Renungan Harian

Introspeksi Diri

Renungan 22 Juni 2026

(1 Raj 17:5-8.13-15a; Mat 7: 1-5)

Bacaan Injil hari ini merupakan episode yang lain dari kumpulan ajaran Tuhan Yesus yang disampaikan dari bukit (Khotbah di Bukit). Perikop hari ini mengingatkan kita untuk melucuti kecenderungan dasariah kita untuk menghakimi atau menilai orang lain. Yesus menjelaskan kecenderungan ini dengan sangat baik dan faktual dengan kata-kata, yaitu “hakim”, “selumbar di mana orang lain”, “balok di mata sendiri”.

Secara biblis, “hakim” memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan orang Israel, terutama Perjanjian Lama. Hakim adalah wakil Tuhan untuk menentukan keadilan bagi orang lain. Karena sangat strategis, hakim ini dilihat sebagai wakil Tuhan.

Yesus, dengan kecederungan orang-orang pada zamannya yang berbuat tak adil, menghendaki kita tak menjadi hakim bagi orang lain. Kenapa? Karena dengan demikian kita mengatasnamakan Tuhan yang Maha Adil. Padahal, kita cenderung berbuat tidak adil dalam faktanya. Yesus menghendaki kita untuk tidak menghakimi orang lain. Artinya, benar dan salahnya perbuatan seseorang itu biarkanlah dia dan Tuhan yang tahu.

“Melihat selumbar di mata orang lain” daripada “balok di kata sendiri” adalah deskripsi yang sangat kuat tentang menghakimi orang lain. Yesus menghendaki kita untuk tak mengangkat diri kita sebagai pemegang palu/godam atas hidup orang lain. Sebaliknya, Yesus mau agar kita selalu introspeksi diri. Yesus menghendaki kita untuk selalu kembali ke diri sendiri ketimbang selalu mencari kesalahan, mengecap orang lain tidak benar, atau mengambinghitamkan orang lain. Yesus mau kita jujur terhadap diri sendiri dan bukannya munafik seolah-olah kita tanpa cacat celah dan karenanya berhak menilai dan menentukan nasib orang lain.

Perikop ini adalah salah satu titik tolak permenungan sangat mendalam tentang keutamaan hidup sebagai orang Kristen. Orang Kristen sejati tidak pertama-tama selalu menyalahkan orang lain, tetapi selalu menyalahkan diri sendiri dan karenanya berubah untuk menjadi lebih baik. Murid Kristus yang sejati adalah orang yang selalu membersihkan diri, selalu menyadari diri berdosa dan karena itu bertobat. Tidak lantas berarti kita tidak boleh menegur atau mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi hal itu dilakukan seminimal mungkin dan dalam kerendahan hati karena kesadaran kita juga tidak bersih-bersih amat. Mungkin mirip yang dilakukan janda di Sarfat, Sidon, jauh dari Israel yang tak menghakimi Elia (dari mana asal, atas dasar apa perintah dia memberikan roti, dll), tetapi menuruti kata-katanya dan karenanya dia selamat dari bencana kelaparan dan kematian.

Jika jalan instropeksi diri yang selalu kita utamakan, betapa dunia ini menjadi sangat indah karena setiap orang selalu mengoreksi diri dan hasilnya kita akan menikmati kehidupan sosal yang dilandaskan pada kebenaran, keadilan, keterbukaan. Inilah revolusi sosial dengan titik berangkat dari perubahan perilaku masing-masing kita. Mari kita pelan-pelan untuk tidak menghakimi kesalahan-kesalahan orang lain. Apalagi kalau kita tidak paham betul situasinya. Sebaliknya, mari kita selalu memperbaiki diri, mengoreksi diri, kembali ke diri kita sendiri ketika kita berhadapan dengan fakta bahwa banyak hal tak sesuai dengan ekspektasi. Barangkali ini tak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi dengan kekuatan dari Tuhan dan niat yang sungguh, kita selalu berusaha dari waktu ke waktu. Semoga. Amin. (Videlis Jemali, S.Fil/Koordinator Seksi Katekese).

Loading

Sebarkan Renungan ini!

Luangkan Waktu untuk Tuhan Hari Ini

Ambil sejenak waktu hening. Serahkan segala pergumulan, harapan, dan syukur Anda kepada Tuhan.