajah manusia dimana nelayan yang cemas karena hasil tangkapan berkurang, petani yang bergumul dengan musim yang tak menentu, keluarga yang kesulitan membiayai pendidikan anak, kaum muda yang masih mencari pekerjaan, dan mereka yang merasa tertinggal di tengah laju pembangunan. Karena bagi Yesus, manusia selalu lebih berharga daripada segala keindahan dunia.
Bacaan pertama dari Nabi Yesaya terdengar sangat keras. “Apa gunanya banyaknya kurbanmu bagi-Ku?” Kalimat ini mengejutkan. Bukankah kurban adalah bagian dari ibadah? Mengapa Tuhan justru menolaknya?
Karena pada zaman Yesaya, umat Israel sangat rajin beribadah, tetapi kehidupan sosial mereka bertolak belakang dengan doa yang mereka ucapkan. Mereka memenuhi Bait Allah, namun membiarkan ketidakadilan berkembang. Mereka mempersembahkan korban, tetapi menindas orang miskin.
Mereka mengangkat tangan dalam doa, tetapi tangan yang sama dipakai untuk mengambil hak sesama. Maka Tuhan berkata: “Basuhlah dirimu, bersihkanlah dirimu. Belajarlah berbuat baik. Usahakanlah keadilan. Belalah yang tertindas.” Artinya, Tuhan tidak mencari banyaknya doa jika doa itu tidak mengubah hati. Tuhan tidak membutuhkan liturgi yang megah apabila sesudahnya kita tetap hidup dalam kebencian, ketidakjujuran, dan ketidakpedulian.
Hari ini kita hidup di sebuah daerah yang mengalami perubahan luar biasa. Labuan Bajo dikenal dunia sebagai kota pariwisata super premium. Kita patut bersyukur Tuhan mengaruniakan kepada kita alam yang luar biasa indah.
Dampak dari julukan kota pariwisata premium adalah pariwisata berkembang, ekonomi bertumbuh, infrastruktur semakin baik. Anak-anak muda memiliki peluang kerja yang banyak yang dulu tidak pernah ada. Semua ini adalah rahmat Tuhan. Tetapi setiap rahmat selalu membawa tanggung jawab.
Pertanyaan Injil hari ini bukan seberapa maju kotamu? Tetapi Apakah kemajuan itu membuat manusia semakin bermartabat? Realitas berbicara lain dimana ada banyak keluarga yang kesulitan menyekolahkan anak, masih ada orang muda yang memiliki mimpi besar tetapi kesempatan kecil, masih ada petani yang hasil panennya tidak sebanding dengan biaya produksi, masih ada nelayan yang harus melaut semakin jauh untuk memperoleh hasil yang layak dan masih ada pekerja yang berharap diperlakukan secara adil.
Sabda Tuhan tidak mengajak kita memusuhi pembangunan, sebaliknya Sabda Tuhan mengingatkan bahwa pembangunan sejati harus selalu menempatkan manusia sebagai pusatnya. Karena keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari banyaknya hotel tetapi dari sedikitnya air mata, bukan hanya dari tingginya investasi tetapi dari luasnya keadilan dan bukan hanya dari ramainya wisatawan tetapi dari semakin baiknya kehidupan masyarakatnya.
Tuhan hari ini mengajak kita bertanya lebih dalam. Apakah pertumbuhan ekonomi juga diikuti pertumbuhan hati? Apakah kemajuan membuat kita semakin peduli kepada sesama? Ataukah justru membuat kita semakin sibuk mengejar keuntungan?
Kita mulai terbiasa berbicara tentang investasi, tetapi jarang berbicara tentang solidaritas, bangga dengan bangunan-bangunan baru, tetapi lupa membangun kepercayaan, senang melihat kota berkembang, tetapi kadang tidak melihat tetangga yang sedang kesulitan. Yang paling berbahaya bukanlah ketika kota berubah tapi ketika hati manusia menjadi keras.
Dalam Injil, Yesus berkata: “Aku datang bukan membawa damai, melainkan pedang.” Pedang yang dimaksud Yesus bukanlah senjata untuk melukai, tetapi lambang keputusan. Mengikuti Kristus berarti berani memilih yang benar meskipun tidak selalu menguntungkan. Pedang yang dimaksud Yesus bukan pedang besi melainkan pedang kebenaran. Pedang yang memisahkan antara terang dan gelap, antara kejujuran dan kebohongan dan antara kasih dan egoisme.
Mengikuti Kristus berarti berani mengambil keputusan yang benar walaupun tidak selalu mudah. Kadang kita harus kehilangan keuntungan demi mempertahankan kejujuran. Kadang kita harus berkata benar meskipun tidak popular dan kadang kita harus memilih melayani daripada dilayani. Pedang Injil selalu menuntut keberanian.
Di tengah budaya yang mengagungkan keuntungan, Yesus meminta kita memilih kejujuran dan di tengah kebiasaan mencari jalan pintas, Yesus meminta kita tetap setia pada hati nurani. Di tengah godaan untuk hanya memikirkan diri sendiri, Yesus mengajak kita membangun kesejahteraan bersama. Pedang Injil memisahkan antara iman yang hanya ada di bibir dengan iman yang hidup dalam tindakan.
Hari ini Tuhan berbicara kepada setiap kelompok dalam masyarakat. Pesan kepada para orang tua bahwa anak-anak lebih membutuhkan teladan daripada kemarahan sebab rumah yang penuh kasih akan lebih membentuk iman daripada seribu nasihat.
Kepada kaum muda agar jangan hanya mengejar pekerjaan. Kejarlah juga karakter. Karena keterampilan membawamu memperoleh pekerjaan tetapi integritas membuatmu dipercaya.
Oleh sebab itu Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat orang berkumpul tetapi Gereja harus menjadi kekuatan moral bagi masyarakat. Jika masih ada ketidakadilan Gereja harus bersuara, jika masih ada orang miskin Gereja harus hadir, jika ada keluarga yang retak, Gereja harus menjadi jembatan perdamaian dan jika kaum muda kehilangan harapan Gereja harus menyalakan harapan. Karena Gereja bukan hanya bangunan tetapi Gereja adalah kita semua.
Semoga suatu hari nanti orang-orang yang datang ke Labuan Bajo berkata “Kami datang karena alamnya indah, tetapi kami pulang karena bertemu masyarakat yang penuh kasih, jujur, adil, dan memiliki iman yang hidup.”
Pertanyaa yang besar adalah apakah Tuhan menemukan hati yang berkenan ketika Ia melihat hidup saya? Ataukah Ia hanya menemukan rutinitas keagamaan tanpa kasih dan keadilan?
Semoga Roh Kudus mengubah hati kita, agar setiap Ekaristi yang kita rayakan sungguh melahirkan hidup yang semakin menyerupai Kristus. Tuhan memberi kita keberanian untuk memilih Kristus setiap hari, sehingga Labuan Bajo tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena keindahan hati orang-orang yang tinggal di dalamnya. (Vinsen Patno-Katekis Paroki Merombok)
![]()