PEKAN BIASA XI
Bacaan 1 : 2 Raj 11:1-4.9-18.20, Injil : Matius 6:19-23
Di zaman sekarang kita mudah tergoda untuk mengejar hal-hal yang terlihat besar, kuat, dan menjanjikan keamanan. Uang, jabatan, popularitas, pengaruh, atau pengakuan dari orang lain tampak seperti sesuatu yang mampu menjamin kebahagiaan.
Kita lupa bahwa, semua itu bisa berubah dalam sekejap. Apa yang hari ini kita banggakan, besok bisa hilang.
Dalam bacaan pertama dikisahkan kekeliruan dalam menggunakan kekuasaan. Kekuasaan menjadi begitu penting sehingga seseorang rela melakukan tindakan kejam demi mempertahankan tahtanya. Ambisi yg salah membawa kehancuran bukan penolong bagi sesama.
Dalam kotbah-Nya di bukit, Yesus mengatakan “dimana hartamu berada, disitu pula hatimu berada”. Perkataan Yesus ini menunjukkan kepada saya mungkin juga kepada kita tentang kelekatan orang pada hartanya. Yesus memberi komentar tentang kemanusiaan kita yang sungguh sangat dekat dengan harta.
Yesus tidak sedang melarang kita untuk bekerja keras atau memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Yang Ia peringatkan adalah bahaya keterikatan radikal pada materi. Ketika kita menimbun harta di bumi dengan keserakahan, kita perlahan-lahan sedang membangun ilusi keamanan. Kita merasa aman karena saldo rekening, jabatan, atau aset yang kita miliki. Padahal, semua itu bisa lenyap dalam sekejap mata. Yesus menegaskan sebuah hukum rohani yang mutlak: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Jika harta kita adalah hal-hal duniawi, maka hati kita akan selalu dipenuhi kecemasan, ketakutan akan kehilangan, dan keegoisan.
“Sebab keinginan duniawi adalah celah bagi orang untuk kembali membangun persahabatan dengan dunia. Karena itu rasul Paulus memerintahkan kita untuk ‘mematikan’ semua keinginan duniawi. Kita harus bersikap tegas dan tidak boleh berkompromi sedikit pun. “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.” (1 Yoh 2:15). Kematian dari hal-hal duniawi adalah proses yang harus kita jalani seumur hidup kita, hingga Kristus mendapati kita sebagai mempelai-Nya yang tak bercacat cela.
Dalam kotbahnya, Yesus juga mengingatkan kita bahwa “Mata adalah pelita tubuh”. Cara pandang kita akan sesuatu akan menentukan seperti sikap seluruh diri kita. Cara pandang kita akan materi yang dipenuh rasa syukur akan mendorong kita untuk bersukacita dan kerelaan untuk bias membagikannya kepada sesame.
Untuk direnungkan? Apa yg kita cari di dunia ini? Sampai berapa banyak kita merasa cukup? Sampai berapa lama kita akan berpegang pada sesuatu dan kita takut melepaskannya? Seberapa berani kita melepaskan apa yg menjadi kenyamanan kita di dunia ini dan mendahulukan Tuhan dalam kehidupan kita?
Untuk kita lakukan: Mari mengikuti kehendak Yesus agar kita menggunakan harta benda dengan bijak dan adil, mengutamakan nilai-nilai kerajaan Allah daripada memperkaya diri dan jatuh dalam dosa.
Sebagaimana Tuhan telah begitu murah hati dan dermawan di dalam hidup kita, hendaknya kita pun memandang diri kita sebagai pengurus barang milik Tuhan, serta bersikap baik, murah hati, tidak pelit, dan siap sedia untuk membantu orang lain serta menjadi semakin kaya dalam kebajikan. (Dian Marlina, Penyuluh Agama Paroki Merombok)
![]()