Renungan Harian

Allah Mengembalikan Harapan di Tengah Kehilangan

Renungan 6 Juli 2026

Bacaan: Hosea 2:13.14b-15.18-19 dan Matius 9:18-26

Suatu sore di sebuah kampung di Manggarai Barat, seorang bapak duduk termenung di beranda rumahnya. Ia adalah seorang petani. Hujan datang tidak menentu, hasil panennya menurun. Anak sulungnya ingin melanjutkan kuliah, tetapi biaya tidak mencukupi. Di sisi lain, tanah-tanah di sekitarnya mulai dijual kepada para investor. Tetangganya berkata dari pada kamu pusing jual saja tanahmu. Egnkau pasti mendapat uang yang banyak dan hartamu menjadi lebih besar. Hidupmu tidak susah lagi.

Bapak itu terdiam. Ia sadar bahwa tanah itu bukan sekadar aset ekonomi. Tanah itu adalah warisan orang tua, tempat ia belajar bekerja, tempat keluarganya bertahan hidup, dan bagian dari jati dirinya sebagai orang Manggarai. Malam itu ia berkata kepada istrinya, “Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya hanya bisa berdoa supaya Tuhan menunjukkan jalan.” Barangkali kisah ini bukan hanya kisah satu orang. Tapi kisah ini adalah kisah banyak keluarga di Kabupaten Manggarai Barat saat ini.

Ada sebuah kenyataan yang sering kita jumpai di Manggarai Barat. Di balik gemerlapnya dunia pariwisata, hotel-hotel yang megah, kapal-kapal wisata yang hilir mudik, dan semakin ramainya Labuan Bajo, masih banyak keluarga yang diam-diam memikul beban hidup.

Ada petani yang hasil panennya tidak menentu, nelayan yang semakin sulit memperoleh tangkapan, orang tua yang bekerja keras agar anak-anaknya tetap bersekolah, serta kaum muda yang bingung mencari pekerjaan yang layak. Tidak sedikit pula keluarga yang mulai kehilangan kehangatan karena kesibukan, pengaruh gaya hidup konsumtif, dan pudarnya komunikasi. Di tengah situasi seperti itu, banyak orang bertanya, “Apakah Tuhan masih memperhatikan kami?”

Sabda Tuhan hari ini menjawab dengan sangat indah. Dalam kitab Hosea, Allah berbicara bukan dengan nada menghukum, tetapi dengan bahasa cinta. “Aku akan membawa dia ke padang gurun dan berbicara dengan mesra kepadanya.”

Padang gurun bukanlah tempat yang nyaman. Padang gurun adalah lambang masa sulit, masa ketika segala kepastian hilang. Namun justru di sanalah Allah berbicara paling dekat kepada manusia. Allah tidak meninggalkan umat-Nya ketika mereka jatuh. Sebaliknya, Ia mengajak mereka kembali kepada kasihnya.

Bukankah banyak orang di Manggarai Barat sedang mengalami “padang gurun” itu? Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada usaha yang sepi. Ada keluarga yang retak. Ada anak-anak yang mulai jauh dari Gereja karena lebih tertarik pada dunia digital dan hiburan. Ada pula orang yang perlahan kehilangan kejujuran karena tergoda memperoleh keuntungan dengan jalan yang tidak benar.

Allah berkata, “Aku akan menjadikan engkau istri-Ku selama-lamanya dalam keadilan, kasih setia, dan belas kasih.” Itu artinya, Tuhan tidak pernah berhenti memulai kembali hubungan-Nya dengan manusia. Kasih-Nya selalu lebih besar daripada kegagalan kita.

Pertanyaan yang besar adalah mengapa Allah membawa umat-Nya ke padang gurun?  jawabannya karena di padang gurun manusia berhenti mengandalkan dirinya sendiri. Di padang gurun tidak ada kemewahan. Tidak ada kenyamanan. Yang ada hanyalah keheningan. Justru dalam keheningan itu Allah berbicara.

Sering kali Tuhan juga mengizinkan kita memasuki “padang gurun kehidupan”. Padang gurun bisa berupa kegagalan, penyakit,  keluarga yang mulai retak, usaha yang sepi dan kehilangan orang yang kita cintai. Namun Tuhan berkata, “Aku akan menjadikan engkau milik-Ku untuk selama-lamanya dalam kasih setia.” Artinya, penderitaan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Sebaliknya, sering kali penderitaan menjadi tempat di mana Tuhan membentuk hati kita.

Injil hari ini memperlihatkan dua kisah yang tampaknya berbeda, tetapi memiliki satu benang merah yaitu iman yang tidak menyerah. Yang pertama seorang ayah yang kehilangan anak dan kedua seorang perempuan yang selama dua belas tahun menderita pendarahan.

Mereka berbeda status sosial. Yang satu orang dihormati masyarakat dan yang satu orang dijauhi masyarakat.Tetapi mereka memiliki satu kesamaan. Mereka datang kepada Yesus dengan iman. Perempuan itu berkata dalam hatinya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Sedangkan kepala rumah ibadat berkata, “Datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atas anakku.” Mereka dua percaya sebelum melihat mukjizat dan justru karena iman itulah maka Yesus bertindak dengan kuasanya.

Kalau kita melihat kehidupan masyarakat kita hari ini, sebenarnya penyakit terbesar bukan hanya kemiskinan dan bukan pula kurangnya makanan tetapi penyakit terbesar adalah ketika manusia mulai kehilangan harapan. Ada orang yang mulai berpikir bahwa uang adalah ukuran keberhasilan, ada anak muda yang merasa harus meninggalkan kampung karena menganggap kampung tidak lagi memiliki masa depan, ada keluarga yang mulai kehilangan waktu untuk berdoa bersama karena semua sibuk bekerja dan ada pula orang yang mulai mengukur harga diri berdasarkan apa yang dimiliki, bukan berdasarkan siapa dirinya di hadapan Allah.

Hari ini ada banyak keluarga yang sedang putus asa, orang tua yang menangis memikirkan masa depan anak-anaknya, anak muda yang kehilangan arah, petani yang kecewa karena hasil panen, nelayan yang pulang dengan tangan kosong, dan pekerja yang khawatir kehilangan mata pencaharian.

Sabda Tuhan hari ini berkata kepada mereka semuabahwa  “Jangan takut. Datanglah kepada-Ku. Percayalah kepada-Ku.”Yesus hari ini mengajak kita menyentuh-Nya kembali. Mungkin bukan dengan tangan, tetapi dengan doa yang tulus, kejujuran dalam bekerja, kesetiaan dalam keluarga, kepedulian kepada sesama, dan keberanian mempertahankan nilai-nilai Kristiani di tengah perubahan zaman.

Keajaiban terbesar bukan hanya orang mati dibangkitkan atau orang sakit disembuhkan. Mukjizat terbesar adalah ketika hati manusia yang mulai mati karena egoisme dibangkitkan menjadi hati yang penuh kasih; ketika keluarga yang hampir hancur dipersatukan kembali; ketika orang yang putus asa menemukan harapan baru; dan ketika masyarakat memilih kejujuran di tengah godaan keuntungan sesaat.

Loading

Sebarkan Renungan ini!

Luangkan Waktu untuk Tuhan Hari Ini

Ambil sejenak waktu hening. Serahkan segala pergumulan, harapan, dan syukur Anda kepada Tuhan.